Jadi Muslimah Kudu Asyik

Hot News

Hotline

Jadi Muslimah Kudu Asyik





Oleh: Ainul Mufidah
Pernah tidak kita menemui muslimah yang kaku, egois, tidak peka, suka mengeluh, lamban dan lainnya? Dijamin tidak nyaman sama sekali. Muslimah, dengan segala atribut yang melekat pada dirinya menjadi perhatian tersendiri. Terlebih ketika ia seorang aktivis dan pengemban dakwah. Bukan hanya penampilan fisik yang jadi animo umat namun juga akhlak dan kepribadiannya jadi sorotan.

Memang benar, setiap orang punya sisi baik, juga sebaliknya tidak terhindar dari sisi buruk. Begitupun seorang muslimah, ia juga manusia tempatnya segala kekurangan, alpa dan lupa. Namun tidaklah kemudian menjadi kausa ketika ia tidak bisa menjadi sosok teladan di tengah- tengah umat, dengan perilaku yang tidak patut.

Ketika seorang muslimah berhijrah, ia membenahi keimanan yang sederhana menjadi keimanan yang sempurna. Lantas ia mulai dengan memperbaiki kualitas ibadah, lalu meningkatkan kedekatan dengan Allah dengan ibadah-ibadah nafilah. Kemudian ia menanggalkan pakaian jahiliyah berganti hijab syar'i membalut raganya. Hal itu semata karena meningkatnya kesadaran ubudiyah. Kesadaran akan posisinya sebagai hamba yang harus tunduk dan patuh akan titah sang pencipta.

Seiring proses hijrah yang dilalui, biasanya bertambah pula kesadaran untuk mengajak orang lain kepada kebaikan. Dan interaksi dengan orang lain pun tak bisa dihindari. Di sinilah seorang muslimah dituntut menjadi pribadi yang mencerminkan akhlak yang Islami.

Islam adalah agama yang syamil dan kamil. Ajaran yang tiada cacat dan cela. Pandangan hidup yang meliputi seluruh sendi kehidupan, aqidah, syariah yang mengatur muamalah hingga uqubat, juga ukhuwah. Risalah yang dibawa oleh manusia utama, Muhammad SAW. Diin Allah yang harus disebarkan oleh umatnya, sebagaimana telah dicontohkan sang nabi dan para sahabatnya. Tugas yang juga dipikul di pundak muslimah sebagai bagian dari umat.

Hal tersebut menjadikan urgensitas akhlak seorang muslimah. Tersampainya sebuah kebaikan dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antaranya adalah siapa yang menyampaikan dan bagaimana cara menyampaikan.

Sejatinya akhlak terbentuk dari ketaatan kita terhadap hukum syara'. Namun terkadang nafsu lebih menguasai dibanding akal dengan pemikirannya. Dan sifat yang disebutkan di awal tulisan ini, seharusnya dihindari oleh pengemban dakwah agar mulianya risalah tersampaikan dengan indah. Namun lebih sering terjadi imej Islam terpuruk hanya karena sikap pengikutnya yang buruk.
Teruslah mendakwahkan Islam dan teruslah memperbaiki diri. Kenyamanan orang terhadap sikap kita selain sebuah keharusan, bisa juga menjadi wasilah dakwah.Terlebih tidak ada dakwah yang jitu selain diiringi dengan memberikan contoh yang baik.

Sebagai teladan, keindahan akhlak Rasulullah SAW telah diakui tak hanya oleh kawan, bahkan juga lawan. Beliau menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya. Karena Islam tercermin dari pengikutnya, maka sajikanlah Islam sesuai maqomnya. Wallahu 'alam.



Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.