HUJAN TERAKHIR

Hot News

Hotline

HUJAN TERAKHIR


Karya Akbar T Mashuri

Awan hitam menyelimuti kota Jogja. Guntur bersahutan menyapa, mengusik ketenangan hatinya. Hujan turun begitu deras. Hulya takut, teringat kejadian yang menimpanya. Kejadian yang membuat dirinya harus menangis dalam relung kesedihan.

Hari ini hari yang ditunggu-tunggu oleh Hulya. Gadis jelita yang masih duduk di bangku perkuliahan semester 3. Ia sedang menunggu teman-temannya untuk mengikuti lomba. Perjuangan yang ditempuh Hulya selama ini memang terbilang tidak mudah untuk dilewati.
“Bagaimana Hulya, kamu sudah siap?” tanya Bu Hanum selaku pembimbing Hulya.

“Iya Bu, Hulya sudah siap,” tanganya masih gemetar, tapi itu bukan menjadi masalah baginya. Meski ini bukan pertama kalinya ia berada di panggung, namun tetap saja ia merasakan sedikit ada demam panggung.
Bu Hanum memegang pundak Hulya sembari mengatakan, “Sudah, kamu tenang saja. Jangan terlalu memikirkan yang berlebih. Untuk saat ini kamu fokus lomba dulu, kalah atau menang itu urusan belakang. Yang terpenting adalah kamu sudah memberikan yang terbaik.”

Ucapan Bu Hanum seperti ada efek sihir di dalamnya, pasalnya perasaan Hulya sudah mulai membaik, dan ia sudah siap untuk berjuang.

Dengan rasa percaya diri ia melangkahkan kakinya, lalu ia duduk. Tarik nafas yang dalam, lalu ia melantunkan suara yang indah. Penonton terhening melihat gadis jelita itu. Suaranya yang syahdu membius seluruh penonton yang ada. Ia seperti penyihir saat sudah berada di atas panggung.

Hulya sudah berjuang sekuat tenaga, seluruh kemampuannya sudah ia kerahkan semua. Alhamdulillah, ia mendapatkan apa yang ia harapkan, yakni juara satu.
Hati Hulya benar-benar senang, pasalnya hadiah ini bukan dipersembahkan untuk ia semata. Melainkan untuk ibundanya yang sedang  sakit kanker stadium 4. Kemungkinan kecil untuk sembuh dari penyakit yang diderita. Ia hanya bisa berdo’a saja, apa yang terbaik bagi Ibu dan keluarganya.

Hulya anak ke 1 dari 3 bersaudara. Adiknya masih duduk dibangku SMA dan SD. Melihat kenyataan itu, beban ia semakin berat untuk menghidupi keluarganya.

“Assalamu’alaikum,” Hulya sudah berada tepat di depan pintu rumah, sembari melihat Ibunya yang tengah duduk di tengah ruang tamu melihat saluran televisi, acara berita.
“Wa’alaikumsalam. Eh, Hulya. Sudah pulang nak.”
“Iya, Bu. Coba Ibu lihat apa yang Hulya bawa ini.”
“Memang kamu bawa apa nak?” Ibunya penasaran apa yang Hulya bawa, tidak seperti biasanya tingkah laku Hulya seperti ini.

Hulya menunjukkan piala yang ia peroleh dari perlombaan itu. Dengan bahagia ia memeperlihatkan hasil dari kerja kerasnya untuk perlombaan itu. Ia tersenyum bahagia menatap Ibunya.
Ibu Hulya terdiam entah apa yang sedang difikirkan. Terdiam cukup lama, linangan air matanya sudah membahasi pipinya, tak kuasa untuk menahanya. Dengan keadaan seperti itu, Ibunya hanya bisa duduk di kursi roda.
“Alhamdulillah, nak. Ibu bersyukur sekali, melihatmu tumbuh dan berprestasi begini. Ibu bangga kepadamu,” tangan kanannya memegang kursi roda, dan tangan kirinya mengusap air matanya.
“Sudah, Ibu jangan bersedih lagi. Hulya tak ingin melihat Ibu bersedih. Ibu juga harus berusha keras untuk terus hidup, menemani Hulya dan adik-adik. Hulya tidak ingin Ibu pergi,” Hulya juga tak kuasa memendam air matanya. Ia menyeka air matanya segera agar Ibunya tidak melihatnya bersedih.

Dari belakang suara ibu dan Hulya terdengar oleh adik-adiknya. Mereka datang ke depan, tempat di mana Ibu dan Hulya berada. Tatkala datang dan melihat Ibunya sedang berlinangan air mata mereka ikut bersedih.
“Kenapa? Kenapa Ibu kok menangis? Hayo mbak Hulya ngelakuin apa sama Ibu? Sampai Ibu jadi nangis begini,” goda adik-adiknya.
“Lha iya, mbak Hulya ini bagaimana sih..,” adik yang paling kecil ikut-ikutan dengan kakanya.
“Eh, Eh. Kok semua jadi nyalahin mbak. Adik juga iku-ikutkan lagi.”
“Iya, lagian. Yang di sini kan cuma ada mbak Hulya saja. Jadi yang disalahin ya mbak Hulya lah.”
“Betul itu kak. Lha, lha mbak Hulya nakal bikin Ibu nangis,” dengan wajah lucu dan lugunya si kecil menggoda Hulya.
“Eh, apasih kalian ini. Tanya saja tuh sama Ibu. Apa mbak Hulya yang salah,” mencoba membentengi dari serangan adik-adiknya.
“Bener itu Bu? Mbak Hulya tidak bikin Ibu nangis?.”
“Ibu Nangis bukan karena Mbak Hulya.”
“Tuh kan, dibilangin gak percaya sih kalian berdua. Mmm dasar... kalau dibilangin itu percaya,” Hulya sangan gemas melihat adik-adiknya itu. Mereka snagat suka menggoda Hulya, apalagi kalau ada teman laki-laki yang datang ke rumah hanya untuk sekedar bermain. Pasti digoda habis-habisan sama mereka.
“Mbak Hulya tidak bisa dipercaya sih. Wekk!!” si kecil menyahut sembari melonjorkan lidahnya kedepan.
Melihat tingkah mereka bertiga. Ibu kembali dalam senyumannya, perasaan hatinya sangat bahagia ketika mereka bahagia meski sederhana.
“Sudah, sudah. Kalian jangan bertengkar. Ibu tidak apa-apa dek. Ibu menangis bukan karena mbakmu ini,” Ibu tidak melanjutkan perkataanya. Seandainya kalau berbicara yang jujur. Karena ia menangis bukan karena bahagia melainkan ia menangis karena bersedih, tidak ingin meninggalkan anak-anaknya. Apalagi mereka sudah ditinggalkan oleh bapaknya yang meninggal dunia 2 tahun silam, “Ibuk hanya bangga melihat kalian, apalagi sekarang mbakmu ini sedang mendaptkan juara. Lihat itu,” sambungnya, sembari menunjuk piala yang baru saja dibawa oleh Hulya yang sudah ditaruh di atas meja beberapa menit yang lalu.
 “Hehe... Selamat iya mbak Hulya. Beliin jajan nanti,” mereka berdua menyuarakan suara serentak untuk meminta.
“Giliran gini muji-muji, baikin mbak. Hem, dasar kalian baik kalau ada maunya,” wajahnya memalingkan dari adik-adiknya, hanya untuk menggoda.

sesaat mereka semua tersenyum dengan bahagia. Kesedihan yang mereka rasakan sebelumnya untuk semantara ini hilang. Kebahagiaan kecil yang mereka ciptakan sungguh hangat.

***
Sudah 2 tahun Ayah Hulya meninggal saat kecelakan di jalan. Sekarang hanya tersisa kenangan masa lalu. Saling berbagi cerita satu dengan yang lainya, bercanda, dan bermain.

Hulya termenung sendiri menatap halaman yang sudah basah terkena hujan. Kebahagiaan Hulya hanya sebentar, ia kembali lagi mengerjakan aktivitas seperti biasa.
Tiba-tiba terdengar suara, seperti gelas yang jatuh. sontak Hulya terkejut, suara itu terdengar dari kamar Ibunya. Hulya berlari, ia khawatir dengan ibunya. Tidak hanya Hulya saja, adik-adiknya juga ikut serta berlarian.

Sesampainya di kamar Ibu, Hulya melihat Ibunya yang tergeletak dan tak sadarkan diri, “Ibu... Ibu... Ibu,” teriaknya dan mengangkat ibunya ke kasur kembali. Ia berhati hati-hati saat mengangkat. Sebab, masih ada pecahan gelas yang tercecer di lantai.

“Awas, Dek. Tolong bersihin iya, Kakak mau panggil pak Mantri dulu,” dengan terburu-buru Hulya langsung berlari keluar.
“Iya, mbak,” kedua adiknya mengangguk, mengerjakan apa yang sudah diminta kakaknya.
Ia berlari dengan sekuat tenaga, tidak menghiraukan hujan yang menerpa dirinya. Ia tidak ingat untuk mengambil payung dahulu. Hulya tidak ingin Ibunya meninggalkan dirinya dan adik-adiknya. Seperti apa yang terjadi kepada Ayah yang meninggalkannya, “Tidak untuk kedua kalinya,” ia berguamam dalam hati. Air matanya menetes bercampur dengan hujan.

Sampailah Hulya di rumah Pak mantri. Kebetulan Pak Mantri sedang ada di rumah. Hulya bergegas membawa Pak mantri untuk menengok apa yang terjadi dengan Ibunya. Ia dibonceng Pak Mantri untuk cepat datang ke rumahnya.
Hulya berlarian menuju kamar ibunya. kedua adiknya cemas, sesekali menitihkan air matanya. Pak Mantri memeriksa kondisi Ibu Hulya. Setelah beberapa menit diperiksa pak Mantri angkat bicara, “ Kondisi ibumu sudah membaik. Tapi, sebaiknya kamu membawa ibumu ke rumah sakit. Secepetnya Hulya, sebab ibumu perlu perawatan dari rumah sakit.”
“Bapak ada mobil di rumah. Seandainya kamu mau, Bapak bisa antar Ibumu ke rumah sakit sekarang.”
“Sekarang saja Pak,” seraya tangannya memegang badan Ibunya yang hangat.
“Sebentar, kamu tunggu di sini,” Pak Mantri keluar kamar dengan jalan cepat.
Entah apa yang dipikirkan oleh Hulya. Ia hanya memiliki uang hadiahnya pada waktu lomba kemarin. Ibu Hulya mengalami sesak nafas.

Hulya terus saja berkata, “Ibu yang kuat iya.. Ibu yang kuat iya..”
Adik-adik Hulya hanya bisa menangis melihat kondisi ibunya yang seperti itu. Ketika mobil sudah terparkir di rumah Hulya. Sesak nafas Ibunya berhenti. Hulya memanggil Pak Mantri, “Pak Mantri... Pak... Ibu,” seraya ia berlari menuju Pak Mantri berada.

Seketika Pak Mantri mengecek, lalu berkata, “Innalillahi wa inna ilahi raajiuun.”
Hulya mengis dengan kencang menyerukan nama Ibu, “ibu ... ibu... ibu... kenpa Ibu tinggalkan Hulya.”
Suara tangisan Hulya disusul dengan adik-adiknya. Pak Mantri Hanya bisa melihat ketiga anak yang berduka ditinggal ibu kesayanganya.

***
Saat iulah ketika hujan turun, Hulya selalu teringat tentang Ayah dan Ibunya kebahagiaan yang ia dapatkan tertutup dengan kesedihan. Karena hujan itu menjadi hujan yang terakhir buat Ayah dan Ibunya. Disaat itu juga, aliran do’a Hulya dipersembahkan untuk Ayah dan Ibunya yang telah meninggalkannya.
Ia mencoba tabah, karena tak ingin kedua adiknya terluka.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.