Legitimasi Pernikahan Dini, Perlukah?

Hot News

Hotline

Legitimasi Pernikahan Dini, Perlukah?




Oleh : Raden Ayu Ekalina Amd.Tex


Pernikahan dini atau biasa disebut nikah muda bukan hal baru di negeri ini, pun tak tabu. Umumnya hal ini terjadi di pelosok-pelosok desa.

Bagi masyarakat kita yang mayoritas beragama Islam, hidup pada era 40-an hingga 70-an bahkan sebelumnya, pernikahan wanita diusia 13-14 tahun dan juga pria pada usia 16-17 tahun, menjadi hal yang biasa untuk dilakukan. Tetapi berbeda dengan masyarakat “zaman now”.  Pernikahan dini menjadi hal yang aneh, bahkan viral di berbagai media.

Cerita terbaru datang dari bocah berinisial IB (14) dan ZA (15) yang sempat menjadi pasangan suami istri (pasutri) selama dua malam saja. Kemudian pernikahan pasangan remaja ini di Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel), dibatalkan karena dianggap tidak sah. 

"Sebab, pernikahannya tidak sah," ucap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tapin, Hamdani (dikutip Jawa Pos.com, Rabu, 18 Juli 2018).
Menurut UU Perkawinan di negara kita, pernikahan dini tidak mendapat legitimasi secara hukum. Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan menyebut, 
"Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun."

LALU BAGAIMANA ISLAM MEMANDANG STATUS PERNIKAHAN DINI?
Islam sendiri tidak melarang adanya pernikahan dini atau menikah di usia muda. Hal ini diperkuat dalam peristiwa Nabi Saw. yang menikahi A’isyah pada umurnya 6 atau 7 tahun dan berumah tangga dengannya pada umur 9 tahun.
Hukum syariat tersebut berlaku untuk umat Islam sebagaimana para shahabat, mereka menikah pada usia dini dan usia tua tanpa batasan umur tertentu. Tidak boleh ada aturan apapun yang menyelisihi syari'at yang ditetapkan Allah dan Rasulnya.

Dalam hal ini jelas tidak seorangpun yang diperkenankan membuat syari’at baru di luar syariat Allah dan Rasul-Nya, karena syariat tersebut telah mencukupi. Barang siapa berpendapat selain itu, maka dia telah mendzolimi dirinya sendiri. 
Allah SWT telah mencela jenis manusia seperti mereka dalam firman-NYa:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
Apakah mereka memiliki sekutu (tandingan) yang membuat syariat bagi mereka tentang agama tanpa ijin Allah” (Q.S. Asy-Syura: 21).
Firman Allah Ta’ala:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Q.S. An-Nur: 63)

HUKUM MENIKAH DALAM ISLAM
Hukum menikah dalam pandangan syariah bisa menjadi sunnah, wajib atau mubah saja. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi makruh dan haram untuk dilakukan. Semua tergantung kondisi dan situasi yang dihadapi seseorang.

1. Hukum Pernikahan Menjadi Wajib
Apabila seorang yang sudah mampu secara finansial dan sangat beresiko jatuh ke dalam perzinaan, maka wajib hukumnya bagi dia untuk menikah. Hal ini disebabkan bahwa menjaga diri dari zina adalah wajib. Maka jalan keluarnya hanyalah dengan cara menikah.
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui."(Q.S. An-Nur: 32).

2. Hukum Pernikahan Menjadi Sunnah
Sunnah artinya tidak sampai diwajibkan untuk menikah. Ini terkait kondisi seseorang yang sudah mampu namun masih bisa menjaga dirinya dari zina dikarenakan lingkungannya yang cukup baik dan kondusif.

Namun bila dia memutuskan untuk menikah, tentunya akan mendapatkan keutamaan yang lebih baik dibandingkan tidak menikah. Setidaknya dia telah melaksanakan anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak jumlah kuantitas umat Islam.
Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : 
"Nikahilah wanita yang banyak anak, karena Aku berlomba dengan nabi lain pada hari kiamat." 
(H.R. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbam).

3. Hukum Menikah Menjadi Haram.
Secara normal, ada dua hal utama yang membuat seseorang menjadi haram untuk menikah, yaitu.
-  tidak mampu memberi nafkah.
-  tidak mampu melakukan hubungan seksual. Contohnya impoten, cacat fisik yang permanen atau menderita penyakit menular. Dalam hal ini sebelum pernikahan dilansungkan harus ada keterbukaan antara kedua belah pihak sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.
Selain itu, masih ada lagi sebab-sebab tertentu yang mengharamkan untuk menikah. Misalnya wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki yang berlainan agama atau atheis, menikahi wanita pezina dan pelacur. Juga menikahi wanita yang haram dinikahi (mahram), wanita yang punya suami, dan wanita yang berada dalam masa iddahnya.

Ada juga pernikahan yang haram dari sisi lain karena pernikahannya tidak memenuhi syarat dan rukun. Seperti menikah tanpa wali atau tanpa saksi. Atau menikah dengan niat untuk mentalak, hanya untuk sementara waktu. Lebih kita kenal dengan nikah kontrak.

4. Hukum Pernikahan Menjadi Makruh
Orang yang tidak punya penghasilan sama sekali dan tidak sempurna kemampuannya untuk berhubungan seksual, hukumnya menjadi makruh bila menikah. Tapi bila calon istrinya rela dan memiliki harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka dibolehkan bagi mereka.

5. Hukum Pernikahan Menjadi Mubah
Ini terkait kondisi orang yang berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah, maka baginya hukum menikah menjadi mubah atau boleh. 
Tidak dianjurkan untuk segera menikah namun juga tidak ada larangan untuk menikah. Pada kondisi tengah-tengah seperti ini, maka hukum nikah baginya adalah mubah. 

BAGAIMANA KITA MENYIKAPINYA?
Legalitas formal sebuah pernikahan tidak hanya bersifat normatif sebatas sah dan tidaknya suatu perkawinan. Melalui akad nikah diharapkan pernikahan bisa langgeng. Juga terjalin keharmonisan di antara pasangan suami istri, saling mengasihi dan menyayangi sehingga masing-masing pihak merasa damai dalam rumah tangganya.
Sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran adalah;
 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang …” (Q.S.30:21). 

Menikahlah jika memang itu menjadi keputusan terbaik yang membawa banyak manfaat bagi kita. Insya Allah niat baik selalu berakhir baik. Allah yang akan menyelesaikan dan menyempurnakan urusan urusan kita. Yakinlah!
Rasulullah Saw bersabda :
Siapa saja yang menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (Thabarani dan Hakim)



Editor : M. N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.