TEROR (TAK HANYA) MENJELANG RAMADHAN

Hot News

Hotline

TEROR (TAK HANYA) MENJELANG RAMADHAN


Oleh: Ummu Syathir
(Pemerhati Masyarakat Bogor)

Ramadhan segera datang. Kaum muslimin di seluruh dunia tampak sibuk mempersiapkan untuk menyambutnya. Terlebih di Indonesia yang mempunyai beragam tradisi yang kadang berbeda disetiap tempatnya. Mulai dari makan bersama keluarga besar, kumpul dengan kawan-kawan,  ziarah ke makam, tarhib Ramadhan, membersihkan masjid serta lingkungan sekitar.

Tapi sangat disayangkan keceriaan menyambut Ramadhan, tercoreng dengan adanya aksi teror. Di belahan bumi kaum muslimin, Palestina tepatnya. Menjelang Ramadhan tahun ini secara resmi Amerika Serikat (AS) memindahkan kantor Kedutaan Besar (Kedubes) nya untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem yang merupakan wilayah Palestina.
(https://m.cnnindonesia.com>internasional)

Di Indonesia sendiri sebagai negeri kaum muslim terbesar di dunia, tak luput dari aksi teror juga. Aksi bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya mengakibatkan rasa takut dan trauma bagi seluruh warga Negara, khususnya masyarakat Surabaya. Kaum muslimin jadi merasa khawatir untuk beraktivitas di luar rumah, padahal moment Ramadhan biasanya ramai dengan berbagai agenda kegiatan seputar keagamaan.

Tidak hanya itu. Di Indonesia aksi teror pun terjadi pada harga barang-barang yang diperlukan saat Ramadhan. Harga sayur-mayur, telur, ikan, daging sapi dan kebutuhan lain naik. Hal ini menjadi teror tahunan. Semacam tradisi yang harus dihadapi ibu-ibu menjelang Ramadhan. (Republika.CO.ID)

Dibarengi dengan teror tarif tol, tarif pulsa listrik, harga BBM, biaya kesehatan, biaya pendidikan. Semua menyebabkan rasa ketidaknyamanan tidak hanya menjelang Ramadhan. Bukankah tujuan teror itu untuk menimbulkan rasa takut, khawatir dan ketidaknyamanan? (teror: WIKIPEDIA INDONESIA)

Mahalnya rasa nyaman menandakan bahwa ada permasalahan. Permasalahan yang perlu secepatnya diselesaikan. Entah permasalahan terkait faktor keamanan, ekonomi, persaingan politik baik regional maupun internasional, dll. Yang pasti dalam semua bentuk teror, baik individu maupun masyarakat  tidak akan mampu menghentikan, melainkan peranan negara yang punya kekuasaan. Kekuasaan untuk menjaga, melindungi dan melayani masyarakatnya.

Dalam kondisi seperti saat ini, teringat kisah Khalifah kaum muslimin Umar Bin Khattab ketika membebaskan teror yang dialami oleh warga negara yang kehilangan rumahnya, padahal ia seorang yahudi.

Khalifah Umar Bin Khattab berpesan lewat tulang yang digaris pedang sebagai bukti penegakkan keadilan dan pemenuhan rasa aman. Atau kisah seorang ibu yang memasak batu dan ketika Khalifah Umar Bin Khattab tahu, tanpa segan memanggul sendiri bahan makanan dari baitul mal dan memasakannya untuk  memenuhi kebutuhan ibu itu dan anak-anaknya.

Kisah Khalifah Umar Bin Khattab ini hanya ada dalam sosok pemimpin Islam yang menerapkan aturan Islam. Saat itu ada sekarang, maka tak akan ada teror menjelang Ramadhan dan bulan-bulan lainnya. Wallahu'alam.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.