Ibu Sarjana

Hot News

Hotline

Ibu Sarjana





Oleh: Lulu


Allah SWT berfirman:
وَالْوَالِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَ   ۗ  وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ  لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلَّا وُسْعَهَا  ۚ  لَا تُضَآ رَّ وَالِدَةٌ  ۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُوْدٌ لَّهٗ بِوَلَدِهٖ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَ  ۚ  فَاِنْ اَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا  ۗ  وَاِنْ اَرَدْتُّمْ اَنْ تَسْتَرْضِعُوْۤا اَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْتُمْ مَّاۤ اٰتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

"Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 233)

Rugi atau tidak ya, seorang sarjana tapi 'hanya' jadi ibu?
Pertanyaan yang mengganggu, dan akan terus mengganggu jika tidak tertancap tujuan yang jelas terhadap arah kehidupan kita. Itulah sebabnya di materi awal kajian Islam, kita harus mengurai simpul besar dulu. Asas berpikir ditetapkan baru kemudian menegakkan aktifitas.

Pemikiran umat yang didominasi oleh sekulerisme akan sulit melihat bahwasanya peran seorang ibu adalah tugas yang dibebankan Allah yang Maha Kuasa. Yang memerintahkan seorang ibu sebagai ummu wa robbatul baiyt. Berarti jika diperintahkan Allah, maka wajib hukumnya dan bernilai pahala. Meninggalkan tugas itu, mendapat dosa.

Dalam sekulerisme, peran ibu dipandang sebelah mata. Seolah sia-sia jika sarjana hanya jadi ibu. Mereka lupa bahwa tugas ini tidak mudah. Karena di tangan ibu mulia, akan lahir generasi kebangkitan. Ibu seperti inilah ibu langka. Ibu yang mengerti tugas dan kewajiban yang dibebankan Allah padanya. Ibu ini bersungguh-sungguh menyelesaikan amanahnya.

Pola pikir kapitalis yang tumbuh subur juga merusak pemikiran umat. Seolah perempuan sarjana memang harus kerja. Agar balik modal supaya tidak rugi. Maka didoronglah para ibu untuk keluar rumah. Untuk menghasilkan uang mengembalikan biaya sekolah yang dulu dikeluarkan. Ibu yang kerja di luar rumah pun lebih dihargai masyarakat ketimbang yang tidak.

Demi mencukupi kebutuhan dapur, dan mengatasi biaya kesehatan serta pendidikan yang terus melambung, para ibu juga ikut mencari nafkah. Seolah ibu memiliki tanggung jawab untuk mencukupi nafkah keluarga. Kecilnya penghasilan ayah, harus ditutupi oleh ibu. Beban sebagai pencari nafkah yang semestinya bukan tanggung jawab ibu, dalam era kapitalis sekuler, akhirnya jatuh juga ke pundak ibu.

Rakyat harus membanting tulang untuk kehidupan yang semakin sempit. Walaupun sebenarnya kesempitan ini memang diciptakan secara sistemik. Karena sejatinya dalam Islam, justru penguasa yang memiliki wewenang mengurusi rakyat. Penguasa wajib membuat rakyatnya hidup berkecukupan. Rakyat sejahtera ada dalam jaminan penguasa. Maka sudah selayaknya penguasa kita dorong untuk kembali kepada Islam dalam pengurusan umat.

Lalu, bagaimana halnya sang sarjana 'hanya' menjadi ibu? Rugi atau tidak? Jika dilihat dalam basis pemikiran Islam, jelas tidak rugi. Karena dia menjalankan tugasnya dengan benar. Menjadi ibu dan mengurusi rumah tangga adalah tugas istimewa yang dibebankan Allah. Dan itu berpahala. Jika dia kerjakan tugas ibu dengan mengerahkan segenap tenaganya, in syaa allaah akan muncul generasi pilihan. Hasil tidak akan menghianati proses. 

Apakah ibu bisa bergerak di area publik sesuai dengan keilmuannya? Mengapa tidak? Hal itu adalah sebuah keniscayaan. Karena memang pada faktanya, sangat banyak muslimah yang ahli di bidangnya. Menguasai ilmu yang dibutuhkan bagi kebangkitan umat. Jika ilmu tersebut disebarkan, akan menjadi lahan pahala juga bagi ibu. Namun pastikan bahwa tugas utama ibu tidak terabaikan. Maka kini sudah saatnya kita kembali pada peran masing-masing sebagaimana yang dibebankan Islam. Agar kebangkitan umat segera terwujud. Wa maa taufiqi illa billah.



Editor: Dwi R

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.