Semangkuk Bihun Cabe dan Perisai Kaum Muslim

Hot News

Hotline

Semangkuk Bihun Cabe dan Perisai Kaum Muslim




                                                               Oleh : Tsaurina Aslam*


Siapa yang tidak tergoda mencicipi menu masakan ini. Jika disodorkan dihadapannya semangkuk bihun cabe yang pedas dan masih panas. Akan sangat menggugah selera lagi jika disajikan dengan sepiring nasi hangat.

Apa yang akan  dirasakan saat memakan sesendok bihun pedas ini? Pedas. Tentu saja. Jika memakannya lebih banyak, maka tubuh akan memberi reaksi berupa keringat, hidung berair, perut terasa panas atau begah dan mungkin hingga diare. Kemudian tangan akan tergerak untuk mengambil segelas air.

Baru lidah saja yang merasakan pedas, mampu membuat anggota tubuh lainnya bereaksi. Seperti itu jugalah permisalan kaum Muslimin.

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Numan bin Basyir yang artinya: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam. (HR. Muslim).

                                                                    ADVERTISEMENT


Begitulah gambaran ukhuwah yang sebenarnya. Ketika seorang atau sekelompok  muslim merasakan kesulitan, maka muslimin yang lain akan ikut merasakan hal yang sama. Kemudian tergerak hatinya untuk memberi bantuan dan mencurahkan segenap upaya untuk meringankan kesulitan yang dirasakan saudaranya. Lalu mencari akar penyebab timbulnya kesulitan itu dan mencari solusinya.

Palestina berpenduduk mayoritas muslim. Berpuluh tahun mengalami tindakan zholim dari Israel. Dari pembantaian massal penduduknya (tak memandang apakah mereka bayi ataukah dewasa, apakah lelaki ataukah perempuan) hingga pencaplokan wilayah negaranya. Sedikit demi sedikit, hingga wilayahnya yang tersisa hanya setitik.

Indonesia berpenduduk mayoritas muslim. Sudah sepatutnya merasakan apa yang warga muslim Palestina rasakan. Membantu menghilangkan penderitaan dan memberi solusi tuntas atas kezholiman yang menimpa mereka.

Namun nyatanya jauh panggang dari api. Warga muslim di Indonesia hanya sebagian kecil saja yang peduli. Itupun hanya bentuk aksi simpatik. Selebihnya memilih diam tak peduli. Menganggap apa yang terjadi di Palestina jauh dari jangkauan dan bukan jadi urusan.

Gagasan politik negara-bangsa pada akhirnya sukses mengamputasi rasa berkasih sayang kaum muslimin di Indonesia terhadap kaum muslimin di belahan bumi yang lain. Terutama di negeri-negeri yang sedang dijajah oleh Barat dan sekutunya. Memandang mereka yang terjajah, bukan bagian dari urusannya. Apa yang terjadi tak lebih dari sekadar konflik saudara.  Kemudian hanya menjadikannya sekadar berita saja. Numpang lewat di beranda akun media sosial atau layar televisinya.

Tak ada kepedulian untuk memikirkan akar masalah penjajahan atas kaum muslimin, apalagi sampai mencarikan solusinya. Padahal Allah telah memberitahukan bahwa orang-orang yang beriman adalah bersaudara. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. (QS. Al Hujurat [49]: 10).

Allah sangat suka kepada muslim yang mau membina persahabatan, persaudaraan dan persatuan layaknya bangunan yang kokoh, lebih-lebih dalam upaya membela agama Allah (QS. 61: 4).

Rasulullah SAW mengecam umat Islam yang tidak peduli terhadap nasib saudara seimannya. Barangsiapa yang tidak peduli urusan kaum muslimin, maka dia bukan golonganku. (Al-Hadits).

Barangsiapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka (HR. Al-Hakim dan Baihaqi).

Maka dari itu menjadi keharusan bagi kaum muslimin untuk menyadari pentingnya mengembalikan keberadaan junnah (perisai) ditengah umat. Dengannya kaum muslimin berlindung dari kezholiman negeri penjajah. Perisai kaum muslimin adalah seorang Khalifah. dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Muhammad saw. bersabda: Sesungguhnya al-Imâm (Khalifah) itu adalah perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya. (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dll). Khalifah adalah penguasa yang dibaiat kaum muslimin untuk menegakkan hukum-hukum Allah, melindungi harta, kehormatan dan darah kaum muslimin serta warga negara yang nonmuslim.

Allahu a'lam bi ash-shawwab

*Penulis adalah anggota Komunitas Revowriter dan tim media muslimah Purwakarta


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.