Pernikahan Halal Yang Dilarang

Hot News

Hotline

Pernikahan Halal Yang Dilarang




Oleh : Ika Sartika S.HI.

Akhirnya KUA Binuang, Kalimantan Selatan membatalkan pernikahan pasangan usia dini IB (14) dan ZA (15). Padahal sebelumnya, pernikahan pasangan yang dianggap masih bocah ini sempat menggegerkan dunia maya. (http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/07/14). Alasan pembatalan terjadi, karena wali yang ditunjuk oleh pihak pengantin perempuan adalah penghulu kampung. Hal itu dianggap tidak memenuhi kriteria sebagai wali hakim. Karena penghulu kampung bukanlah pejabat KUA. Sehingga pernikahan pasangan usia dini tersebut dinilai tidak sah.

Bila ditelisik lebih jauh, pembatalan pernikahan yang terjadi antara IB dan ZA terjadi karena persoalan umur kedua pasangan masih terlalu dini. Seperti yang tertera di dalam UU Perkawinan no.1/1974 pasal 7 menyebutkan bahwa syarat usia pernikahan pengantin laki-laki minimal 19 tahun dan pengantin perempuan 16 tahun. Sehingga pernikahan yang dilakukan pasangan itu dianggap tidak sah di mata hukum negara. Sehingga bisa dibatalkan. Jadi bukan semata-mata tidak sah di mata agama. 

Bila dilihat dari kasus tersebut, sebenarnya pernikahan tidak perlu dibatalkan, tapi cukup diulang akad dengan menghadirkan kakaknya sebagai wali atau wali hakim dari petugas KUA setempat. Bukan dibatalkan atau dianggap tidak terjadi akad. Namun yang terjadi pihak KUA malah melakukan pembatalan.

Seperti yang kita ketahui. Pernikahan dini di negeri ini masih dianggap sebagai sebuah permasalahan. Tingginya angka pernikahan dini membuat gerah beberapa pihak di negeri ini, diantaranya para aktivis perempuan dan gender. Banyak sebagian beranggapan usia di bawah 17 tahun, masih dikategorikan sebagai anak-anak. Sehingga belum siap untuk menjalankan kehidupan setelah pernikahan, baik secara fisik, psikologis, emosional, dan finansial.
Berbagai alasan yang selalu dilontarkan atas pelarangan pernikahan dini di antaranya adalah alasan ketidaksiapan alat reproduksi. Secara fisik, usia 10-14 tahun dianggap memiliki resiko kematian saat hamil dan melahirkan dibanding usia 20-24 tahun. Selain itu secara psikologis, perempuan yang menikah dini memiliki resiko tinggi untuk mengalami depresi, kecemasan, dan pikiran bunuh diri. Belum lagi dalam persoalan pendidikan. Biasanya, kebanyakan anak yang menikah muda akan putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan. Itu kemudian berimbas pada kemandirian finansial pasangan muda tersebut.

Pandangan Islam Tentang Pernikahan Dini
Pernikahan merupakan salah satu bentuk ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Di dalam Al-Quran terdapat sejumlah ayat mengenai masalah pernikahan. Diantaranya dalam surat Ar Ruum ayat 21.

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ 

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. "

Islam adalah agama yang menjaga kesucian. Dengan menikah perkara yang haram menjadi halal. Hubungan laki-laki dan perempuan yang tadinya tidak boleh, dengan adanya akad ijab kabul dalam pernikahan menjadi boleh. Dengan menikah, naluri seksual suami istri tersalurkan sekaligus sebagai sarana untuk menghasilkan keturunan. Sehingga dengan menikah eksistensi manusia bisa terjaga di muka bumi ini. Sehingga keberadaannya merupakan fitrah bagi manusia itu sendiri.

Dalam Islam sendiri tidak ada istilah pernikahan dini. Karena dalam perspektif fiqh Islam tidak ditemui adanya batas usia minimal atau maksimal dalam pernikahan. Selama memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan syariat terpenuhi, maka menikah diusia muda belia hukumnya mengikuti hukum pernikahan pada umumnya. Bisa wajib, sunnah, makruh, mubah atau haram.

Pernikahan bukanlah perampasan hak anak, seperti yang selalu digembar-gemborkan oleh para feminis dan aktivis gender. Pernikahan adalah perpindahan perwalian dan tanggungjawab seorang ayah kepada seorang suami. Tugas menafkahi, melindungi, mengasihi, memenuhi hak serta mendidik anak perempuan diserahkan seorang ayah kepada seorang laki-laki yang dipercaya mampu menanggung itu semua.

Pernikahan Dilarang Zina dibebaskan
Tindakan pembatalan pernikahan terhadap pasangan muda di Tapin Kalimantan Selatan merupakan sebuah kezaliman. Karena pernikahan yang tidak sah di mata negara, namun sah di mata agama bila syarat sahnya disempurnakan kembali. Maka, ia legal dan sah dihadapan Allah. Dan pembatalan terhadap yang sah dapat dikategorikan pendurhakaan kepada Allah SWT. Apalagi hanya karena alasan umur yang tidak sesuai dengan undang-undang yang diciptakan oleh manusia.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."  (Qs. Al Maidah : 87)

Pelarangan nikah muda karena dibatasi oleh hukum positif dalam masalah umur, dapat menimbulkan efek negatif. Hal ini menyebabkan tindakan maksiat dalam hubungan lawan jenis. Karenanya, banyak para pemuda yang berusia belia di bawah 16-19 tahun yang sudah matang secara fisik dan mentalnya serta mampu mencari nafkah telah siap untuk menikah. Namun, adanya aturan yang melarang mereka menikah harus menahan diri untuk menikah. Akibatnya hubungan seksual diluar nikah atau seks bebas semakin merebak. Tentu saja itu jauh lebih bermasalah dan menjadi ancaman besar bagi  negeri ini. Namun, hal ini justru tidak mendapatkan perhatian yang serius. Malah seolah menutup mata terhadap rusaknya pergaulan remaja saat ini.

Miris rasanya bila pernikahan dini dilarang tapi pergaulan bebas disemarakan. Sehingga pemuda-pemudi yang ingin menjaga kesucian melalui pernikahan dipersulit, bahkan dilarang nikah karena alasan belum cukup usia. Bila alasannya karena usia di bawah pernikahan belum memiliki kematangan alat reproduksi, sehingga belum siap untuk hamil dan melahirkan. Bukankah pelaku seks bebas dari kalangan remaja juga beresiko lebih besar untuk hamil dan melahirkan? Bahkan karena alasan malu bisa saja melakukan aborsi yang jauh lebih membahayakan. Belum lagi ancaman penyakit menular akibat pergaulan bebas yang berganti-ganti pasangan.


  1. Tidak selayaknya menganggap pernikahan dini sebagai sebuah masalah. Justru pernikahan salah satu jalan terhindarnya para pemuda-pemudi dari perzinaan. Bilapun kemudian ada permasalahan dalam pernikahan di usia dini. Pemerintah sebagai pengatur urusan umat meminimalisir penyebab permasalahan tersebut. Dengan membuat kebijakan yang membuat pernikahan dini tersebut membawa kebaikan bagi masyarakat. Bukan melarang dan membatalkan pernikahan.

Inilah sistem sekuler, sistem yang menafikan aturan Allah. Sistem yang menjadikan aturan didasarkan pada akal manusia. Yang halal menjadi haram dan haram menjadi halal. 
Wallahu 'alam bishowab.



Penulis adalah seorang Muslimah Peduli Umat
Editor : M. N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.