Kelasnya Para Pemudik

Hot News

Hotline

Kelasnya Para Pemudik





Oleh: Sosro Hendriwati, ST*

Memasuki pertengahan ramadhan, aroma mudik sudah mulai kuat terasa menghiasi  pemberitaan di sejumlah media cetak maupun elektronik, tak hanya itu, perusahaan – perusahaan besar dan menengah, saling berlomba menawarkan pelayanan terbaik mereka agar di lirik para pemudik dari semua kalangan, tentu dengan harapan akan mendapatkan keuntungan yang besar.

Sisi lain dari kisah ramadhan di negeri ini, selain ramainya kaum muslim berlomba – lomba dalam kebaikan  dan berusaha meningkatkan aktifitas amaliyah  yang lain, sisa lain itu adalah  mudik, ritual sakral    bagi para  perantau, yang di lakoni satu tahun sekali,  mudik  merupakan hal yang paling di tunggu dan di nanti, bagi para perantau, agar dapat berkumpul bersama keluarga dan hadai tolan di kampung.

Mudik merupakan sesuatu hal yang menyenangkan tapi juga menyebalkan, bagi para  pemudik  yang kelas ekonomi bawah, bersiaplah untuk  harus berfikir lebih keras lagi, memeras otak dan memeras tenaga, yang tak jarang dengan air mata, agar bisa mudik ke kampung halaman tercinta.
Jauh-jauh hari  sudah di rencanakan, bahkan mungkin  satu tahun sebelumnya, memikirkan, menimbang, mengingat  dan sebelum memutuskan, agar seluruh anggota keluarga bisa terangkut mudik  seluruhnya, dan tak jarang pada akhirnya, keputusan  terberatpun akan di ambil, akan ada anggota keluarga yang akan tertinggal karena terkendala minimnya dana, meski dengan berat hati, itupun tetap perlu di syukuri karena masih bisa mudik.

Bagi para pemudik yang menggunakan transportasi umum, meski harus membayar dengan harga yang tak wajar, sudah bersiap-siap untuk menghadapi kenyataan pahit, rasa pusing, mual, yang tak jarang sampai muntah, karena harus berdesakan sedih dengan penumpang yang lain, tentu dengan rasa dan aroma yang berbeda, bahkan tak jarang harus merelakan nuansa yang berbeda, saat ada makluk lain ( binatang ), yang damai sentosa yang hadir di antara para penumpang.

Para pemudik yang menggunakan transportasi pribadi, yang   belum juga  naik kelas ekonominya, menggunakan kendaraan roda dua, menjadi alternatif mudik yang paling murah meriah, meski berbahaya, yang harus siap mengangkut seluruh anggota keluarga, plus dengan barang – barang bawaan, dengan jumlah yang tak sedikit, yang tak jarang melindungi pandangan  sopir, barang itupun menjadi  multi fungsi, sebagai sandaran santai  manis penunpang di belakangnya, sambil menatap langit, yang cerah menyala, seakan siap “memasakan “ siapapun yang terkena sinarnya, di iringi hembusan angin yang mengantam keras kewajah, toh tetap semua harus di nikmati, dan di rasakan seperti sedang berada di tepi pantai.

Bagi pemudik kelas ekonomi menengah, untuk hal yang satu ini, tidak perlu risau, hanya sedikit merasakan, romantismenya mudik, tak peduli harga transportasi mélangit, yang tak jarang membuat penghuni dompet menjerit, tetap santai, karena ada gaji ke 13, dan tunjangan yang lainnya,  dan bahkan mungkin akan tetap menjadi penghuni tetap di isi dompet, tak perlu   harus mengeluarkan jurus  sabar tingkat dewa, jika harus terjebak kemacetan, yang tidak hanya mengular, tapi berubah menjadi naga.

Untuk kelas ekonomi ke atas, jangan di tanya ?, mudik bagi  mereka, seperti mimpi indah di siang hari bagi rakyat kelas ekonomi seperti  kita, tak perlu berfikir panjang kali lebar, untuk memutuskan  mudik, hari ini niat, hari ini bisa mudik, tinggal telpon, tinggal sentuh, beres ( atau malah semua serba gratis, plus untuk beberapa anggota keluarga, indah betul hidup mereka ), tinggal tunjuk, wilayah mudik mana yang akan di tuju, atau mau mudik keluar negeripun tinggal klik, dan tinggal perintah, semua mudah, semua gampang, tetap cantik dan wangi di setiap waktu dan kesempatan.

Tak merasakan atau mungkin tak melihat karena tebalnya tabir yang menghalangi, tabir yang membuat mata hati menjadi mati, karena sibuk mengurusi, harta, tahta dan wanita, yang menjadi kesenangan hidup di dunia, dan akhirnya  apa yang di rasakan di kelas- kelas sebelah, harus berjubel, terpanggang panas, bercampur aroma kemenyan, dan tak jarang bertarung nyawa, tak di dengar, kalaupun di dengar hanya di sahut seadanya, ketika kelas sebelah  memanggil, memohon, meminta bantuan, atau lebih mengambil posisi aman dan nayaman, dengan  pura- pura tak mendengar, mencoba menutup mata dan telinga, agar terhindar dari caci maki, dan sumpah serapah.

Kelas impian semua orang, siapapun ingin merasakan berada di kelas tersebut, yang belum pernah, berlomba – lomba untuk berada di kelas tersebut, semua cara di lakoni, dari yang nyata sampai yang goib, halal haram di langgar, etika di kesampingkan, janji manis di hambur, yang tak jarang  berujung palsu, menghiasi setiap  pembicaraan, mewarnai setiap kesempatan, dan  kelas sebelah menjadi sasaran empuk, untuk menabur mimpi manis,  umpama, jikalau, misalkan.

Yang sudah merasakan indah dan manisnya berada di kelas ataspun sama, tak mau bergantian, masih terus dan akan terus berada di kelas tersebut, di peluk erat – erat kelasnya agar tak lepas dan tak tergantikan oleh siapapun, segala upaya di lakukan dengan jurus dan mantra ajaib yang hampir sama, dengan para pemula yang ingin berada di kelas tersebut, sama-sama mengobral janji manis berujung  dusta, sambil menunjuk bukti – bukti yang menjadi saksi bisu, sukses  yang di peroleh selama berada di kelas tersebut, dan kembali, kelas sebelah menjadi sasaran empuk janji berbisanya.

Memburu harta dan mengejar kekuasaan yang tak abadi, menjadi tujuan utama, meski bersembunyi di balik slogan bagus nan menawan, untuk kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa, nyatanya? Jauh panggang dari api, kelas sebelah hanya mampu bergumam pahit, sambil menadahkan tangan, dan berlinang air mata, urusan kita belum selesai sampai di sini, kelak akan ku tuntut di akherat, ketidak adilan dan penghianatan terhadap amanah – amanah yang sudah kami berikan, karena di sanalah hukum yang paling adil.




Editor: Hamka*

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.