Menulis Untuk Ibadah

Hot News

Hotline

Menulis Untuk Ibadah


Oleh: Dwi R
Jika bicara soal ibadah, pasti yang terpikir langsung sholat, puasa, sedekah, dzikir, dan haji. Hampir 100% umat Islam setuju dengan itu. Tidak salah memang. karena ibadah sendiri adalah wujud dari ketaatan dan konsekuensi iman. Dimana hal ini akan tercermin dari ibadah ritual.

Namun jika kita kembali ke definisi Islam, maka ibadah sendiri bisa bermakna lebih luas. Tidak hanya menyangkut ibadah mahdloh saja. Kita tahu bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia.

Hubungan manusia dengan Allah menyangkut masalah aqidah dan ibadah (shalat, puasa, dzikir, zakat, infak, sedekah, haji). Sementara hubungan manusia dengan dirinya sendiri menyangkut masalah makanan, minuman, pakaian, dan akhlak. Sedangkan hubungan manusia dengan sesama manusisa lainnya adalah masalah ekonomi, sosial, Pendidikan, politik, dan hankam.

Namun bukan berarti bahwa hubungan manusia dengan dirinya dan dengan sesama tidak termasuk ibadah. Melainkan semua aktivitas muslim adalah ibadah, jika memenuhi dua syarat. Pertama niatnya harus ikhlas karena Allah SWT. Kedua cara pelaksanaannya harus sesuai dengan hukum syara’.

Menulis Untuk Ibadah
Sebagaimana aktivitas ibadah yang lain, menulis jika diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan cara yang benar sesuai dengan hukum syara’ juga termasuk ibadah. Artinya ketika kita menulis dengan niat untuk dakwah dan memberi manfaat bagi umat. Bukan sekadar menulis agar tidak kudet, atau menulis agar tulisannya viral dan terkenal.

Terlebih jika niatnya menulis hanya karena untuk bisnis semata. Agar mendapatkan keuntungan materi, maka apapun bisa dituliskan. Tanpa memandang apakah tulisannya bermanfaat bagi umat atau justru memberi mudlarat bagi umat. Asalkan dapat materi maka menulis apapun dilakukan. Termasuk jika dituntut untuk menuliskan konten dewasa.

Selain niat untuk dakwah dan mendapat Ridlo Allah, maka menulis juga harus mengikuti kaidah dan norma-norma agama. Tidak asal menulis. Dengan alasan kreativitas seni, rela menulis konten berbau pornografi. Hal ini banyak sekali kita temukan, baik di media online maupun di media cetak dan buku.

Meski dalam cacatannya tertulis: “mohon untuk menjadi pembaca yang bijak, karena tulisan berisi konten dewasa”, maka hal ini tetap melanggar norma agama. Peringatan yang dibuat agar anak dibawah umur tidak membaca karena memuat konten yang tak layak, tidak merubah status hukum menjadi mubah atau sunnah.

Disinilah penulis muslim dituntut untuk mampu memahami kaidah penulisan yang sesuai dengan konsep Islam. Karena kita tidak tahu kemana tulisan kita akan mengalir dan berhenti. Ketika sudah dipublikasi, maka siapapun berpeluang untuk membaca.

Itulah sebabnya Islam mengajarkan kita untuk mengikat ilmu dengan menulis. Karena tulisan bisa menembus jutaan kepala. Tulisan juga mampu mengubah peradaban. Tulisan mampu membuat seseorang hidup terus. Karyanya akan dikenang sepanjang masa meski ia telah tiada.

Menulis bisa menjadi sarana amal jariyah. Ilmu yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan banyak ummat. Jika melalui tulisan kita orang berubah menjadi lebih baik, maka pahala akan terus mengalir pada kita tanpa mengurangi pahala dari orang tersebut.

Sebaliknya, jika seseorang melakukan kejahatan atau kemaksiatan karena membaca tulisan kita, maka dosanya juga akan mengalir pada kita. Berapa banyak orang yang membaca dan malakukan kemaksiatan dari tulisan kita, maka sebanyak itu pula dosa yang akan kita terima diakhirat kelak. Itulah yang disebut dosa jariyah.

Untuk itu, mari kita niatkan dengan ikhlas. Semata-mata kita menulis untuk berdakwah. Menebarkan kebaikan, memberikan manfaat bagi umat melalui tetesan tinta kita. Jangan biarkan hawa nafsu menguasai kita dalam menulis. Sehingga apa yang kita tuliskan bukan untk kebaikan, melainkan menebar kemudlaratan.

Tidak ada alasan untuk membenarkan tulisan berbau pornografi. Tidak ada alasan untuk membenarkan tulisan berisi kemaksiatan. Sekalipun atas dasar karya seni. Islam itu indah. Dan Allah mennyukai keindahan. Namun keindahan yang sesuai dengan hukum syara’. Bukan keindahan dalam pandangan manusia.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Jadikan menulis sebagai sarana untuk berdakwah. Menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Karena dakwah adalah perintah Allah. Dengan dakwah, Islam bisa sampai kepada kita. Karena dakwah pula, Islam menyeberang lautan dan mengarungi samudera dari Arab ke seluruh penjuru dunia.

Jalan dakwah adalah jalannya para Rasul dan orang-orang pilihan. Pengemban dakwah adalah pewaris Nabi atau orang yang melanjutkan perjuangan Nabi. Sehingga pengemban dakwah adalah orang-orang pilihan. Yang mampu menahan beratnya perjuangan. Allah memerintahkan kita untuk berdakwah.
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik,…” (QS. An-Nahl:125)

Jika kita ingin menjadi orang-orang pilihan, maka kita harus menjadi pengemban dakwah. Dakwahnya para penulis adalah dengan menulis. Semoga dengan tulisan-tulisan kita, mampu mengubah pola pikir seseorang menjadi lebih baik. Tak perlu takut tulisan kita tidak ada yang membaca jika isinya hanya dakwah.

Tak perlu takut pula karya-karya kita tidak laku karena tidak kekinian. Yakinlah bahwa tulisan kita pasti akan menemukan jodoh pembacanya. Biarkan dia mengalir, mencari tempat yang kosong untuk diisi dengan ilmu yang kita tulis. Hingga ia menemukan tuannya dan layak untuk menjadi amal jariyah buat kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.