Ketahanan Pangan Kampung Adat Naga Tasikmalaya

Hot News

Hotline

Ketahanan Pangan Kampung Adat Naga Tasikmalaya

(Alam kampung Naga dilihat dari atas/Foto; Dian Ramdani)



Kerawanan pangan menjadi suatu masalah yang sering terjadi di masyarakat, karena masih banyak suatu daerah yang rawan akan kurangnya persediaan pangan untuk kehidupannya sehari-hari, apalagi di zaman modern ini arus modernisasi telah masuk sampai pedesaan berakibat banyak alih fungsi lahan pesawahan yang menunjang sebagai salah satu indikator ketahanan pangan daerah dijadikan suatu perumahan.

Menurut Ariningsih dan Rachman dalam Saliem et al (Journal Volume 6 No 3,2008) menyatakan bahwa “ Kerawanan Pangan ditingkat wilayah maupun tingkat rumah tangga/Individu merupakan kondisi tidak tercapainya ketahanan pangan di tingkat wilayah/individu.”  Maka dari itu krisis kerawanan pangan bukan hanya tugas dari pemerintah yang mengatur dan menjadikan persediaan pangan bagi Masyarakatnya akan tetapi tugas semua elemen masyarakat dalam melaksanakan hal tersebut.

(Tampak depan rumah adat kampung Naga/Foto; Dian Ramdani) 

Masalah kerawanan pangan akan bisa dijawab dengan adanya ketahanan pangan atau dalam istilahnya disebut  food security. Dengan adanya ketahanan pangan baik dalam lingkup satu wilayah makro atau mikro dapat menjawab terjaminnya persediaan akses kehidupan pangannya agar bisa hidup sehat dan beraktifitas dengan baik. Bagaimana jika sistem pertanian tradisional dan tradisi mempertahankan kearifan lokal dengan menjaga keutuhan alam akan menjamin ketahanan pangan disuatu wilayah ?, jawabannya adalah Kampung Naga yang terletak di Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kampung adat ini masih berupaya mempertahankan sistem tradisional dalam pengolahan pertaniannya, Suganda, H (2006:72)  “Kegiatan Ekonomi yang menjadi andalan sebagian besar masyarakat kampung Naga selama ini adalah bertani dan membuat kerajinan.” Dengan mengandalkan bibit varietas lama menjadikan hal yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh bagaimana ketahanan pangan di kampung ini, setelah arus moderniasasi semakin berkembang.



Narasumber : Bapak Ma’un, Punduh Adat Kampung Naga

·        Nama lengkap Bapak Siapa ?
-       Ma’un

·        Jabatan ?
-      Punduh adat . Dikampung Naga ada 2 kepunduhan, secara formal dan informal yaitu Punduh pemerintah yang terikat oleh aturan pemerintahan biasa secara formal, dan yang kedua adalah Punduh adat yang biasa menjaga adat dan tradisi di tugasi untuk menjaga kampung adat,  kampung Naga merupakan salah satu kampung di RT 01, ketua kepunduhan berasal dari kampung Naga dan semuanya meninduk kepada Desa Neglasari ada 9 RT sekarang termasuk kampung Naga nama Bapak RT uron dan RW nya Sarya

·        Sistem pertanian Tradisional dikampung Naga bagaimana ?
-      Menanam Padi yang satu tahun 2 kali disebat Segon itu padi biasanya yang sering ditanam oleh warga kampung Naga, tapi untuk saat ini warga kampung Naga sudah mulai terbuka dan menerima bibit padi dari pemerintah seperti ciherang yang ditanam satu tahun 3 kali, dan disebutnya Padi Lokal yang disebut segon itu, sistem penanaman pertanian dilakukan selang-seling dengan ketentuan jika padi Lokal sudah menguning maka Padi bibit unggul baru mulai di tebarkan di tanah. Nanti masa panennya bisa sama-sama.

·        Apakah pertanian sekarang dikampung Naga tetap menggunakan Pupuk alami/kandang ?
-      Memang kalau dahulu masih kaku menggunakan pupuk kandang/ pupuk Kolong  dalam istilah sunda, tapi beda halnya dengan saat ini yang sudah menggunakan Pupuk buatan juga dan ada juga bantuan pupuk dari pemerintah untuk pertanian, dan tidak banyak pupuk buatan yang digunakan, hanya saja sistem pemupukan tidak kaku terkurung oleh adat dan sering muncul penyuluhan-penyuluhan dari pertanian untuk warga kampung Naga pada khususnya, dan aturan adat tradisi mengatur masa panen hanya satu tahun 2 kali, garapan sawah warga kampung Naga tidak hanya di sekeliling kampung adat ada juga garapan sawah diluar area kampun adat, setiap rumah rata-rata mempunyai garapan hanya saja ada juga yang tidak mempunyai garapan padi, yang dibatas oleh sepuh atau yang dituakan dahulu setiap  orang kurang lebih diberi lahanj 1,5 Meter diarea rumah dan sudah terpenuhi termasuk bale, masjid dan lain sebagainya.

·        Untuk saat ini apakah kampung Naga masih menggunakan sistem pertanian satu tahun 2 kali atau bagaimana ?
-      Tetap aturan penanaman bibit unggul itu dibelakang, jadi yang didahulukan oleh wargfa kampung Naga adalah bibit terdahulu yang disebut segon untuk masalah pertanian, jadi ada suatu permaalahan dari segi biaya dan faktor yang lainnya jika mereka langsung menggunakan bibit unggul padi zaman modern ini, mereka masih tetap setia pada tradisi dan keinginan sesuai aturan bahwa bibit terdahulu di prioritaskan. Untuk penyelang dari masa panen bibit lama ke bibit baru sering terjadi serangan hama baik dari tikus, burung dll sehingga banyakn kerugian yang didapatkan dari biaya pertanian yang dikeluarkan.

·        Bagaimana sistem pengolahan padi secara tradisional dari awal sampai akhir ?

·       Tebar Benih
·       Mencangkul Ladang Padi
·       Ngararata
·       Tandur , Januari dan Juli aturannya
·       Ngarambet
·       Panen Padi
·       Numbuk Padi

·        Bagaimana warga kampung Naga yang tidak mempunyai Garapan ?
-      Dikenal istilah gacong  dalam bahasa sunda, jadi sistem kekerabatan dan kerja sama masih dipertahankan kepada warga yang tidak mempunyai garafan masih bisa dan sanggup untuk sama-sama merasakan hasil panen padi, sistem gacong setiap panen dilakukan 5-7 Kg, beda antara sistem antara yang mempunyai garafan antara memakai biaya atau tidaknya kebanyakan Petani untuk warga kampung naga dan pengrajin karena kita tahu bahwa kampung Naga merupakan sentral pengunjung yang datang, ada juga warga kampung Naga yang merantau keluar Tasikmalaya untuk mencari kerja dan penghasilan.  Sistem perhitungan bagaimana wedal dan Hurip misalnya antara senin hurip dengan kamis bagaimana sistem adat melaksanakan ada yang memekai ada juga yang tidak Tradisi adat contoh hajat sasih.

Proses menjadi beras sehari-hari  di tumbuk kalau lebih dari 50 Kg di heler pakai mesin .malahan cukup dan banyak lebihnya dan alhamdulilah setiap saat mencukupi malahan di Goa sudah menguning Lumbung digunkan kalau ada kegiatan di adat maka digunakan dari sana, hasil se ikhlasnya warga kampung naga/KK untuk menyumbangkan ke Lumbung Padi setiapn Panen padi, halu untuk numbuk padi umum bisa dipakai Ketahanan pangan satu tahun  2 kali sangat bagus dan bisa mencukupi aturan” pupuk dari pemerintah di pakai.



(Penulis bersama Punduh Adat yang juga narasumber/Foto; Dian Ramdani)


*/Penulis adalah Dian Ramdani peserta "Pelatihan Jurnalistik Online dan Offline Juara 1" di Grup WhatsApp

Editor : Bang AR

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.