Depolitisasi Masjid Bukti Phobia Islam Politik

Hot News

Hotline

Depolitisasi Masjid Bukti Phobia Islam Politik


Oleh : Rut Sri Wahyuningsih
Ibu rumah tangga dan pegiat medsos

Beberapa waktu lalu opini-opini seputar depolitisasi masjid menjadi  viral di berbagai  media sosial. Diikuti dengan  gerakan dan pendapat yang sangat masif menyuarakan agar masjid “dikembalikan” pada fungsi yang sebenarnya.  Karena menjelang pemilu dan pilkada disinyalir ada beberapa pihak yang sengaja menggunakan kegiatan rutin  syiar di masjid sebagai kampanye atau yang lebih dikenal dengan politik praktis.
Kepala Staf Kepresidenan  Muldoko berpendapat, ”Sebaiknya masjid digunakan untuk menyampaikan syiar Islam. Harus dipisahkan dimana masjid itu tempat syiarnya hal-hal  yang bagus. Jangan dikotori dengan pemikiran yang menyimpang”. Hal ini disampaikannya saat di gedung Bina Graha, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta (liputan6.com/27/4/2018). Muldoko juga berpendapat bahwa pendidikan politik memang bagus untuk disampaikan ke publik. Namun jika pendidikan politik itu berubah menjadi politik praktis, itu akan sangat mengganggu. Dimana kepentingan-kepentingan menjadi apa yang diistilahkan dengan Political Civility. Akhirnya jadi tidak murni lagi sebagai syiar agamanya (detikcom/27/4/2018).
Kemudian pada tanggal 22 April lalu sejumlah relawan Jokowi luncurkan Program antipolitisasi masjid di Car Free Day (CFD) kawasan Bundaran HI, Jakarta.  Menurut  Sylvester Matunina  pimpinan gerakan tersebut, program itu dilakukan melalui ceramah dan pengajian yang digelar relawan. Para ustadz dan takmir akan berbicara mengenai Islam yang benar. Bukan Islam yang dipakai utuk tujuan tertentu yang tidak baik. Yang pasti ustadznya nasionalis dan benar-benar paham agama, begitu imbuhnya.
Alangkah ironisnya negeri ini, mereka yang mengaku muslim justru mengeluarkan pendapat yang ahistoris. Seakan-akan ada pemahaman Islam yang lain. Padahal yang dia sembah adalah Allah yang satu. Sebagaimana yang dilakukan oleh jutaan muslim yang lain. Terlebih lagi, seseorang yang notabene bukan muslim justru berani menggagas gerakan yang seakan-akan berasal dari Islam padahal bertentangan secara keseluruhannya. Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Nasrulah Narada mengatakan adanya gerakan dan seruan antipolitisasi masjid ini justru kontraproduktif. Menimbulkan keresahan umat Islam. Sebab, hal itu malah menyempitkan fungsi masjid. Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah tapi juga berfungsi sebagai tempat untuk menyelesaikan berbagai persoalan umat. Dari mulai ekonomi, social, budaya, bahkan politik (Eramuslim.com/5/5/2018). Posisi masjid dalam Islam, sentral ibadah. Pusat aktivitas politik dan perjuangan.
Hari ini tak bisa dipungkiri bahwa Islam akan menemui kejayaannya kembali. Terbukti bangkitnya Islam politik adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hegemoni kapitalis. Para kapitalis ini sadar bagaimana keadaan mereka jika Islam kembali di pegang teguh oleh pemeluknya. Tidak hanya sebagai akidah pengatur ibadah saja tapi juga sebagai rujukan berpolitik untuk menyelesaikan persoalan umat.
Maka wajib bagi kaum muslim untuk merevitalisasi fungsi masjid sebagaimana yang seharusnya. Karena memang Islam tidak memisahkan agama dari urusan kehidupan bermasyarakat, termasuk politik. Politik (as-siyasah) adalah bagian integral dari Islam. Al-Islam din wa minhu ad-dawlah, Islam adalah agama dan politik adalah bagian dari agama. Politik diartikan sebagai pengaturan urusan-urusan masyarakat dalam dan luar negeri berdasarkan syariah Islam. Politik ini dilakukan langsung oleh Negara Islam (Khilafah) serta diawasi oleh individu dan rakyat.  Sebagaimana ditegaskan oleh imam Al-Ghazali, “Agama adalah fondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berfondasi niscaya akan runtuh dan segala sesuatu yang tidak ada penjaganya akan hilang (Al-Ghazali, al-Iqtishad fi Al- Itiqad).
Fungsi masjid pada masa Rasulullah sangat vital. Hal pertama yang dilakukan Rasulullah ketika berhijrah ke madinah adalah mendirikan masjid. Yang hari ini kita kenal dengan masjid Quba. Di masjid inilah Rasulullah sejak hari pertama melaksanakan shalat, ibadah-ibadah nafilah dan kemudian berlanjut  pengajaran Islam, nasihat dan pidato kepada kaum muslim. Di masjid ini juga Rasulullah bertindak sebagai hakim yang memutuskan ragam persengketaan, bermusyawarah dengan para sahabat, bahkan hingga mengatur siasat perang dan bernegara. Ringkasnya masjid adalah basis politik dan pusat pemerintahan  islam. Setelah Rasulullah wafat para khulafaur rosyidin tetap melanjutkan fungsi masjid sebagaimana dahulu, demikian pula setelah wilayah daulah islam makin meluas ke negeri-negeri yang telah tunduk kepada kekuasaan Islam, masjid tetap difungsikan sama.
Sekali lagi wajib bagi kaum muslimin untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana dahulu pada masa  Rasulullah. Bukan sekedar tempat shalat. Masjid harus dimakmurkan oleh kaum muslim yang beriman sebagaimana firman Allah swt berikut:
“Sungguh yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang mengimani Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) kecuali Allah. Merekalah yang diharapkan masuk kedalam golongan orang-orang  yang mendapat petunjuk” ( QS At-taubah 9:18).
Oleh karena itu jangan sampai kita membiarkan masjid “dimakmurkan” oleh orang-orang yang disatu sisi menolak politisasi masjid, tetapi disisi lain justru menjadikan masjid sebagai ajang pencitraan menjelang pilkada ataupun pilpres. Wallahu a’lam bish showab.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.