Meraih Gelar Takwa di Bulan Ramadhan

Hot News

Hotline

Meraih Gelar Takwa di Bulan Ramadhan


(Sumber ilustrasi: pinterest.com)
Oleh Amallia Fitriani



Ramadhan adalah bulan suci yang dinanti oleh kaum muslim di seluruh penjuru dunia. Perasaan gembira tentunya ada dalam diri kaum muslim ketika Allah SWT masih memberi kesempatan untuk  merasakan kembali bulan suci ini, bulan yang di dalamnya penuh dengan keberkahan serta kemuliaan, dan bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Di bulan ini Allah SWT melipatgandakan semua amal kebaikan setiap hamba-Nya yang mengerjakan ibadah dengan penuh keikhlasan, keimanan dan ketakwaan. Pintu-pintu syurga dibuka dan semua pintu neraka ditutup-Nya, serta syetan-syetan dibelenggu.

Dibalik kegembiraan menyambut ramadhan

Ada kondisi yang amat memprihatinkan terjadi dari ramadhan ke ramadhan. Kondisi yang sama senantiasa terulang, yakni umat Islam masih belum mampu beranjak dari keterpurukan dalam semua aspek kehidupan, seperti permasalahan  ekonomi yang tengah di hadapi umat di mana kenaikan bahan-bahan pokok seolah-olah sudah menjadi tren di pasaran terjadi menjelang bulan ramadhan.
Selain permasalahan ekonomi, umat pun dihadapkan dengan permasalahan sosial yang tak kunjung habisnya, seperti  prostitusi terselubung, beredarnya minuman keras dan miras oplosan yang menimbulkan beberapa korban jiwa terutama di kalangan remaja, dan lain sebagainya.

Masyarakat dihadapkan pula dengan permasalahan kemanan jiwa. Bagaimana tidak, pemberitaan ledakan bom di surabanya menjelang bulan ramadhan membuat masyarakat resah, seperti yang diberitakan NEWSOnline.co.id: Ketua DPRD Jabar, Ineu Purwadewi Sundari menyebut, bom di Surabaya sangat meresahkan. Menurutnya, tak hanya masyarakat Surabaya, warga Jawa Barat pun demikian.

Permasalahan di atas hanya serangkaian kecil masalah-masalah yang tengah dihadapi umat, tentunya masih banyak sekali permasalahan-permasalahan lainnya yang membuat umat seakan tidak pernah bisa bangkit dari keterpurukan ini.

Ramadhan bulan takwa

Bulan ramdhan seharusnya dijadikan momentum agar umat semakin lebih bertakwa, dan mampu bangkit dari keterpurukan yang ada. Namun faktanya tidak demikian. Umat Islam saat ini menggangap ramadhan hanya sebatas ibadah ritual tahunan saja. Ibadah-ibadahnya pun hanya sebatas  menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, qiamullail, tadarus quran, bersedekah, menunaikan zakat dan ibadah ritual lainnya yang biasa dilakukan pada bulan ramadhan.

Tujuan Allah swt memerintahkan umat Islam untuk berpuasa adalah agar menjadi orang yang bertakwa, bukan hanya sebatas mendorong umat Islam semangat dalam meraih pahala dengan ibadah ritual belaka. Namun ketakwaan itu seharusnya tercermin dalam aktifitas di bulan-bulan selanjutnya.
Takwa, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, adalah melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Yang dikehendaki oleh Allah SWT bukan hanya sebatas melaksanakan ibadah ritual saja, akan tetapi seluruh aktifitas manusia harus berdasarkan pada perintah Allah SWT, baik urusan individu, masyarakat, sampai negara. Dengan kata lain pasca ramadhan diharapkan umat Islam harus menyesuaikan seluruh aktifitasnya dengan syariat Islam secara kaffah. Inilah hakikat takwa yang dikehendaki dalam Islam.

Ketakwaan dalam masyarakat yang hidup dalam naungan sistem sekuler hanya bersifat ritual belaka. Fakta ini terlihat jelas pada bulan ramadhan, dimana tempat-tempat maksiat dan barang-barang haram dirazia pada saat bulan ramadhan dengan dalih menghormati kesucian ramadhan, sedangkan di luar bulan ramadhan hal tersebut malah dibiarkan, seolah-olah ketakwaan itu hanya ada pada bulan ramadhan, sedangkan di luar ramadhan kemaksiatan dibiarkan merajalela.

Hanya pada bulan ramadhan saja kita bisa merasakan nuansa keislaman yang amat kental. Semua berlomba-lomba menampilkan menjadi yang bertakwa. Namun, selepas ramadhan banyak pula ketakwaan yang tiba-tiba hilang begitu saja tak berbekas. Syariat Islam diterapkan hanya di bulan ramadhan. Syariat itupun hanya sebagian saja yang diterapkan pada bulan ramdhan, seperti pelarangan khamer dan pelarangan prostitusi, lantas tidak diterapkan kembali pada bulan-bulan selanjutnya. Jika hal ini tetap dibiarkan maka dari ramadhan ke ramadhan selanjutnya akan tetap sama. Umat Islam pun tidak akan pernah mampu bangkit dari ketrpurukan yang dihadapi saat ini, sehingga tidak akan muncul ketakwaan hakiki yang diharapkan Allah swt.

Lantas apa yang harus dilakukan umat muslim agar ketakwaan itu tetap ada dan tetap bisa dirasakan? Dibutuhkan perjuangan agar ketakwaan itu dapat di raih. Butuh perjuangan agar umat Islam mampu bangkit dari keterpurakan yakni perjuangan untuk lebih memperbaiki individu, masyarakat juga negara.

Sangatlah tepat bila ramadhan ini dimanfaatkan untuk memperjuangakan kembali penerapan syariat Islam secara kaffah demi meraih ketakwaan tersebut. Hanya dengan penerapan syariat Islam secara kaffah umat Islam akan mampu keluar dari keterpurukan yang ada dan akan mampu meraih ketakwaan yang hakiki.

Di sinilah pentingnya bagi setiap Muslim memahami bahwa ketakwaan kepada Allah SWT itu menuntut perjuangan setiap muslim agar mentaati Allah SWT dalam segala aspek, bukan  dalam masalah akidah dan ibadah saja, tetapi termasuk seluruh aspek kehidupan. Setiap muslim wajib bertakwa kepada Allah dengan takwa yang hakiki yaitu mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sebagimana Firman Allah SWT
“Apakah kamu beriman dengan sebahagian (isi) kitab dan mengkufuri sebahagian yang lain? Maka, tidak ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu, selain kehinaan dalam kehidupan di dunia, serta pada hari Kiamat nanti akan dikembalikan kepada azab yang sangat pedih” [TMQ al-Baqarah (2):85].
Wallahu alam bishshowwab



Editor: Hamka*

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.