Indonesia dalam Jeratan Riba

Hot News

Hotline

Indonesia dalam Jeratan Riba

Oleh: Erna Ummu Azizah*

Indonesia negeri yang subur makmur "gemah ripah loh jinawi", terkenal dengan julukan zamrud khatulistiwa. Kekayaan alamnya melimpah ruah, pulau-pulaunya pun luas dan indah. Mestinya menjadikan rakyatnya makmur dan sejahtera. Namun, siapa sangka ternyata utangnya kian menumpuk.

Dikutip Liputan6.com dari data APBN Kita, Jakarta, Kamis (17/5/2018), utang pemerintah Indonesia kian menumpuk. Totalnya kini mencapai Rp 4.180,61 triliun hingga April 2018, terdiri dari pinjaman Rp 773,47 triliun dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 3.407,14 triliun. Jumlah ini melonjak Rp 44,22 triliun dibanding posisi Maret sebesar Rp 4.136,39 triliun.

Padahal Utang berbasis riba yang menjerat sebuah negara bisa menjadi jalan efektif sebuah penjajahan. Ketergantungan pada utang menjadikan negara "gali lobang tutup lobang, pinjam uang bayar utang", hingga tak heran negara yang mestinya berdaulat, mudah disetir para konglomerat. Inilah yang terjadi pada Indonesia. Lihat saja fakta-fakta kebijakan yang dibuat, bukannya pro rakyat justru menyengsarakan rakyat. 

Rakyat semakin hari justru semakin melarat. Tingginya biaya hidup membuat mereka sekarat. Harga kebutuhan pokok kian hari kian melambung, belum lagi masalah BBM, listrik, biaya pendidikan dan kesehatan. Wajar saja jika banyak rakyat yang depresi, tak sedikit yang akhirnya bunuh diri.

Dan tragisnya lagi, beban hidup yang tinggi membuat rakyat putus asa. Banyak yang akhirnya terjebak perbuatan dosa, hingga muncul ungkapan "yang haram saja susah, apalagi yang halal". Hingga tak heran kondisi ini berefek pada tingginya tingkat kriminalitas. Merampok, membegal, membunuh menjadi topik berita sehari-hari, sungguh ngeri kondisi negeri ini. Na'udzubillah.

Inilah efek sistem ekonomi kapitalis-liberal. Doktrin ekonom neolib bahwa Indonesia tak bisa membangun tanpa utang menjadikan Indonesia terjebak utang makin dalam. Padahal, Indonesia adalah negeri yang mayoritas penduduknya muslim, sudah semestinya utang riba itu dijauhi. Tidak hanya karena hukumnya haram, tapi juga akan merusak tatanan masyarakat.

Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan." (QS. Ali 'Imran: 130)

Rasulullah SAW juga bersabda:
Jauhilah tujuh dosa besar. Apa itu, ya Rasulullah? Beliau SAW menjawab: syirik, sihir, membunuh, memakan riba, makan harta anak yatim, lari saat perang, menuduh berzina pada perempuan baik-baik. (Muttafaqun Alaih)

Sudah sangat jelas hukumnya ketika kita berutang dengan riba, tentu ini jadi dosa investasi yang harus kita tanggung bersama. Bagaimana kita berlepas diri? tentunya harus mengganti sistemnya dengan asas Islam.

Hanya penerapan sistem ekonomi Islam dalam bingkai khilafah saja, yang mampu melepaskan penjajahan ekonomi bermodus utang. Semoga dengan kembali kepada sistem Islam, rakyat Indonesia tidak hanya menjadi makmur sejahtera, namun juga penuh berkah dan diridhoi Allah SWT.



Penulis adalah seorang Ibu Peduli Umat
Editor: Vinci P*

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.