Pemuda Hijrah; Tentang Mereka yang Mau Berubah

Hot News

Hotline

Pemuda Hijrah; Tentang Mereka yang Mau Berubah


Muhammad Noor Fadillah
(Mahasiswa dan Ketua PW Taktik Kalimantan)

Di dunia ini, ada sebagian golongan orang yang menganggap kehidupan tak lebih dari sekadar pencarian kebahagiaan. Tak dapat dipungkiri, bahwa hidup di dunia hanyalah sementara dan sebentar saja. Ini membuat mereka akhirnya rela mencurahkan semua pikiran, perasaan, dan kekuatan hanya untuk mencari kebahagiaan. Kebahagiaan itu tentu menurut sudut pandang mereka sendiri. Umumnya meliputi materi, eksistensi diri hingga apresiasi dari orang lain.

Adakalanya ketika kebahagiaan itu tidak pernah dicapai. Yang didapati justru kegagalan demi kegagalan. Atau kebahagiaan yang sudah didapat tiba-tiba menghilang di tengah jalan. Obsesi tinggi yang tertanam kuat untuk mendapatkan kebahagiaan versi mereka itu, pada akhirnya akan berujung rasa kecewa dan frustrasi, saat semua tak sesuai ekspektasi. 
Sedikit beruntung bagi mereka yang telah benar-benar mengecap rasa bahagia itu. Seorang mahasiswa misalnya. Ia merasa sangat bahagia ketika nilai kuliahnya selalu memuaskan, sering memenangkan berbagai kejuaraan, atau mendapatkan “pasangan” idaman. Semua mahasiswa bahkan para dosen mengakui kehebatannya. Namanya begitu harum dimana-mana.

Akan tetapi, orang-orang seperti itu pada dasarnya tidak pernah mencapai kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan yang mereka dapat hanyalah semu bahkan bisa jadi tak bernilai apa-apa. Hal itu terjadi ketika mereka melalaikan bahkan meninggalkan agamanya sendiri. Kesibukan untuk mencapai derajat kebahagiaan yang ditarget, nyatanya membawa ia jauh dari agama. Ia menjadi jarang solat meski suara adzan tak pernah berhenti menggelayuti telinganya. Atau mungkin tak pernah lagi memegang mushaf Alquran hingga ia pun lupa bahwa membaca Alquran dimulai dari sebelah kanan. Parahnya lagi, ia bahkan berhenti mengkaji Islam sehingga membuatnya dangkal dalam memahami ilmu agama.
Di sinilah sebenarnya letak kesalahan itu, ketika segenap jiwa diarahkan hanya untuk mengejar kebahagiaan duniawi, namun disisi lain justru menelantarkan urusan akhirat yang lebih kekal abadi. Kita boleh saja berjaya di muka bumi ini atau memiliki segala-galanya, akan tetapi ketika agama dilepas dan hanya menjadi aksesoris semata, semua hanya akan berakhir sia-sia. Kelak hanya akan berbuah penyesalan besar.

Bersyukurlah manusia, bahwa Sang Pencipta tak pernah membiarkan begitu saja umatnya terjebak dalam ilusi dunia. Petunjuk dan jalan kebenaran itu tak pernah dicabut dari jangkauan manusia. Para pendakwah yang gigih dan pantang menyerah juga tak pernah berhenti lahir dari rahim-rahim yang Allah karuniai keberkahan. Dari situ, tak heran jika kemudian banyak orang-orang memutuskan untuk berhijrah. Dewasa ini, hal tersebut bahkan seolah menjadi fenomena baru yang menjangkiti masyarakat, utamanya kalangan pemuda. 
Proses hijrah para pemuda itu tentu tidak serta merta langsung mencapai puncak tertinggi, tetapi merangkak dari bawah. Ada pemuda yang mulai suka salat berjamaah, mengkaji Alqurannya kembali, berkumpul bersama orang-orang saleh, mendengarkan pengajian, atau menutup auratnya secara sempurna bagi perempuan. Begitupun dengan media sosial mereka yang dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang mendekatkan diri kepada baginda Nabi dan Allah SWT.

Mereka yang berhijrah adalah mereka yang mau berubah. Adalah mereka yang telah melalui serangkaian perenungan dan memahami makna hidup sejati. Bukan berarti bahwa mereka menjadi orang yang hanya hidup didalam masjid, atau sebagian besar waktunya hanya untuk mengaji lalu meninggalkan aktivitas sosial lainnya. Justru mereka akan menjadi pemuda yang tangguh dan berprestasi. Menjadi semakin semangat menjalani roda kehidupan ini karena semua sudah terniatkan dalam hati, lillahita’ala.

Selagi kabar kematian itu belum dihantarkan oleh malaikat Izrail, maka selama itulah tak pernah ada kata terlambat untuk berhijrah. Memang prosesnya tidaklah mudah. Diperlukan komitmen, ketangguhan hati, serta keistiqomahan untuk berjalan diatasnya. Namun jika terus-terusan terjebak didalam fatamorgana dunia yang tak berkesudahan ini, lantas kapan kita akan benar-benar mempersembahkan diri ini kepada Sang Khalik, Pemilik hidup dan mati manusia. Imam Syafii’ pernah berkata, “Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian sedangkan kain kafannya sedang ditenun”.

Bulan Ramadan ini, merupakan momen yang paling baik untuk berhijrah. Dibulan inilah amal kebajikan akan bernilai berkali-kali lipat. Marilah tinggalkan semua hal-hal buruk dimasa lalu menuju jalan dengan tuntunan Islam. Pandanglah kehidupan baru di depan sana, dan katakan: “Hari ini aku akan berhijrah. Apapun rintangannya, akan tetap kulalui. Hambatan boleh saja besar, tapi pertolongan Allah jauh lebih dekat dan hebat”. Wallahu’alam bisshawab.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.