Bukan Ibu Biasa

Hot News

Hotline

Bukan Ibu Biasa


Oleh: Lulu Nugroho*


"Suara sabuk abah memukul teh Dewi, terdengar sangat menakutkan. Aku menutupi kedua telingaku, kadang mataku. Sambil sesekali kupeluk kedua kakiku. Aku duduk sembunyi di kolong meja. Kutarik terus tubuhku ke sudut yang sempit. Berusaha tidak terlibat dengan kejadian mengerikan itu", kata sahabatku.

Kedua matanya berkaca-kaca mengenang peristiwa yang terjadi puluhan tahun yang silam. Anak kecil usia Sekolah Dasar harus mengalami kehidupan berat, sungguh sulit kubayangkan. Sampai dia bisa mengingat secara rinci, berarti memang pengalaman itu sangat berarti sehingga terekam dalam otaknya.

"Kami berdua anak angkat, aku dan teh Dewi. Mamah dan abah mendidik dan menyayangi kami berdua sebagaimana layaknya orang tua kepada anaknya", sahabatku melanjutkan kisahnya.
"Hanya saja ada perbedaan sikap antara aku dan teh Dewi. Teh Dewi seolah marah dengan sikap orang tua kandungnya, merasa dibuang. Melampiaskannya dengan seringnya dia pergi dari rumah. Berhari-hari tidak pulang dan membuat mamah cemas. Sedangkan aku berusaha berprestasi di sekolah supaya mamah dan abah bangga", kata sahabatku lagi.

Karena mereka bukan dari keluarga kaya, mamah menasehatinya agar berprestasi di sekolah. Sampai-sampai pak guru yang mirip Oemar Bakri dengan sepeda ontelnya, menulis pesan di rapot 'Baik, tingkatkan lagi. Paling tidak pertahankan prestasimu. Anak ini bisa dipercaya, pendiam dan berwibawa. Bagus, tingkatkan lagi belajarmu." Sahabatku tertawa seraya menunjukkan rapot SD-nya. 
"Mana ada ya, anak kelas IV SD berwibawa?", kelakarnya

Sahabatku memang pandai. Di usianya yang hampir 50 tahun, dia masih terlihat pandai. Kehidupan yang keras di masa lalu, memacunya untuk terus belajar. Membuatnya terbiasa untuk meng-upgrade dirinya dibanding teman-temanku yang lain.

Bukan hanya pandai. Siapapun yang kenal sahabatku akan sepakat bahwa dia orang yang lucu dan menyenangkan. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa dia mempunyai kisah hidup yang menyedihkan. Dia memperlihatkan foto masa kecilnya. Tampak gadis kecil dengan mata yang sayu, pandangan yang sedih dengan kedua sudut bibir ditarik ke bawah. 

Sahabatku mengalami masa-masa ketika dia menjadi anak yang pemalu, tidak percaya diri, penyendiri dan mudah sedih.Menjadi anak angkat adalah suatu pengalaman yang berat bagi tumbuh kembang seorang anak. Sejak kecil dia sudah diasuh orang tua angkat. Ibu kandungnya memberikan bayi merah usia 50 hari ke mamah. Karena ummi, begitu dia biasa menyapa ibu kandungnya, menikah pada usia dini dan belum siap mengasuh anak. Ummi memang bukan ibu biasa. 

Rasa marah terhadap ummi sudah dia simpan sejak masih kanak-kanak. Dia marah merasa dibuang ummi. Hinaan dan panggilan buruk yang disematkan padanya, membuatnya tau bahwa dia bukan anak kandung mamah. Betapapun rapi mamah menyimpan hal itu. Perlakuan kakek, nenek, bibi dan uwak membedakan dirinya dengan cucu atau keponakan mereka yg masih memiliki garis darah. Membuat sahabatku bertekat bahwa dia harus mampu hidup mandiri.

Perlu upaya yang luar biasa bagi sahabatku untuk mandiri dan melalui trauma dalam hidupnya.
Beruntungnya sahabatku dikaruniai mamah dan abah yang sangat baik. Sakit hati terhadap orang tua kandung, tergantikan dengan cinta kasih mamah dan abah. Mereka menyayanginya selayaknya anak kandung sendiri. Bahkan sampai SMP, beberapa saat sebelum mamah meninggal karena kanker otak, sahabatku masih tidur berdua mamah. Mamah selalu enggan melepas sahabatku tidur menginap di rumah kerabat jauh mereka. 
"Mamah sayang aku, sangat jauh dibanding ummi yang tega melepaskan anaknya," kata sahabatku.

Hari berganti, sahabatku tumbuh dalam kasih sayang mamah dan abah. Berangsur pulih pribadi sakit yang dideritanya akibat ummi. Abah  menanamkan sikap idealis, ketegasan dan disiplin. Hingga membentuk karakter sahabatku seperti itu. Menjadi sosok baru yang mandiri di dalam asuhan abah. Perlahan-lahan rasa percaya diri sahabatku mulai tumbuh dalam asuhan mereka berdua. Mamah memberikan keteduhan dan kasih sayang yang luar biasa yang tidak ada habis-habisnya. Mamah dan abah pun bukan orang tua biasa.

Sebaliknya, sebenarnya teh Dewi lebih beruntung karena masih bisa sesekali bertemu dengan saudara-saudara dan kedua orang tua kandungnya. Tapi kekecewaan teh Dewi terhadap ibu kandungnya karena merasa dibuang. Dilampiaskannya menjadi anak nakal, sehingga merepotkan mamah. Sekolah pun tanpa prestasi. Bahkan akhirnya masuk ke SMP swasta dan terpengaruh dengan pergaulan bebas.

Pergaulan bebas ini berdampak fatal. Teh Dewi dikabarkan melakukan aborsi. Tetangga dekat rumah memberi tahu, ketika melihat teh Dewi dirawat di sebuah rumah sakit. Walaupun sama-sama diasuh orang tua yang hebat seperti abah dan mamah, ternyata teh Dewi tidak bisa menjadi anak yang baik.

Hidup penuh dengan aktifitas memilih yang tiada henti. Apakah kita kemudian memilih menjadi anak yang baik, atau tidak. Menjadi orang tua yang baik, atau malah sebaliknya. Keputusannya ada pada kita. Dan itu dihisab oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sahabatku pun begitu. Dia memilih menjadi baik. Melakukan perubahan dan berprestasi sebagai hamba Allah yang bertakwa. Dan mampu membawakan peran apa saja yang dibebankan Allah di pundaknya.

Tahun 2008, sahabatku mulai ikut kajian Islam. Terbentuk kerangka yang benar tentang tugas dan fungsi seorang ibu. Tentang tanggung jawab seorang muslimah, sebagai hamba Allah. Pilihan ada padanya, mau jadi ibu seperti apa dia? Apakah seperti ummi yang abai terhadap anaknya? Atau mamah? Atau bisa jadi malah lebih hebat lagi dibanding keduanya.

Kisah nyata ini adalah ibroh buat kita. Bahwa tugas menjadi ibu, menjadi orang tua, adalah tugas yang istimewa. Untuk sebuah keistimewaan itu, dibutuhkan upaya yang juga istimewa.

Pernikahan bukanlah kisah cinderella. Upik abu yang hidupnya menderita, dalam sekejap berubah menjadi puteri raja setelah menikah dengan pangeran. Kisah seperti itu hanya ada dalam dongeng dan film-film walt disney. Di kehidupan nyata selalu ada konsekuensi dari setiap keputusan yang kita ambil. Ada upaya terus menerus ke arah kebaikan, dan itu tidak sebentar. Juga tak lepas dari pertanggungjawaban kita kelak di hadapan Allah Yang Maha Kuasa.

Perlu belajar, perlu ilmu. Juga perlu keimanan yang mantap. Karena memiliki anak sejatinya adalah memiliki tanggung jawab untuk mencetaknya menjadi generasi emas masa depan. Jadilah orang tua hebat, jadilah ibu yang luar biasa. Muslimah tangguh pencetak generasi mulia. Generasi kebangkitan Islam.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.