Nasib Petani Tebu Tak Semanis Gula

Hot News

Hotline

Nasib Petani Tebu Tak Semanis Gula




Oleh. Lulu Nugroho

Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (Aptri) mengungkapkan saat ini gula petani tidak laku. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aptri M Nur Khabsyin mengatakan harga gula petani jauh di bawah biaya pokok produksi (BPP). "Saat ini harga gula petani Rp 9.100 sampai Rp 9.300 per kilogram (kg). Ini di bawah biaya pokok produksi sebesar Rp 10.600 per kg," kata Khabsyin, Republika.co.id (Rabu, 25/7).

Turunnya harga gula disebabkan karena kebijakan impor yang tak terkendali. Ditambah lagi dengan aturan Kemenko Perekonomian yang menetapkan harga gula tani yang dipatok Rp 9.700 per kg. Hingga akhirnya ratusan ribu ton gula menumpuk di gudang-gudang pabrik gula. Karena pedagang enggan membeli. Khawatir harga akan mengalami penurunan lagi.

Kebijakan Pph yang ditetapkan pemerintah ketika petani menjual hasil ke Bulog, juga membebani. Sebab sebagian besar para petani tidak memiliki NPWP. Membayar pajak adalah hal baru bagi mereka. Kehidupan petani gula pun bertambah sempit. Sewa lahan yang tak terbayar, sulitnya penjualan  pasca panen, hingga biaya produksi yang tinggi menambah permasalahan bagi petani tebu. Harapan penguasa untuk kedaulatan bahan pangan serasa hanya mimpi.

Efek domino buah dari kapitalisme semakin terlihat di seluruh pelosok negeri. Bukan hanya menimpa petani gula, juga petani beras dan garam, serta lainnya. Hukum rimba di dalam sistem ekonomi kapitalis. Yang kaya semakin kaya, yang miskin pun semakin miskin. Keuangan hanya berputar di kalangan pemilik modal. Sedangkan rakyat miskin bergantung kepada kebijakan penguasa yang tak bijak.

Persoalan pangan adalah hal yang paling mendasar yang harus segera diselesaikan oleh suatu negeri. Ketergantungan penguasa terhadap negara lain dengan membuka keran impor yang besar, akan mengancam ketahanan sebuah negara. Sehingga rawan terjadinya penjajahan dari sisi ekonomi. Apalagi jika kemudian dijumpai fakta bahwasanya sebenarnya petani mampu memenuhi kebutuhan pangan tersebut.

Islam adalah sebuah sistem kehidupan, memiliki aturan yang mampu mengatasi persoalan umat. Begitu juga dalam masalah ekonomi. Kebijakan impor dalam sistem ekonomi Islam dilakukan hanya jika ketersediaan komoditas bahan tertentu jumlahnya sangat sedikit. Sehingga mengganggu ketahanan pahan di dalam negeri. Sebaliknya jika negara mampu melakukan swasembada pangan, maka impor tidak diperlukan. Hal itu untuk mendorong agar perekonomian negara menjadi kuat.

Dalam Islam, penguasa adalah roo'in atau pengurus yang akan diminta pertanggungjawabannya terhadap urusan rakyat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Imam (kepala negara) laksana penggembala dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari). Maka haram hukumnya membuat kebijakan yang mencekik rakyat. Sebaliknya penguasa bertanggung jawab menjaga kesejahteraan umat.

Sebagai makhluk yang serba terbatas, sudah sepatutnya manusia kembali kepada Allah Sang Pengatur. Allah yang Maha Menguasai, tak mungkin salah dalam membagikan rahmat-Nya. Jika masih bersandar pada ekonomi kapitalis, maka secanggih apapun inovasi manusia dalam membuat aturan tentang persoalan gula di masyarakat, tidak akan mencapai sejahtera. Sebab ekonomi kapitalis hanya menguntungkan pemilik modal. Lain halnya dengan Islam. Islam mengatur perekonomian secara menyeluruh, hingga tidak terjadi ketimpangan antara petani dan pemilik modal.

Perlu perbaikan di semua lini untuk solusi bagi petani tebu. Dari mulai intensifikasi pertanian, ekstensifikasi, biaya produksi yang ringan, penghapusan makelar dan mekanisme penjualan yang memudahkan. Merombak seluruh aturan yang diberlakukan dari sejak hulu hingga hilir dengan menggunakan aturan Islam. Jika disandingkan dengan aturan Allah, maka aturan manusia tidak akan mampu menyamainya, apalagi mengunggulinya. Saatnya negeri ini kembali ke dalam Islam. Untuk membentuk ketahanan pangan serta mengembalikan kesejahteraan yang merata. Tidak hanya bagi petani tebu, tapi bagi seluruh rakyat Indonesia. Al Islaamu ya'lu wa laa yu'laa alaihi.



Penulis adalah Team Redaksi DapurPENA

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.