Musafir Kelana: Penulis adalah Driver

Hot News

Hotline

Musafir Kelana: Penulis adalah Driver

(WAKIL Bupati Aceh Jaya, Tgk Yusri Sofyan menabuh rapa-i bersama Pendiri dan Pembina FAMe Aceh, Yarmen Dinamika, Staf Khusus Bupati, Ir Azhar Abdurrahman, Kadis Pendidikan Aceh Jaya, Ketua MPD dan Anggota DPRK pada launching FAMe Aceh Jaya di Aula Dinas Pendidikan Aceh Jaya, Calang)

dapurpena.com - Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Aceh Jaya mengadakan pertemuan, Kamis (22/03/2018) di Taman PEMDA Aceh Jaya dengan mengangkat tema “Mengembangkan Ide dalam Membuat Novel dan Cerpen”.

Musafir Kelana bertindak sebagai narasumber. Beliau merupakan salah-satu novelis di Aceh Jaya yang telah menerbitkan 5 buku dalam dua tahun terakhir ini.
Sebelum memulai materi, Musafir Kelana mengintruksikan para peserta untuk membaca novel selama 5 menit. Selanjutnya meminta peserta mereview dan mempresentasikan apa yang telah mereka baca. Kemudian disusul dengan dialog interaktif.
Pria asal Lamno tersebut mengumpamakan penulis sebagai seorang pengemudi (driver). Langkah pertama yang harus dilakukan untuk menggerakkan mobil adalah menghidupkan mesinnya. Begitu juga dengan menulis, untuk menjadi seorang penulis hendaknya dimulai dengan menulis. Dalam dunia kepenulisan pengoperan persneling diibaratkan kemampuan penulis dalam memilih diksi yang tepat untuk disematkan dalam tulisannya. Selain itu, pengemudi juga dituntut untuk fokus dan berkonsentrasi serta lihai dalam menggerakkan setir. 

Artinya, jika sedang menulis maka harus fokus dan konsentrasi terhadap suatu tulisan yang sedang digarap serta harus membaca karya orang lain untuk menumbuhkan ide dan mengembangkannya. Sedangkan rem adalah tanda baca dan aturan kepenulisan yang mempunyai peranan penting yang tidak boleh diabaikan.

Musafir Kelana juga mengajak para peserta untuk melihat dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar.Seorang penulis harus mampu mendeskripsikan situasi, kondisi, suasana, dan tempat. Hal ini karena jika kita mampu membaca situasi dan kondisi maka akan sangat banyak ide yang berkeliaran di sekitar. Tinggal bagaimana kita mengolah dan mengembangkannya.
“Menyo takalon taman PEMDA mantong Leubeh ide, Nek-nek ide diek ateuh tanyo”ujarnya terkekeh.

Artinya (Kalau kita melihat isi Taman PEMDA saja kita akan kelebihan ide, bahkan nenek ide pun ikut mengerumuni kita.) Selain itu, Ide juga bisa dikembangkan saat sedang menulis yaitu dengan menambahkan tokoh figuran, tetapi tidak boleh lari dari konsep utamanya.
Dalam pertemuan tersebut peserta sangat antusias dalam belajar. Bahkan ada beberapa pertanyaan yang tidak sesuai dengan tema. Seperti menanyakan tentang jenis puisi yang pernah dibahas oleh Nury Riana dalam group WA FAMe Chapter Aceh Jaya malam kemarin. Meskipun beliau bukan narasumber, tetapi ia juga ikut memberikan penjelasan tentang ciri-ciri puisi heterogram yang ditanyakan oleh peserta. 
Ciri-ciri yang paling menonjol dalam puisi heterogram adalah tidak boleh terjadi pengulangan huruf yang sama dalam satu diksi sehingga menuntun penulis untuk membuka KKBI dan mencari padanan kata. Selain itu, jumlah kata dalam puisi juga dibatasi yaitu tidak kurang dari 20 kata dan tidak lebih dari 35 kata termasuk judul dan titimangsa.
Pelatihan ini dihadiri oleh 20 orang peserta dari latar belakang profesi yang berbeda, mulai dari kepala sekolah, guru, pelajar bahkan masyarakat umum lainnya. Semua peserta mencatat materi yang disampaikan oleh pemateri. Pelatihan ini berlangsung dari pukul 14.30-16.30 WIB yang diakhiri dengan melakukan foto bersama untuk dokumentasi.*/Nury Riana, Anggota Taktik Wilayah Sumatera
*Editor : Bang AR


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.