Menggagas Kampus Toleransi

Hot News

Hotline

Menggagas Kampus Toleransi

Oleh : Rut Sri Wahyuningsih*


Pendidikan adalah kunci utama kejayaan suatu bangsa. Majunya pendidikan baik sarana maupun prasarana adalah jaminan gemilangnya generasi bangsa pemangku peradaban. 
Terkait pendidikan ini, Presiden Joko Widodo keluarkan Perpres Nomor 57 Tahun 2016 tentang pendirian Universitas Islam Internasional. Hal tersebut diucapkan presiden di sela-sela pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran ke-26 di Kompleks Islamic Center di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat ( kompas.com 30/7/2016).

Jokowi mengatakan, sudah saatnya Indonesia sebagai sumber pemikiran dan pembelajaran Islam dunia. Negara lain harus sudah melihat dan belajar Islam di Indonesia. Universitas ini sekaligus juga akan menjadi sumber ilmu, sumber kajian Islam, sumber cahaya moral Islam, dan benteng bagi tegaknya nilai-nilai Islam yang berkeseimbangan, Islam yang toleran, dan Islam yang egaliter. Karena Islam di Indonesia sudah seperti resep obat yang paten, yaitu Islam moderat, sedangkan kalau kita lihat di negara-negara lain masih mencari-cari formulanya, demikian tambahnya.

Senada yang dikatakan presiden, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin berharap dengan pendirian UIII akan mengurangi intoleransi yang terjadi di masyarakat Indonesia. Lukman mengatakan UIII akan mendalami nilai-nilai Islam dengan secara khusus mengkaji dan mengembangkan studi Islam. Dengan studi tersebut, ia berharap Islam dapat dipahami dengan lebih baik.(kompas.com/15/7/2016).

Mengapa selalu kalimat intoleransi yang menjadi pangkal persoalan? Di Indonesia sendiri islam adalah agama mayoritas, rasanya sudah bukan lagi saatnya mempersoalkan apakah islam toleran ataukah tidak. Ada banyak fakta yang justru menyatakan sebaliknya, dimana agama minoritas mengalahkan agama mayoritas. Framing negatif senantiasa disematkan kepada pelaku sebuah peristiwa kriminal jika dia beragama Islam. 

Membangun UIII ( Universitas Islam International) adalah legitimasi Indonesia menjadi pusat pengembangan Islam moderat dunia. Islam moderat dijadikan bahan kajian dan kemudian di lembagakan. Ini sangat berbahaya, karena inilah agenda penghadangan terhadap bangkitnya Islam ideologis. 

Islam adalah satu, sejak diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, Islam datang dengan kesempurnaannya dan kemuliaannya. Di dalamnya terkandung akidah dan syariat. Islam menuntut kepada pemeluknya untuk beriman kepada Allah yang satu, yang ada sejak sebelum dunia, manusia dan alam semesta ini ada dan bahwa Rasulullah adalah utusan Allah. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Al - Maidah:3

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan, “Ini merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla terbesar yang diberikan kepada umat ini, tatkala Allah menyempurnakan agama mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang disyari’atkannya. Semua yang dikabarkannya adalah haq, benar, dan tidak ada kebohongan, serta tidak ada pertentangan sama sekali. 

Maka jika kita masih mau berpikir jernih, ketika Islam dimutilasi atau dikotak-kotakkan menjadi Islam dengan berbagai definisi hal itu jelas adalah sebuah kebatilan. Terlebih dengan mengatakan bahwa ada Islam wasathiyyah atau lebih dikenal dengan Islam moderat. Arti dari Islam moderat itu sendiri adalah Islam yang terbuka untuk ide-ide di luar Islam.

Moderate artinya tidak berlebihan, ghuluw (ekstrim) dalam menjalankan agama. Islam tercermin dalam keimanan, peribadatan, hubungan sosial, tradisi dan dalam pemikiran maupun dalam kehidupan nyata. Muslim moderat adalah yang mau menerima pluralisme, feminisme dan kesetaraan gender, demokratisasi, dan civil society. 

Definisi Islam moderat yang anti Islam dalam dilihat pada situs “muslimsagainstshariah”. Di situ ditulis begini diantaranya: tidak anti bangsa semit, menentang kekhalifahan, kritis terhadap Islam, menganggap Nabi bukan contoh yang perlu ditiru, menentang jihad, pro-Israel atau netral, tidak berreaksi ketika Islam dan Nabi Muhammad dikritik, menentang pakaian Islam, syariah, dan terrorisme.  

Islam moderat dalam perspektif Barat hampir seragam yaitu  yang mendukung kebijakan dan kepentingan Amerika dalam mengatur dunia. Bahkan lebih ekstrim lagi mengartikan moderat sebagai menghormati hak menafsirkan Alquran hak menyembah Allah dengan caranya sendiri, atau tidak menyembah atau bahkan tidak percaya.

Mengingat pengaruh Islam moderat yang sangat berbahaya ini maka hanya ada satu  cara yang bisa menghentikan pergerakan Islam Moderat yang berbahaya adalah dengan wajibnya penerapan syariah Islam kaafah dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagaimana seharusnya Islam itu diturunkan Allah kepada manusia. 

Negara seharusnya menjamin agar sistem pendidikan bagi warganya tercapai secara sempurna. Demikian pula dengan muatan kurikulumnya yang berbasis akidah. Sehingga muncullah generasi yang cinta Allah dan RasulNya. Iklas dalam berjuang. Sistem yang harus ditegakkan pun sesuai dengan perintah Allah dalam Q.S al-Maidah: 48
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu”. Wallahu a' lam bishowab.




Penulis adalah pengasuh Group BROWNIS Sidoarjo
Editor: Lulu W*

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.