Akibat dari Kapitalisme

Hot News

Hotline

Akibat dari Kapitalisme


Oleh: Sarinah Aulia

PT Pertamina (Persero) memastikan akan segera menjual gas elpiji 3 kilogram nonsubsidi. Penjualan ini rencananya akan dimulai pada tanggal 1 Juli 2018. Plt Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, elpiji ini nantinya akan dijual bebas kepada masyarakat. Artinya baik masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) maupun yang mampu membelinya (Okezon.com). 

Sebelumnya gas non subsidi sudah pernah diluncurkan tepatnya pada Maret 2018 lalu dengan nama Bright Gas. Bright gas hampir sama dengan gas elpiji 3 kilogram nonsubsidi yang akan diluncurkan pada tanggal 1 juli 2018 nanti, yaitu sama-sama untuk kalangan nonsubsidi.

Pengklasifikasian gas subsidi dan nonsubsidi bisa menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat kita yaitu berada pada kesenjangan ekonomi, dimana ada masyarakat yang berduit dan tidak berduit. Masyarakat yang berduit bisa membeli barang dengan kualitas yang lebih bagus sedangkan yang tidak berduit hanya bisa membeli barang yang biasa-biasa saja dan apa adanya. Begitulah yang terjadi saat ini, ingin hidup enak maka harus berani bayar mahal.

Kehidupan yang serba bayar mahal untuk bisa hidup enak ini merupakan hasil dari kapitalisme yang diterapkan saat ini. Sistem kapitalisme merupakan sistem yang menghasilkan banyak ketidakadilan dalam hidup ini, kesenjangan ekonomi masyarakat merupakan salah satu contohnya. Belum lagi soal hukum yang tumpul keatas tapi tajam kebawah, ini juga merupakan hasil dari kapitalisme. Lalu apa itu kapitalisme ? Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang dicirikan oleh kepemilikan barang modal atau pribadi; oleh investasi yang ditentukan oleh keputusan pribadi, juga oleh harga, produksi dan distribusi barang yang ditentukan terutama oleh persaingan di pasar bebas (https://www.merriam-webster.com/dictionary/capitalism).

Seorang pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya bukan pedagang bagi rakyatnya. Keadaan dimana ada gas subsidi dan nonsubsidi menggambarkan seolah-seolah pemerintah sedang berdagang dengan rakyatnya. Bagi rakyat yang mampu maka mereka bisa beli dengan kualitas yang bagus, sedangkan mereka yang tidak mampu harus puas dengan barang yang seadanya dan apa adanya.

Menurut syariah Islam hutan, air dan energi wajib dikelola Negara. Rasulullah bersabda : “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal ; air, padang, dan api”  (HR. Ahmad). Hadits tersebut menegaskan bahwa bahan bakar api termasuk harta milik umum yang harus dikelola Negara untuk kepentingan masyarakat. Akan tetapi yang terjadi saat ini, Negara malah menjual apa yang telah menjadi harta milik umum tersebut hanya untuk kepentingan sebagian kelompok saja. Inilah arus kapitalisasi yang harus kita sadari saat ini, Negara tidak lagi melayani rakyatnya dengan ikhlas mengharapkan ridho Allah, tapi mereka saat ini sedang berdagang dengan rakyatnya sendiri untuk kepentingan kalangan mereka sendiri.

Jika kesenjangan hanya ditanggulangi sebatas ada gas yang bersubsidi maka ini tidak akan bisa menyelesaikan permasalah kesenjangan yang ada. Karena pemecahan masalahnya hanya sebatas pada permukaan saja, sedangkan akar dari permasalahanya tidak diatasi. 

Permasalahan kesenjangan ekonomi berakar pada sistem kapitalisme yang diterapkan, jadi cara untuk mengatasi akar masalahnya adalah dengan menghilangkan sistem kapitalisme tersebut dan menggantinya dengan sistem yang lebih baik yaitu Islam. Islam bukan hanya sekedar agama tapi dia juga sebuah ideologi, dimana didalamnya terdapat seperangkat aturan yang dapat diterapkan diberbagai bidang kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, dan lain-lain. Dan kita sebagai umat islam khususnya harus percaya bahwa apa yang bersumber dari Allah tentu baik. Jadi tak patut jika kita masih memperdebatkannya sedangkan ilmu yang kita miliki hanya sedikit sedangkan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Apa yang kamu anggap baik belum tentu baik bagi Allah. Apa yang  kamu anggap tidak baik belum tentu tidak baik menurut Allah. Jika kita masih berdebat bahwa sistem saat ini masih baik, hal tersebut belum tentu baik untuk Allah ; sang pemilik alam semesta dan seisinya. Dan jika kita masih berdebat bahwa hukum-Nya tidak baik karena tidak cocok dengan kondisi keberagaman yang kita miliki, hal tersebut belum tentu benar menurut Allah. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, sedangkan manusia itu terbatas. 

Pertanyaannya, pantaskah kita memperdebatkan hukum-hukum-Nya ? tidakah kita sadar bahwa Dia lah yang menganugrahkan segala sesuatunya pada kita, mengapa kita tidak bersyukur akan hal itu ? tapi hari ini ada sebagian kita yang masih kufur akan nikmat-Nya. Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah-Nya bagi kita semua. Aamiin allahummaamiin.


Penulis adalah Mahasiswa Fisip ULM
Editor: Hamka

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.