Meluruskan 'Jalan Tengah' yang Bengkok

Hot News

Hotline

Meluruskan 'Jalan Tengah' yang Bengkok





Oleh : Shafayasmin Salsabila 


Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw untuk mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia. Ajaran Islam sudah sempurna, tidak lagi membutuhkan tambahan atau modifikasi. Tidak boleh pula dikurangi dengan mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya. Sumber hukum dalam Islam sangat jelas yakni Alquran dan as-sunnah. Aturan Islam wajib untuk diterapkan secara keseluruhan. Sami'naa wa atho'naa adalah sikap yang harus ditampakan dalam diri setiap muslim. Kami mendengar dan kami taat. Tanpa tawar menawar dan tanpa kompromi. 

Namun kini, ajaran Islam tengah diuji. Propaganda menyesatkan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam, berhasil menciptakan label buruk terhadap Islam. Islam menjadi tertuduh dari sekian banyak konflik dan peperangan. Menjadi sumber perpecahan. Seakan-akan bukan agama yang ramah, intoleran, dan mengajarkan permusuhan. Sehingga muncul sebuah alternatif gagasan, demi memulihkan citra Islam dengan tampilan baru yang terkesan lebih ramah dan merangkul semua kalangan, termasuk welcome terhadap nilai-nilai dari luar Islam. Munculah istilah Islam Wasathiyah. Sebenarnya, istilah ini tentu tidak asing, karena didapat dari salah satu ayat Alquran. 

Wacana Islam Wasathiyah pun makin  dinyaringkan, dalam kegiatan Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia di Hotel Novotel, Bogor, Kamis (3/5). Kegiatan ini digelar selama tiga hari dan melahirkan Bogor Message, sebuah pesan dari Bogor untuk dunia.(REPUBLIKA.CO.ID) 

Ada tujuh prinsip nilai yang akan dijadikan acuan bersama untuk menyebarkan Islam wasathiyah ke dunia. Yakni : tawassut, i'tidal, tasamuh, syura, islah, qudwah, dan muwatonah. 
Nilai yang pertama yakni tawassut bermakna berada pada posisi di jalur tengah dan lurus. Jalur tengah seperti apakah yang dimaksud? Apakah masih senafas dengan Al-Baqarah : 208 tentang islam kaffah (sempurna) atau lebih mengarah kepada sikap permisif dan tebang pilih terhadap syariat? 
Dan pada pemaknaan lurus, apakah itu berarti sesuai contoh Nabi Saw, atau teladan hidup selainnya? Standar apa yang dipergunakan? 


Makna Islam Wasathiyah

Sangat penting untung memahami kembali dalil tentang perkara ini. Kata 'wasath' sesuai konteks yang menjadi perbincangan KTT Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia, ada dalam satu firman Nya pada  QS. Al Baqarah ayat 143 : "Wa kadzâlika ja‘alnâkum ummatan washatan (Dan demikian Kami telah menjadikan kamu, umat yang adil dan pilihan) 

Dalam bahasa Arab, kata 'wasath' bermakna 'khiyar' (terbaik dan pilihan)*. Senada dengan ayat-Nya dalam surat Ali Imran : 110 dimana Allah memberikan gelar kepada Umat Muhammad Saw sebagai umat yang terbaik. Artinya bahwa Allah menegaskan tentang keutamaan umat Islam atas seluruh umat lainnya. Umat yang paling baik adalah umat yang paling adil. Inilah sifat umat Islam. Ayat yang indah dan mulia ini tidak relevan jika dikaitkan dengan keberadaan Islam moderat (Islam jalan tengah).

Setidaknya ada dua alasan :
Pertama, makna kata wasath. Pada awalnya, kata wasath memang menunjuk kepada tempat yang berada di tengah, namun menurut penjelasan Rasulullah Saw pengertian dari kata tersebut adalah 'ad-l (adil). Adil dalam arti sebuah tindakan atau keputusan hukum yang sesuai dengan syariah. Sebaliknya tindakan mengabaikan syariah meski hanya sebagian (sebagai konsekuensi dari jalan tengah) adalah tindakan yang berlawanan dengan kehendak Allah. 

Kedua, di dalam ayat sebelumnya yakni ayat 142, terkait wewenang Allah Swt atas pemindahan arah kiblat, menunjukan bahwa penetapan syariat adalah hak Allah semata. Dan manusia wajib untuk tunduk dan patuh terhadap semua perintah dan larangan-Nya. Tidak ada tawar memawar ataupun jalan tengah (kompromi), yang ada hanya "samii' na wa atho'na" (Kami dengar dan kami taat). Telah jelas antara yang hak dan yang batil. Termentahkanlah paham moderat yang meniscayakan terabaikannya sebagian syariah dan lebih cenderung kepada akal manusia berikut anggapan, dugaan serta asumsi yang dibangunnya. 


Dibalik Wacana Islam Wasathiyah 

Islam sebagai sebuah sistem kehidupan. Kini mulai memiliki tempat tersendiri di hati umat muslim. Kerinduan untuk kembali kepada ajaran Islam yang memuliakan manusia kian menyeruak. Umat hari ini sudah mulai menyadari bahwa Islam adalah solusi paripurna untuk negeri yang sering dilanda nestapa. Islam bukan sekedar agama ritual namun seperangkat aturan yang akan melumat kezaliman. Membawa keadilan. Tentu kesadaran umat ini, membuat sebagian kalangan merasa terancam. Cengkraman hegemoni asing akan terlepas jika umat Islam bersatu dan menuntut untuk menerapkan Islam secara sempurna di berbagai sendi kehidupan. 

Untuk itulah, segala upaya akan dikerahkan untuk menghadang kebangkitan Islam. Termasuk hembusan angin yang membungkus ide 'gula-gula' Islam Wasathiyah. Yang tidak lain akan menjauhkan peran syariat dalam mengatur kehidupan. Lebih tunduk kepada kepentingan Barat dan mengamputasi syariat. Permisif kepada hawa nafsu serta mengerdilkan ketetapan Sang Pencipta. 

Sungguh, dibalik syariat ada maslahat. Ajaran Islam yang sempurna tentu dirancang demi kebahagian serta kebaikan umat manusia, bukan hanya umat Islam. Karenanya upaya penghadangan kepada Islam kaffah hanya akan menghambat laju kemenangan Islam.
Mengapa menunggu lama? Allah telah ingatkan :
"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka)...."
(TQS. AL-HADID : 16)

Wallahu a'lam bish-shawab
*al-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al Qur'an, vol. 2, 8



Penulis adalah anggota revowriter
Editor: Dwi R*

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.