Mahasiswa Literasi dan Sebuah Revolusi

Hot News

Hotline

Mahasiswa Literasi dan Sebuah Revolusi


Oleh : Fikri Fadh*

“Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan konfirmasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan”. (Seno Gumira Ajidarma) 1994.

Pembicaraan dan aktivitas tentang literasi sudah mulai tumbuh diberbagai daerah di Indonesia. Silahkan buka Grup Facebook Pustaka Bergerak Indonesia. Bentuk dari gerakan literasi itu sendiri dilakukan dengan berbagai macam cara. Tentunya itu disebabkan oleh siapa subjek dari gerakan tersebut. Literasi adalah gerakan milik semua bangsa. Tidak ada pewaris tunggal dari gerakan ini. Pemerintah, masyarakat dan juga swasta saling mengisi dan bersinergi untuk menggerakkan literasi.

Literasi yaitu keberaksaraan bisa membaca, menulis dan berbicara. Definisi literasi sangatlah luas, tidak hanya sekedar membaca dan menulis. Jadi tidak arif-lah jika kita hanya mendebatkan tentang sebuah definisi yang sangat luas cakupannya. Berbicara literasi, kita juga berbicara tentang sebuah proses pendidikan. Berarti jika kita bergerak dalam dunia literasi, kita juga turut serta dalam menjalankan amanah Undang-Undang, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagian besar proses pendidikan di Indonesia dimulai dari jenjang dasar hingga Perguruan Tinggi, selanjutnya akan disebut kampus.

Kampus adalah jenjang pendidikan tinggi formal dalam sebuah proses pendidikan. Segalanya diatur oleh Undang-undang, sehingga akan sangat mudah jika melakukan proses pendidikan, termasuk menggerakkan literasi. Aspek-aspek dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi keseluruhannya mencakup akan sebuah gerakan literasi. Oleh karenanya, kompenen dalam Perguruan Tinggi haruslah menjalankan amanah tersebut.

Mahasiswa dengan berbagai peran dan kemampuannya, dianggap sebagai figur penting dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Kontribusinya sangat dinanti oleh seluruh elemen bangsa, terutama dalam menjawab keresahan yang ada di masyarakat dan menjawab tantangan masa depan bangsa. Kekuatannya yang sebagai elite intelektual, dituntut untuk memberikan pemikiran cemerlang, inovasi, dan langkah pencerahan yang bisa dieksekusi dalam kehiduapan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Mahasiswa membaca realitas.

Banyak mahasiswa yang mulai meninggalkan tradisi intelektual. Tradisi tersebut seperti membaca, menulis, diskusi, penelitian dan tradisi intelektual yang lain. Meskipun itu tidak keseluruhan. Tradisi yang berkembang saat ini adalah lebih suka traveling yang Instagramebel dan banyak terjebak dalam gaya hedonisme. Hedonisme akan mengikis daya intelektual dan kritis seorang mahasiswa, yang di pundaknya tertitip amanah masa depan bangsa.

Berdasarkan survei UNESCO, meskipun saya berkali-kali menolak dan menentang survei ini menyebutkan, minat baca masyarakat Indonesia terendah se ASEAN. Dari 39 negera di dunia, Indonesia menempati posisi ke-38. Tidak kalah memprihatinkan, data UNDP menunjukkan posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta dan Suriname.

Sementara untuk kawasan Asia Tenggara hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, Kamboja dan Laos. Bagaimana mahasiswa melihat realitas ini? Saya memang selalu menolak survei tersebut. Menolak bukan dengan menyondingkan data tandingan, melainkan dengan hal yang lebih produktif, yaitu menjadi pegiat literasi. Setidaknya menjadi pegiat literasi adalah dalam rangka mengharap ridho Allah dan mengamalkan perintah Iqra’.

Melihat pergerakan literasi di Indonesia saat ini, sepertinya seluruh elemen bangsa harus melawan survei UNESCO tersebut. Bagaimana jika survei tersebut menjadi cara pandang dunia terhadap Indonesia? Negera ini hanya akan diposisikan sebagai objek, terutama dalam objek pasar dan industri. Titeni saja.

Menyadarkan kembali literasi di kalangan mahasiswa.

Perpustakaan kampus sangat ramai dikunjungi oleh mahasiswa dalam dua waktu, yaitu saat program pengenalan Kampus, dan saat menjadi mahasiswa semeter akhir. Selain itu, mahasiswa entah asyik dimana. Perpustakaan memang tidak asyik, tetapi bukan berarti disepikan, dap.

Sadar literasi di kalangan mahasiswa akan membantu dalam membentuk jati diri. Jika dalam proses pembentukan jati diri, mahasiswa dekat dengan tradisi intelektual, kita yakini, bahwa bangsa Indonesia kedepan, akan di pimpin oleh orang-orang waras. Pola pikir yang dekat dengan intelektual akan menjauhkan diri dari sikap pragmatisme. Meskipun di era susah cari kerja ini, idealisme sudah tidak laku lagi. Namun, sebagai seorang mahasiswa, alangkah baiknya jangan hanya memikirkan perut sendiri. Sudilah mengambil peran dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mahasiswa dan sebuah revolusi.

Keadaan diri kita sebagai seorang mahasiswa harus diubah. Berawal dari merevolusi cara pandang kita terhadap sebuah masa depan, bahwasannya Indonesia adalah tanggung jawab kita juga. Mahasiswa harus banyak membaca, baik membaca kata maupun realita. Menyampaikan gagasan yang inovatif untuk masyarakat, tentunya sesuai dengan bidang kemampuannya.

Bangsa ini sudah saatnya di pimpin oleh generasi literasi. Berbagi macam posisi dalam pemerintahan negara ini hanya di pimpin oleh seorang politisi. Diawali dengan menyadarkan diri akan pentingnya literasi. Memulai dengan langkah kecil dan sederhana namun massif. Memulai dekat dan membuka buku, datang kediskusi. Menulis kata demi kata gagasan yang dipunya.

Dengan memulai merevolusi diri akan pentingnya literasi, akan membuka cakrawala dalam kehidupan ini. Mahasiswa akan lebih intelek dalam menghadapi persolan bangsa, terlebih saat menjadi pengontrol kebijakan publik. Dengan kembalinya mahasiswa berperan dalam kehidupan bangsa, tidak akan sampai masyarakat Indonesia menjadi gelandangan di negeri sendiri. Bung. . .!!! di era kemajuan ini, revolusi sudah tidak dengan besi, melainkan dengan literasi. Takjil

____________
*Penulis adalah Anggota Komunitas Taktik dan Founder Komunitas Literasi Janasoe

*Editor : AR

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.