Anak, Antara Anugerah dan Beban

Hot News

Hotline

Anak, Antara Anugerah dan Beban


Oleh: Vinci Pamungkas, S.Pd

Saat hamil bulan keempat, biasanya masyarakat Indonesia mengadakan tasyakuran. Hal ini dilakukan dalam rangka mensyukuri anugerah dari Allah. Tepat saat Allah meniupkan ruh dan menetapkan qadha atasnya. Tanda syukur telah diberikan kepercayaan untuk memiliki buah hati.

Setelah melahirkan, orang tua kembali menunjukkan rasa syukur atas anugerahnya. Mengadakan prosesi aqiqah. Kambing disembelih dan dibagikan ke kerabat juga tetangga. Tak ada rasa berat mengeluarkan uang untuk membeli kambing dan membagikannya. Semua dilakukan karena rasa syukur yang tiada tara atas anugerah Allah berupa anak.

Tingkah laku anak, selalu mengundang tawa orang tua. Saat dia pertama tengkurap disambut hamdalah. Saat mulai mengoceh, orang tua sumringah. Saat mulai merangkak senantiasa dimotivasi agar bergerak lebih jauh. Demikian pula saat belajar berjalan, belajar berbicara, dst. Tak henti-hentinya orang tua berucap syukur kepada Allah. Anak adalah anugerah.

Seiring waktu, kebutuhan si buah hati makin menjadi. Popok sekali pakai butuh ratusan untuk satu bulan. Susu formula satu kaleng hanya bertahan seminggu. Pakaian cepat berganti karena tubuh yang terus meninggi. Kaos kaki, sepatu segera menjadi sempit.

Pertama masuk sekolah pengeluaran meledak. Bahkan tak sedikit orang tua yang pinjam kesana kemari demi sekolah anak. Mulai dari uang bangunan, uang seragam, uang sepatu dan kaos kaki, buku paket, lembar kerja siswa (LKS), biaya study tour dsb. Bayangkan ini  baru untuk satu anak, jika punya dua anak, lima anak, berapa budget yang harus disiapkan hanya untuk anak.

Dari fakta di atas, bisa jadi yang pada awalnya berpikir anak adalah anugerah mulai ragu. Anugerah ataukah beban? Karena ternyata mempunyai anak tidak seperti memelihara ayam. Ayam dapat diambil telurnya, dagingnya, bulunya atau dijual utuh maka orang tua mendapat keuntungan. Sedangkan manusia, dari kecil hingga dewasa terus menguras ‘modal’ dari orang tua tanpa menghasilkan ‘laba’ apapun. Kasarnya, ternak anak bukan investasi yang menguntungkan.

Jika dipandang dari untung rugi, dipandang dari kacamata kapitalis, memang anak adalah beban. Jika dihitung, maka pengeluaran orang tua bisa jadi sudah milyaran rupiah. Bahkan tak jarang anak masih membebani orang tua saat dia pun sudah memiliki anak. Maka pantaslah orang-orang Eropa lebih memilih untuk tidak memiliki anak. Atau memilih untuk memelihara anjing atau kucing saja. Di wilayah Asia, masih ada keinginan untuk memiliki anak. Namun mereka membatasi jumlahnya. Maksimal dua anak saja.

Islam memiliki pandangan yang berbeda dengan kapitalisme. Islam menyatakan dengan tegas bahwa anak bukan investasi dunia, melainkan investasi akhirat. Sesuai sabda Rasulullah SAW: “Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendoakannya” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi,Nasa’i dan Ahmad). Seluruh pengeluaran berupa materi, waktu, tenaga, dan seluruh kasih sayang untuk anak adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Agar mampu membentuk anak yang sholih dan sholihah. Semua dilakukan dengan ikhlas, hanya mengharap ridho dari Allah. Tak sedikitpun berharap anak membalas sesuai dengan yang telah orang tua berikan, apalagi memberikan lebih. Cukuplah Allah yang membalasnya.

Anak yang sholih dan sholihah adalah qurrata a’yun (penyejuk mata), penenang hati bagi orang tuanya. Ini bonus besar dari Allah yang dapat dinikmati orang tua di dunia. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al Furqaan; 74 “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. Karena anak adalah penyejuk hati maka islam menganjurkan untuk memiliki anak yang banyak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu)” (Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar)

Jadi, anak bukanlah beban. Mereka adalah anugerah terindah yang Allah berikan. Yang membebani masyarakat hari ini adalah biaya-biaya kebutuhan pokok yang terus melambung tanpa peduli rakyat mulai limbung.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.