Pentingnya Menjaga Amanah Sesuai Syariah

Hot News

Hotline

Pentingnya Menjaga Amanah Sesuai Syariah









Oleh: Erna Ummu Azizah 

Baru-baru ini masyarakat Indonesia dikejutkan dengan pemberitaan mengenai divestasi (pembelian saham) PT Freeport yang dilakukan oleh pemerintah. PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) dan  McMoran Inc telah menandatangani pokok-pokok kesepakatan divestasi atau Head of Agreement (HoA) saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Dalam kesepakatan ini Inalum akan menguasai 41,64 persen PT Freeport Indonesia. Langkah ini untuk menggenapi 51 persen kepemilikan saham oleh pihak nasional.

Proses yang akan dilakukan, Inalum mengeluarkan dana sebesar USD 3,85 miliar untuk membeli hak partisipasi dari Rio Tinto di Freeport Indonesia dan 100 persen saham Freeport McMoran di PT Indocopper Investama, yang memiliki 9,36 persen saham di Freeport Indonesia (Liputan6.com, 15/07/2018). Padahal, kontrak karya Freeport berakhir 2021 (tiga tahun lagi) dan otomatis 100 persen Freeport kembali ke pangkuan NKRI. Tanpa biaya. Sekarang, seolah Pemerintah akuisisi 51 persen saham dan perpanjang kontrak karya sampai 2041 (23 tahun lagi) dengan biaya USD 3,85 miliar atau sekitar Rp 53 triliun.

Ironis, kekayaan alam di negeri sendiri dikuasai oleh asing, hingga harus merogoh kocek untuk mengembalikannya kembali ke pangkuan negeri. Dan mirisnya lagi, bukan hanya tambang emas di Papua yang dikuasai oleh asing seperti PT Freeport. Banyak tambang lain dan sumberdaya alam kita yang juga dikuasai oleh swasta dan asing. Padahal sumberdaya alam di negeri tercinta ini adalah amanah sekaligus anugerah dari Allah SWT, mestinya bisa menjadikan rakyatnya makmur sejahtera.

Islam adalah agama rahmah, penuh kasih sayang. Ajarannya begitu indah, sempurna dan paripurna mencakup seluruh aspek kehidupan. Mulai dari masalah ibadah, akhlak, hingga muamalah, semuanya diatur dalam Islam. Hal ini tentu butuh penerapan dalam kehidupan, tidak hanya dari sisi individu, namun juga masyarakat maupun negara. Sehingga terwujud keberkahan, sebagaimana firman Allah SWT: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu,. Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raaf: 96).

Islam juga merupakan sistem kehidupan yang mampu memecahkan seluruh problem kehidupan, termasuk dalam pengelolaan kekayaan alam. Menurut aturan Islam, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing. Di antara pedoman dalam pengelolaan kepemilikan umum antara lain merujuk pada sabda Rasulullah SAW: "Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api." (HR. Ibnu Majah).

Indonesia sebagai negeri dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia, mestinya tidak sulit menerapkan Islam secara menyeluruh (kaffah), karena hal ini bukan hanya kebutuhan, tapi juga merupakan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).

Namun, ketika tuntunan Allah ini tidak diindahkan, tak heran jika kondisi kaum muslimin justru mengalami berbagai kesulitan dan kesempitan hidup. Allah SWT berfirman: "Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (Al-Quran), bagi dia kehidupan yang sempit, dan dia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat kelak dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 124)

Dengan demikian, untuk mengakhiri kisruh pengelolaan sumberdaya alam sebagaimana yang terjadi saat ini, mau tak mau, kita harus kembali pada ketentuan syariah Islam. Karena ini adalah amanah dari Allah dan RasulNya dalam mengatur urusan umat. Dan amanah adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan, sebagaimana firman Allah SWT:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan juga janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS  al-Anfaal: 27).

Selama pengelolaan sumberdaya alam didasarkan pada aturan-aturan sekular kapitalis, tidak diatur dengan syariah Islam. Maka semua itu tak akan banyak manfaatnya bagi rakyat dan hilang keberkahannya. Terbukti, di tengah berlimpahnya sumberdaya alam kita, mayoritas rakyat negeri ini miskin. Pasalnya, sebagian besar kekayaan alam kita hanya dinikmati oleh segelintir orang, terutama pihak asing. Bukan oleh rakyat kebanyakan. Wallahu a'lam.



Penulis adalah seorang Ibu Peduli Umat
Editor: Lulu W*

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.