Ibuku Madrasah Pertamaku

Hot News

Hotline

Ibuku Madrasah Pertamaku


Oleh : Lilik Yani 

Ibu adalah sosok mulia yang perannya tidak dapat digantikan oleh siapapun. Kasih sayangnya, perhatiannya. Meski terkadang kita harus menerima ocehannya setiap hari, yang menuntut kita melakukan sesuatu. Terkadang juga memarahi kita jika tidak menuruti nasehatnya.
Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, tiada pernah berhenti untaian doa yang beliau lantunkan dengan tulus untuk buah hatinya. Di balik kemarahannya ada pelukan sayang. Di balik air matanya ada harapan dan cinta.

Begitu besar peranan seorang wanita yang mendapat predikat menjadi ibu bagi anak-anaknya. Ibu bagi keluarganya. Hingga mendapat gelar madrasatul uula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Sebelum anak-anak berguru pada ustaz atau ustazah TPA atau di sekolah umum. Mereka lebih dulu berguru kepada ibunya. Sehingga kecerdasan, keuletan, kasabaran dan karakter tangguh seorang ibu akan ikut mewarnai masa depan anak.

Jika kita mendapati anak yang pandai atau berprestasi, maka muncul pertanyaan, anaknya siapa?. Biasanya yang disebut adalah nama bapaknya. Padahal kalau kita telaah lebih dalam, seorang anak yang berprestasi, menjadi ulama cendekiawan atau tokoh ternama, akan lebih tepat jika ditanyakan lebih dulu, "Siapa ibunya?”. Karena ibu yang memiliki peran besar dalam membentuk watak, karakter dan pengetahuan seorang anak.

Kita ingat bagaimana ibu Imam Syafi’I yang begitu gigih mengantarkan Syafi’I kecil menuntut ilmu di negeri yang sangat jauh tempatnya. Berkat kesabaran, kegigihan dan semangat pantang menyerah, mendorong buah hatinya untuk selalu belajar, hingga akhirnya berbuah manis. Syafi’I kecil yang yatim, berkat keuletan dan motivasi ibunya, berhasil menjadi Imam besar yang disegani sampai sekarang.

Menjadi ibu merupakan gelar yang sangat mulia. Hingga Allah menempatkan penghormatan kepada ibu( orang tua ) seperti dalam QS Luqman: 14 “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepadaKulah kalian akan kembali.”

Dalam ayat tersebut, ibu mengalami tiga macam kepayahan yaitu saat mengandung( hamil ), melahirkan kemudian menyusui.
Selain itu dalam sebuah hadist disebutkan : Dari Abu Hurairah ra, seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti? Rasulullah menjawab : Ibumu! Orang tersebut bertanya kembali : Kemudian kepada siapa lagi? Rasulullah menjawab : Ibumu! Orang tersebut bertanya kembali : Kemudian siapa lagi? Rasulullah menjawab : Ibumu! Orang tersebut bertanya kembali : Kemudian siapa lagi? Rasulullah menjawab : Kemudian Bapakmu! ( HR. Bukhari No 597 dan Muslim No 2548 )

Dalam hadist tersebut, Rasulullah saw menyebut kata “Ibu” sebanyak 3 kali. Sementara kata“Bapak” 1 kali. Karena kesulitan menghadapi masa hamil, ketika melahirkan dan menyusui, juga merawat anak-anak, hanya dialami oleh seorang ibu.
Peran ibu yang begitu mulia dan terhormat namun masih banyak yang menganggapnya remeh. Sehingga saat ditanya, "Apa pekerjaanmu?”. Banyak yang menjawab, "Ahh, saya hanya ibu rumah tangga. Menjawab dengan rasa malu-malu dan tidak percaya diri.

Banggalah menjadi ibu rumah tangga, karena sesungguhnya ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sebetulnya diwajibkan oleh Allah. “Dan hendaklah kalian(kaum perempuan) tetap tinggal di rumahmu", QS Al Ahzab: 33.
Begitu tingginya peran dan kedudukan seorang ibu, maka kewajiban bagi kita untuk memuliakan ibu di setiap kesempatan. Bukan sekedar ucapan selamat hari ibu, seperti ajaran barat yang tidak ada dalil syara dan teladan dari Rasulullah SAW.

Mari kita bahagiakan ibu kita, selagi beliau masih ada di antara kita. Jangan sekali-kali menyakiti hati ibu apalagi menelantarkan dengan menitipkan di panti jompo dengan alasan kesibukan kita.
Dosa besar jika kita durhaka kepada orang tua, terutama ibu. Beliau yang melahirkan kita. Kemudian mengajari kita segala sesuatu dan mengenalkan kita tentang adanya Allah Pencipta dan Pengatur seluruh alam semesta ini.

Maka dari itu kita harus berupaya membahagiakan ibu kita dan mohon ridlonya. Karena Ridlo Allah tergantung kepada ridlo orang tua, terutama ibu. Jika kita bisa meraihnya maka hidup kita akan tenang dan selamat dunia akhirat. In syaa Allah.


Penulis adalah seorang Praktisi Pendidikan
Editor: Lulu W*

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.