Memetik Berkah Dari Mudik

Hot News

Hotline

Memetik Berkah Dari Mudik



Oleh : Arinta Kumala Verdiana


Mudik adalah salah satu rutinitas masyarakat Indonesia menjelang lebaran Idul Fitri. Karena banyak dari masyarakat kita, atau mungkin termasuk kita sendiri menjadi perantau di kota. Menggantungkan pencarian nafkah jauh dari desa tempat tinggal tercinta. Ketika lebaran akan tiba, para perantau ini berbondong-bondong  memanfaatkan libur lebaran untuk bertemu dengan orang tua dan sanak keluarga. 

Tak ketinggalan para pengemban dakwah pun akan mengambil momen libur lebaran Idulfitri untuk pulang kampung bersua dengan keluarga tercinta. Namun tentunya tidak sama dengan orang kebanyakan. Mengambil peran sebagai pengemban dakwah, adalah aktifitas yang spesial karena tidak semua orang mau. Maka mudiknya para pengemban dakwah juga harus spesial. Tidak sekedar rutinitas tahunan yang berulang setiap libur lebaran. Tetapi menjadikan mudik lebih berkesan dengan memetik berkah dari momen yang selalu dinanti-nanti ini. 

Untuk bisa memetik berkah dari mudik ada beberapa tips yang bisa kita praktikkan di mudik kali ini. Tapi ini jangan hanya menjadi sekedar tips ya. Upayakan menjadikan mudik lebih berkualitas dengan hal-hal berikut.

1. Tetap melakukan aktivitas dakwah 

Aktivitas pengemban dakwah tentunya tidak lain dan tidak bukan adalah dakwah. Maka dimanapun dia berada itulah lahan dakwahnya. Jadi bukan berarti ketika kita pulang kampung lalu dakwah libur atau cuti. Dakwah tetap jalan tetapi objek dakwahnya saja yang berbeda dari biasanya. Jika objek dakwah kita biasanya adalah masyarakat di sekitar tempat tinggal kita di perantauan. Maka ketika pulang kampung objek dakwah kita adalah keluarga,  sanak saudara,  tetangga-tetangga atau teman-teman yang kita temui saat silah ukhuwah di Hari Raya Idul fitri. Kita tetap bisa menyampaikan ide-ide Islam kepada mereka,  terutama ide-ide yang menyadarkan mereka tentang berislam kaffah. Jadilah kita sebagai subjek yang mewarnai dengan pemikiran Islam bukan jadi objek yang terwarnai dengan pemikiran sekuler.

Selain itu kita tetap bisa melakukan aktivitas dakwah dengan menebar opini Islam melalui tulisan. Meskipun di kampung halaman kita tetap bisa melakukan aktivitas tulis-menulis yang bermuatan dakwah Islam kaffah. Apakah itu melalui media sosial ataukah dengan mengirimkan tulisan-tulisan kita ke media-media online ataukah media cetak. Aktivitas ini bisa kita lakukan meski berada di desa lho. Keberadaan kita di desa jangan sampai menjadi alasan untuk tidak menebar opini Islam. Jika tidak ada laptop,  kita bisa mengoptimalkan smartphone kita tentunya.

2. Jangan lupa niatkan berbagi untuk bersedekah

Salah satu rutinitas yang juga selalu identik dengan lebaran adalah membawa oleh-oleh untuk keluarga dan memberikan uang saku untuk orang tua atau untuk keponakan-keponakan. Nah, agar kebiasaan ini tidak hanya menjadi rutinitas saja karena memang sudah menjadi kebiasaan atau karena sungkan jika tidak melakukan, maka kita tata niat kita bahwa kita melakukannya dalam rangka bersedekah untuk keluarga. Bukankah sedekah yang paling utama adalah untuk keluarga? Dengan meniatkan bersedekah untuk keluarga maka apa yang kita berikan semoga akan menuai pahala sunnah.

3. Tetap syar'i selama berlebaran

Satu hal yang penting juga adalah menjaga syar'i selama berkumpul bersama sanak saudara dan teman-teman. Kita harus menjaga aurat kita. Karena biasanya selama lebaran banyak keluarga dan sanak-sudara yang berkumpul. Kita harus ingat ada dari mereka yang termasuk mahram dan bukan. Maka perhatikan kepada siapa kita harus menutup aurat atau tidak meskipun kita berada di dalam rumah. Karena di desa biasanya keluarga yang bukan mahram keluar masuk rumah tanpa memperhatikan adab bertamu.

4. Menjaga silaturrahim dan silah ukhuwah.

Jika hidup diperantauan,  kita tidak selalu punya kesempatan untuk berkunjung ke rumah keluarga besar. Dengan kita mudik di saat libur lebaran,  kita punya kesempatan baik untuk bisa melakukannya. Tapi jangan lupa kita niatkan saat berkunjung ke rumah keluarga dan sanak saudara adalah dalam rangka menjaga silaturrahim (jika ada hubungan rahim)  dan silah ukhuwah (jika pada sanak keluarga yang tidak ada hubungan rahim). Tentunya dengan tetap menjaga adab-adab bertamu. Seperti mengucapkan salam,  batas salam adalah 3 kali,  tidak menunggu-nunggu jika tidak dibukakan pintu, tidak berlama-lama dan lain sebagainya.

Dengan menjaga hal-hal di atas,  semoga mudiknya para pengemban dakwah bisa jadi lahan untuk menuai berkah. Sehingga kepulangan para pengemban dakwah senantiasa menjadi kepulangan yang istimewa. Wallahu a'lam bi as showwab.



Editor: Hamka*

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.