Mogol, Di Negeri Antah Berantah

Hot News

Hotline

Mogol, Di Negeri Antah Berantah




Oleh : Mbak Pur

Pengertian kata mogol (asal bahasa Jawa) yang kuterima dari orangtuaku mungkin hanya separuh, artinya mandeg alias berhenti karena itu tidak maju ya tidak juga mundur. Maklum aku anak blasteran, antara budaya Banjar dan budaya Jawa. Jangan dikira blasteran itu cuma bule yang mukanya indo, terus enak dilihat lantas laris dapat tawaran endorse.

Berhenti di tengah-tengah. Jadi ibarat masakan tidak matang, tetapi juga tidak mentah. Persis seperti emak-emak masak yang kehabisan gas. Mandeg masakannya cuma separuh matang. Sebab gas menghilang seolah pasokan kurang karena harga makin mengembang.

Sama seperti nasib di negeri antah berantah, yang mogol karena pembangunannya seolah berjalan. Terlihat dengan banyaknya infrastruktur yang diadakan serba mendadak dan tanpa persiapan. Hingga kemudian dikabarkan banyak yang ambruk.

Seolah proyek  mercusuar dimana terlihat benderang. Namun hanya pencitraan ternyata dibangun dari pondasi utang riba. Akhirnya bukan keberkahan yang didapat, malah kemalangan yang menimpa.

Gempa bumi saja sebagai pertanda dari Illahi masih ditimbang dengan untung rugi. Tak mengerti jerit tangis anak sendiri, malah sibuk mengurusi pesta dengan tamu luar negeri yang dilabeli "Sigem" bergengsi.

Mogol, karena di negeri antah berantah itu sesungguhnya kaya hingga terkenal dengan julukan gemah ripah loh jinawi. Namun malang rakyatnya, hanya kacung belaka karena kesepakatan yang   mengatasnamakan kebijakan yang memang tak pernah terasa bijak. Sebab yang disejahterakan adalah pekerja asing dan aseng. Wong pribumi alias wong cilik hanya menggarap lahan yang cilik dengan pendapatan yang sedikit.

Telanjur utang sudah melilit. Sungguh kasihan rakyat di negeri antah berantah itu dibebani utang Rp 13 juta per orang. Hingga bingung saat jatuh tempo, akhirnya kebijakan menyasar pada rakyat supaya membayar pajak agar menjadi orang bijak. Tapi kemana hasil pajak jika banyak dibajak (baca: korupsi).

Lantas masihkah teguh sepenuh hati dan jiwa mempertahankan ganti supirnya saja? Tidakkah beberapa kali di negeri antah berantah itu gonta ganti yang mengendalikan negeri, namun tak jua sejahtera dirasa rakyatnya hingga kini. Ibarat sebuah mobil negeri antah berantah itu sudah terlihat seperti mobil yang amat rongsok. Supir sekelas Lewis Hamilton yang juara F1 pun tak kan berguna keahliannya jika mobil yang dikemudikan sudah pantas dikilokan saja pada pemulung yang sering berkunjung.

Apalagi supir yang ada hanya duduk manis tak bisa menyetir, lantas dia sendirilah yang akan disetir. Wah bahaya buat penumpang yang tak lain adalah penduduk negeri. Pantas saja tak tentu arah hingga mobil tak terkendali menuju lubang kebangkrutan.

Sudah saatnya kita bersama berpikir ulang mengganti mobil yang usang. Hingga negeri ini dapat melaju kencang dengan seorang pemimpin yang terpandang, demi menggapai keridaan Illahi karena semua aturan-Nya dapat dijalankan.


Penulis Emak Pembelajar Ideologis
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.