Harapan Baru Pada Pilkada 2018

Hot News

Hotline

Harapan Baru Pada Pilkada 2018




Oleh : Fathin Robbani Sukmana

Pilkada serentak tahun 2018 telah dilaksanakan beberapa waktu lalu. Masyarakat berbondong-bondong mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS), tidak sedikit TPS yang memiliki tema unik agar menarik perhatian masyarakat agar menggunakan hak pilihnya.
Berdasarkan data KPU RI, 171 daerah yang melaksanakan pilkada serentak tahun ini, banyak harapan dari masyarakat pada pilkada kali ini yang menginginkan pemimpin baru atau tetap melanjutkan periode kedua di beberapa daerah.

Hasil hitung cepat telah menghasilkan kepala daerah baru tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota walau versi resmi dari KPU belum keluar. Penulis tidak akan membahas tentang siapa yang terpilih dalam perhelatan 5 tahunan ini. Penulis akan coba membahas visi misi para calon kepala daerah yang merujuk kepada membangun karakter, akhlak, nasionalisme manusia (masyarakat). 

Pilkada tahun ini terlihat unik. Selain dari kondisi politik Indonesia yang cair, dinamis dan sosial, saat ini masyarakat sedang dalam kondisi memulai era baru dengan internet. Semua kebutuhan seakan-akan menjadi serba online, mulai dari kebutuhan transportasi dan belanja. Bahkan membeli makanan pun tinggal duduk manis dan mengoprasikan ponsel pintar, kemudian menunggu lalu datanglah kebutuhan yang kita inginkan.

Adanya internet memunculkan sisi positif dan negatif. Jika masyarakat mampu mengoptimalkan internet dengan baik, perubahan besar akan terjadi pada masyarakat itu sendiri ke arah lebih baik. Begitu juga sebaliknya. Sayangnya, mayoritas masyarakat masih menggunakan internet hanya untuk informasi dan bermedia sosial semata atau bahkan hanya untuk bermain game, sehingga menyebabkan sikap malas dan mengurangi interaksi sosial di tempat umum.

Selain itu dengan beragam informasi yang tersedia di internet tanpa adanya filter, ini membuat masyarakat tidak terproteksi dan tidak mudah percaya terhadap suatu berita yang belum teruji kebenarannya. Hanya membaca sekilas dan membagikan kepada yang lain, sehingga fenomena hoax bertebaran dimana-mana.

Tentu ini menjadi pekerjaan rumah kepala daerah terpilih nanti sebagai pemimpin terdepan di daerahnya. Semua kepala daerah menginginkan daerahnya maju, beradab dan terdepan. Jika kondisi masyarakat yang enggan membaca, kemudian membagikan berita yang belum tentu benarnya, hal ini menjadi kelemahan yang besar bagi suatu daerah.

Membaca Sebagai Pengawal Membangun Masyarakat

“Mencerdaskan kehidupan bangsa” merupakan visi para pendiri bangsa yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Masyarakat indonesia didorong untuk melek huruf pada awal periode setelah kemerdekaan, lalu mulai belajar berhitung, tujuannya tentu untuk mencerdaskan masyarakat dan mempunyai daya saing dengan negara lain. Upaya melakasanakan amanat tersebut sudah hampir tuntas dengan mewajibkan pendidikan 9 tahun, misalnya adanya sekolah gratis serta banyaknya beasiswa bagi masyarakat indonesia.
Namun dengan era baru internet, masyarakat lebih memilih internet sebagai bahan bacaan dan informasi karena kenyamanan yang didapat, hanya dengan memasukan kata kunci maka akan keluar semua informasi yang ada baik itu benar maupun salah.

Kenyamanan dalam membaca ini yang kurang memadai di Indonesia Perpustakaan daerah belum menjadi tempat nyaman bagi masyarakat yang mencari informasi apapun. Saat ini Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), telah berinovasi dan bermetamorfosa menjadi tempat baca yang nyaman. PNRI menyediakan tempat membaca dengan pemandangan tinggi di atas Kota Jakarta. Selain itu, penyediaan Wifi dan kantin menjadi daya tarik untuk betah membaca di perpustakaan. 

Bagaimana dengan perpustakaan daerah? Perpustakaan daerah harus menjadi perhatian kepala daerah terpilih agar merubah Perpusda menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk mulai membaca dan mencari informasi.
Dalam hal sinergi, kepala daerah bisa bekerja sama dengan komunitas baca untuk memperluas jangkauan untuk masyarakat membaca, pemberian hibah buku, serta izin menggunakan ruang publik untuk menyediakan lapak baca atau bahkan wahana membaca bagi masyarakat. 

Terakhir subsidi buku murah agar masyarakat mampu membeli buku berkualitas namun dengan harga murah, sehingga minat baca masyarakat akan meningkat, mencari informasi tidak hanya di internet tapi juga melalui buku yang masyarakat beli.

Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Langkah Kemajuan Daerah

Setelah proses membaca tentu akan ada perubahan masyarakat, akan ada banyak ide, gagasan serta inovasi-inovasi yang dilakukan oleh masyarakat, terutama kaum muda yang rasa ingin tau yang tinggi.
Saat ini banyak inovasi yang dibuat oleh kaum muda, contoh dua orang siswa di semarang membuat rompi anti peluru di semarang pada 2014 lalu (Viva.co.id), lalu siswi asal lamongan yang merubah kotoran sapi menjadi parfum (tekno.tempo.co), serta Mahasiswa ITB yang menciptakan alat deteksi dini sakit jantung (detik.com). Masih banyak karya anak muda bangsa Indonesia yang hanya terekspos.
Tentunya ini menjadi penting bagi kepala daerah terpilih untuk melakukan pemberdayaan terhadap inovasi serta potensi anak muda di daerahnya, lalu menghargai inovasi tersebut untuk dikembangkan agar dapat digunakan oleh masyarakat. 

Menurut Suhendra (2006:74-75), pemberdayaan adalah suatu kegiatan yang berkesinambungan, dinamis, secara sinergis mendorong keterlibatan semua potensi yang ada secara evolutif dengan keterlibatan semua potensi.
Alur yang dilakukan pemerintah bisa diawali dengan pelatihan, pemberian ruang penelitian, ruang membaca, ruang diskusi untuk sarana pengembangan inovasi. Kemudian melakukan uji layak terhadap inovasi tersebut dan terakhir memasarkan dan membagikan hasil penilitian kepada masyarakat.

Manfaat dari pemberdayaan ini selain menghargai anak muda yang mempunyai banyak inovasi, tentunya bisa menjadi ekonomi rakyat dan bahkan menjadi lapangan pekerjaan, misalnya di DKI sudah ada OKE OCE. Tinggal daerah lain mengikuti dengan konsep sama ataupun konsep yang lebih baik.

Membaca dan Pemberdayaan Masyarakat
Pentingnya membaca dan pemberdayaan masyarakat akan menggerakan masyarakat untuk membangun kesadaran, kepedulian serta produktif. Ini awal bagi kemajuan suatu daerah, karena jika kesadaran, kepedulian serta produktifitas sudah ada dalam masyarakat, pembangunan fasilitas daerah akan sangat bermanfaat, tidak ada lagi perusakan, vandalisme, secara otomatis masyarakat pun akan menjaga fasilitas tersebut dan digunakan sebagaimana mestinya. 
Wallahu’alam Bisshawab 


Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Terbuka
Editor: Riyan P

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.