Palestina, Di Bawah Sistem Demokrasi VS Sistem Khilafah

Hot News

Hotline

Palestina, Di Bawah Sistem Demokrasi VS Sistem Khilafah





Oleh: Nurhikmah* 

Pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah tahun 1924 Masehi, derita Palestina tak kunjung berhenti bahkan hingga saat ini. Pembantaian, penganiayaan, pelecehan dan hal-hal yang tidak manusiawi lainnya terus dilakukan oleh Israel sejak tumbangnya Khalifah (Sultan Hamid II, Khalifah terakhir, pelindung tanah Palestina). Israel berhasil mencaplok tanah Palestina hingga tak tersisa kecuali sedikit saja. Israel tak pernah membuat hidup rakyat Palestina menjadi tenang. Ambisi mereka untuk menjadikan tanah Palestina sebagai wilayah Israel Raya terus menggebu seakan-akan menjadikan pembenaran bagi mereka atas perlakuan yang tidak manusiawi yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina.
Yang justru mengherankan adalah seberapa brutal tindakan yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina, dunia seakan bungkam dan tidak berdaya. Seolah-olah membenarkan tindakan apapun yang telah dilakukan oleh Israel. Begitu pula dengan pemimpin-pemimpin di negeri kaum muslim. Mereka diam. Tak sedikit pun tergerak untuk mengirimkan pasukan untuk membebaskan rakyat Palestina. Yang bisa dilakukan hanya sekadar kutukan, kutukan, dan kutukan yang sejatinya takkan membuat perubahan dan permasalahan menjadi terselesaikan.
Pasukan Israel menggempur terowongan Hamas di Gaza Utara, Sabtu (12/5), kata militer, menjelang demonstrasi Palestina untuk menentang pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerusalem. Juru bicara militer Jonathan Conricus mengatakan kepada wartawan bahwa pesawat Israel menyerang terowongan sepanjang satu kilometer yang telah digali selama beberapa bulan. Dia mengatakan terowongan tersebut digali penguasa Gaza, Hamas. Selain itu, lebih dari beberapa serangan tepat mengenai terowongan. Sejauh ini, belum ada laporan mengenai korban jiwa atas peristiwa penyerangan tersebut.
Pada Senin, Amerika Serikat dijadwalkan akan menyelesaikan relokasi kontroversial kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Palestina juga menganggap bagian timur kota suci tersebut sebagai ibukota mereka dan puluhan ribu orang diperkirakan akan berkumpul di sepanjang perbatasan Gaza-Israel untuk memprotes pemindahan itu. (antaranews, 13/5/2018)
Kegiatan aksi bela Palestina di Indonesia pun digelar oleh beberapa ormas sebagai bentuk protes dan ketidaksetujuan mereka atas pemindahan kedubes Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem. (Sumber: CNN, 24/4/2018, Republika, 11/5/2018, Berita Satu, 2/5/2018)
Mari kita bandingkan kondisi Palestina sebelum menganut sistem demokrasi yakni ketika Palestina masih berada dalam naungan sistem Khilafah. Sejarah telah mencatat bahwa 400 tahun Palestina pernah menikmati yang namanya perdamaian tanpa konflik seperti halnya sekarang.
Sultan Salim penguasa Turki Utsmaniyah yang menguasai Yerusalem pada 28 Desember 1516 telah membawa Palestina menjadi bangsa yang dipandang oleh dunia. Selama 400 tahun kedamaian meliputi wilayah Palestina dan selama itu pula, umat Islam, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan, damai, dan tanpa adanya pertikaian. Meskipun rakyat yang mendiami Palestina memiliki keyakinan yang beragam, mereka tetap dibiarkan hidup menurut keyakinan dan sistem hidupnya masing-masing. Di sinilah umat Nasrani dan Yahudi yang disebut sebagai ahli kitab benar-benar menemukan arti toleransi yang hakiki. Mereka hidup dalam kedamaian dan dihargai. Kepemimpinan yang adil dan beradab dicontohkan oleh Umar bin Khattab, Salahuddin Al Ayyubi dan Sultan-Sultan Ottoman di wilayah tersebut. Mereka diterima dengan baik oleh dunia Barat pada saat itu dan mereka menjadi bangsa yang bermartabat dan disegani. Berbanding terbalik dengan kondisi sekarang.
Sistem pemerintahan yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadits telah membawa mereka menuju peradaban agung yang belum pernah ditemukan di negara-negara manapun yang menganut sistem demokrasi.
Maka, tak ada solusi lain bagi Palestina untuk kembali meraih kejayaan dan martabatnya selain kembali ke dalam sistem pemerintahan Islam yaitu Khilafah. Membebaskan setiap jengkal tanah kaum muslimin yang telah dikuasai oleh orang-orang kafir, tak hanya tanah Palestina, serta melindungi negeri-negeri kaum muslim dari dominasi sistem kufur dengan khilafah dan jihad, dua kata yang akan mengenyahkan Israel dari tanah Palestina, tanah kaum muslim. Inilah satu-satunya solusi untuk Palestina. Satu-satunya solusi yang insyaa Allah diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya yang artinya: ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya ibarat satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan”.
Oleh karena itu, seluruh kaum muslim harus memiliki kesadaran dan bangun dari keterpurukannya untuk menegakkan junnah (pelindung) mereka yakni Khilafah Islamiyah. Karena Khilafah adalah janji Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, kaum muslim juga harus yakin sepenuhnya bahwa masalah yang menimpa mereka solusinya adalah Khilafah Islamiyyah. Yang in syaa Allah dengannya aturan Allah akan kembali ditegakkan secara keseluruhan, yang akan menebarkan rahmat bagi seluruh alam.



Penulis adalah Mahasiswi FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin
Editor: M. Noor Fadillah*

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.