Jangan Umbar Aibku Mama

Hot News

Hotline

Jangan Umbar Aibku Mama


Oleh : Raden Ayu Ekalina, Amd.Tex (Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga)

Anak adalah permata hati, belahan jiwa. Setiap orangtua mendambakan anaknya menjadi seperti yang diinginkannya. Segala pengorbanan rela dilakukan demi kebahagiaan sang anak. Dari mulai membelikan mainan murah sampai memberikan fasilitas lux yang mungkin belum dibutuhkannya.

Saking bahagianya, banyak orangtua kerap membanggakan anaknya di hadapan orang tua lain. Bahkan ada sebagian orang tua yang tak sadar membanggakan anak yang satu di hadapan anak yang lain. Membanding-bandingkan kelebihan dan kekurangannya. Ini biasa terjadi di dalam sebuah keluarga yang memiliki anak lebih dari satu.
Menceritakan keberhasilan anak atau prestasinya memang menyenangkan. Namun lain halnya jika yang diungkapkan adalah sebaliknya.
Kesalahan anak diumbar kemana-mana. Ego sebagai orangtua yang tak siap menerima kekurangan yang dimiliki anak, memicunya untuk berkeluh kesah bahkan membongkar aib anak.

Anak-anak belum terbentuk sempurna pemikirannya sebagaimana orang dewasa. Mereka masih dalam tahap  membentuk kepribadiannya, senang mencoba hal-hal baru, dan belum mengetahui sejauh mana dampak dari perbuatannya itu, apakah benar atau salah.

Pernah suatu ketika ada seorang anak yang tengah mencuri uang di rumahnya sendiri, usianya barulah 10 tahun. Kemudian tak sengaja sang ibu memergokinya. Saat itu kondisi rumah kebetulan sedang sepi, ayah dan anggota keluarga lainnya sedang berada di luar rumah. Entah apa yang memotivasi si anak melakukannya. Peristiwa ini tentu saja membuat hati sang ibu kecewa, karena beliau merasa telah gagal mendidik anaknya. Ketika malam tiba, mulailah sang ibu menceritakan kejadian yang dialaminya di hadapan seluruh anggota keluarga. Tak ayal lagi, sang anak merasa sangat malu, seperti ditelanjangi. Hal ini ternyata menyakiti dan membekas dihatinya. Ia seolah tengah dihakimi massa. Belum cukup sampai disitu, sang ibu masih menceritakannya kembali di lain hari  kepada sanak saudara dan para tetangga. Kisahnya pun terus saja bergulir seperti sebuah episode yang tak selesai.

Apa  dampaknya? Dampaknya luar biasa. Orangtua berharap dengan begitu anak mampu mengubah perilakunya menjadi lebih baik. Yang terjadi justru sebaliknya, tidak ada manfaatnya sama sekali selain mencoreng wajah kita sendiri. Memang ada kemungkinan anak berubah karena hal itu, tapi satu hal yang pasti, sakit hatinya terhadap orangtua yang telah mempermalukannya dan menceritakan aibnya di depan orang-orang menimbulkan ketidaknyamanan. Anak merasa tidak lagi percaya kepada orangtuanya sendiri. Dampak lain, orang menilai bahwa ini adalah kesalahan orangtua yang tidak mampu mendidik anaknya.

Lantas apa yang harus dilakukan jika terlanjur terjadi?
Mintalah maaf pada anak. Hal ini mengajarkan ia berlapang dada.
Beri ruang kepada anak agar berpikir dan menyadari kesalahannya. Jika mereka berbuat salah dan keliru jangan terburu memberinya hukuman dan melampiaskan kemarahan kita padanya. Cari tahu dulu apa penyebabnya.
Ajak mereka berdialog sesuai dengan usia dan pemahamannya. Berikan nasehat untuk tidak mengulangi.
Jika kita termasuk orang tua yang tidak bisa menjaga emosi, lebih baik jauhi anak. Biarkan dulu ia sendiri bahkan menangis sendiri dibanding kita meluapkan emosi yang tidak baik pada anak.
Berikan hukuman berupa sanksi jika memang anak mengulangi kesalahan. Perlu diingat hukuman yang diberikan  tidak boleh sampai melukai fisik.
Berikan tugas tambahan sebagai efek jera.
Perbaiki tingkah laku dan lisan kita karena kita adalah tauladan bagi anak-anak kita.

Aib adalah aurat ,hindari berbangga diri dengan menceritakan aib kita, anggota keluarga maupun orang lain karena hal tersebut adalah perbuatan dosa dan hina. Islam melarang keras mengungkap aib orang lain, maka wajib hukumnya bagi kita untuk menjaga segala bentuk kekurangan yang menjadi rahasia kluarga, termasuk anak.

Tak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Begitupun halnya kita, tak ada istilah "orangtua sempurna" maupun "anak yang sempurna", karena fitrahnya setiap manusia memiliki sifat lemah, tebatas dan ketergantungan.
Walaupun bukan perkara yang mudah bagi orangtua  dalam mengasuh anak, setidaknya sikap bersabar layak dikedepankan dalam menyikapi berbagai masalah yang muncul pada masa tumbuh kembangnya.

Anak adalah amanah, anak adalah cermin kita. Kelak kita akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt.




This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.