Metamorfosa di Bulan Ramadan

Hot News

Hotline

Metamorfosa di Bulan Ramadan



Oleh: Nida Khofiya*


“Mba di taman samping ada ulat bulu lho!!” ucapku ke petugas jaga pagi. 
“Hi…hi…. Ngeri gatel semua nih.” Jawabnya sambil terbirit birit.
Ya, ulat bulu adalah hewan dengan fisik berbentuk bulat agak panjang dan tubuhnya dipenuhi bulu halus dan tajam. Jika bulu itu mengenai tangan maka akan terasa gatal. Ulat adalah tahap larva dari spesies dalam ordo Lepidoptera, yang mencakup kupu-kupu dan ngengat. Kebanyakan sebagai pemakan tumbuhan walaupun beberapa spesies merupakan pemakan serangga. Ulat dianggap sebagai hama dalam pertanian.  (Wikipedia).

Pada tahap ini banyak orang merasa jijik melihatnya. Namun siapapun akan kagum ketika ulat telah berubah menjadi kupu-kupu. Melihat keindahannya bahkan tak sedikit yang menjadikan kupu-kupu sebagai hewan peliharaan. Namun sebelum itu ia harus melewati proses metamorfosis.

Proses metamorfosis pada kupu-kupu bisa dibilang cukup panjang dan lama. Secara sederhana terdapat empat tahapan dalam metamorfosis kupu-kupu ini. Dimulai dari telur kemudian menjadi ulat atau larva, selanjutnya kepompong dan pada akhirnya menjadi kupu-kupu. 

Demikianlah seorang Muslim dalam bulan Ramadhan ini. Adalah momen untuk bermetamorfosis. 
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Q.S. Al-Baqarah : 183)



Perintah Puasa Ditujukan pada Orang yang Beriman 

Imam Ath Thabari menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah : “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan keduanya dan mengikrarkan keimanan kepada keduanya”. Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini: “Firman Allah Ta’ala ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat manusia dan ini merupakan perintah untuk melaksanakan ibadah puasa”

Dari ayat ini kita melihat dengan jelas adanya kaitan antara puasa dengan keimanan. Dengan demikian Allah Ta’ala pun hanya menerima puasa dari jiwa-jiwa yang terdapat iman di dalamnya. Puasa juga merupakan tanda kesempurnaan keimanan seseorang.

Iman secara bahasa artinya percaya atau membenarkan.
Secara gamblang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan makna iman dalam sebuah hadits:
 “Iman adalah engkau mengimani Allah, mengimani Malaikat-Nya, mengimani Kitab-kitab-Nya, mengimani para Rasul-Nya, mengimani hari kiamat, mengimani qadha dan qadar, yang baik maupun yang buruk” 

Demikianlah enam poin yang harus dimiliki oleh orang yang mengaku beriman. Maka jika orang enggan mempersembahkan ibadah kepada Allah semata, atau menyekutukan Allah dengan yang lain. Perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya. Termasuk mereka yang menolak ajaran Muhammad sebagai Rasulullah atau meninggalkan sunnahnya. Begitupun dengan orang yang tidak percaya adanya Malaikat, tidak yakin datangnya kiamat, serta meragukan takdir,.
Namun jangan mengira bahwa iman itu sekedar percaya di dalam hati. Iman itu berupa perkataan, perbuatan, dan niat (perbuatan hati). Jangan mengurangi salah satu pun dari tiga hal ini.

Dengan demikian tidak dapat dibenarkan orang yang mengaku beriman namun meninggalkan shalat, enggan membayar zakat, dan amalan-amalan lahiriah lainnya. Termasuk puasa sebagai amalan lahiriah merupakan konsekuensi iman.

Puasa Wasilah Menuju Taqwa

Sebagaimana umat terdahulu diwajibkan berpuasa untuk melatih ketaqwaan. Ramadhan menjadi waktu seorang muslim membuktikan keimanannya. Karena dia merasa Allah selalu mengawasi. Sehingga dia takut untuk makan, minum, dan jima’ dengan istrinya di siang hari, meski tak ada orang yang melihat. Puasa dapat menundukkan nafsu dan mengalahkan syahwat.

Secara bahasa Arab, taqwa berasal dari fi’il ittaqa-yattaqi, yang artinya berhati-hati, waspada, takut. Bertaqwa dari maksiat maksudnya waspada dan takut terjerumus dalam maksiat. Namun secara istilah, definisi taqwa yang terindah adalah yang diungkapkan oleh Thalq Bin Habib Al’Anazi:
 “Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”[15].

Demikianlah sifat orang yang bertaqwa. Beribadah, bermuamalah, bergaul, mengerjakan kebaikan karena ia memahami adalah perintah Allah yang dijanjikan ganjaran. Bukan atas dasar ikut-ikutan, tradisi, taklid buta, atau orientasi duniawi.

Begitu juga senantiasa takut mengerjakan hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, karena ia teringat dalil yang mengancam dengan adzab yang mengerikan. Dari sini kita tahu bahwa ketaqwaan tidak mungkin tercapai tanpa memiliki cahaya Allah, yaitu ilmu terhadap dalil Al Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Jika seseorang memenuhi kriteria ini, layaklah ia menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya. 

Maka momentum Ramadhan menjadikan seorang muslim menempa diri. Menahan hawa nafsu dari bermaksiat baik secara individu, kolektif maupun sistemik. Sehingga ketika keluar dari Ramadhan, akan muncul sosok–sosok pribadi mengagumkan, membawa jati diri seorang muslim sejati hingga dikagumi penduduk bumi dan langit.




Penulis adalah Pengajar SMA dan Aktivis Revowriter
Editor: Hamka*

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.