Tatap Aku Bunda...

Hot News

Hotline

Tatap Aku Bunda...




Oleh: Vinci Pamungkas 

"Kakak, liat sini... cium ikannya! cepetan, bunda mau fotoin, teriak seorang ibu muda dari pinggir kolam permainan menangkap ikan. 

Sejak anaknya nyemplung, ibu ini tampak sibuk jeprat jepret dengan kamera telepon pintarnya. Cekrak cekrek, upload. Setelah mendapatkan foto yang diinginkan, si ibu menunduk. Diam tanpa kata namun jempolnya terus menari-nari di atas layar sentuh. Sibuk menjawab komentar dari foto yang diunggahnya. Sementara si kakak bermain bersama teman-temannya tanpa pengawasan. 

Ibu-ibu jaman now memang keranjingan telepon pintar. Tak bisa rasanya jauh-jauh darinya. Bahkan tak pernah diputus koneksinya ke internet. On terus. Bahkan, saat menjaga si buah hati pun telepon pintarnya selalu digenggam. Sedikit-sedikit bunda menunduk, sebentar-sebentar bunda buka notifikasi. Dari mulai whatsapp, facebook, instagram, line, telegram, twitter, path, sampai shopee. Si telepon pintar terus berteriak tanpa lelah. Apalagi jika bunda aktif jualan daring, ditinggal sebentar, wiiih mbrudul notifnya. Akibatnya, perhatian pada si kecil terbagi. Menjawab pertanyaannya sambil ngetik. mata pun tak sempat meliriknya. Bunda hanya fokus pada handphonenya. 

Kata orang, dari mata turun ke hati. Dari memandang tumbuh kasih sayang. Si kecil pun sama, dia butuh tatapan bunda. Haus akan sentuhan dan pelukan. Terkadang, kita meremehkannya. Merasa bahwa dia belum mengerti apa-apa. Belum kenal dicuekin. Tidak tahu rasanya diabaikan apalagi sakit hati. 

Akal seorang anak memang belum sempurna. Tapi Allah telah memberikan kebutuhan jasmani dan naluri sejak mereka dalam buaian. Saat diacuhkan, mereka mampu merasakannya. Ketika tak ditatap, dipeluk, dan dicium maka mereka membalas dengan keengganan. Inilah respon dari sebuah naluri. 

Jika pengabaian ini berlarut-larut, maka akan hilang kedekatan bunda dengan buah hati. Dia akan memilih bermain bersama 'bibi atau mba' daripada dengan bunda. Dia minta dimandikan, disuapi oleh nenek daripada dengan bunda. Dia akan menangis jika handphonenya diambil tapi tak peduli ketika bunda akan pergi. Pada akhirnya antara bunda dan si kecil muncul sekat. Dinding yang bunda bangun tanpa bunda sadari. Dinding hasil dinginnya sikap bunda.

Munculnya partisi ini akan menyebabkan sulitnya bunda menasihati sang buah hati. Anak lebih mendengar suara neneknya atau temannya dibanding ibunya sendiri. Meskipun nasihat mereka bisa jadi menjerumuskannya. 

Rasulullah saw telah mencontohkan, bagaimana seharusnya berinteraksi dengan anak. Dari Abu Hurairah ra ia berkata, "Nabi saw mencium Hasan bin Ali ra, dan didekat beliau ada Al Aqra nin Habis At Tamimi. Al Aqra berkata 'Sesungguhnya aku punya sepuluh orang anak. Namun Aku tidak pernah mencium satu pun di antara mereka'. Rasulullah lalu memandangi Al Aqra dan bersabda, "Siapa yang tidak menyayangi ia tidak disayangi" (HR Bukhari Muslim). 
Juga diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata "Rasulullah saw memeluk putranya Ibrahim lalu menciumnya" (HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah saw penuh kehangatan dan menunjukkan kasih sayangnya dengan aktivitas fisik tanpa jaim. 

Semoga dinding itu belum terbangun. Kalaupun sudah, insyaallah masih bisa diperbaiki selama raga belum berpisah dengan nyawa. 

Coach parenting, abah Ihsan Baihaqi memiliki program brilian untuk mempererat bahkan memperbaiki hubungan antara orang tua dan anak. Program ini disebut 18-21. Aturan program ini adalah tidak menggunakan gadget, televisi, dll selama 3 jam berturut-turut. Sejak pukul 18.00-21.00 atau di jam yang lain menyesuaikan dengan waktu luang orang tua dan anak. Diambil waktu 18.00-21.00, karena biasanya itu waktu premier seluruh anggota keluarga ada di rumah. Setiap anggota keluarga harus berinteraksi satu dengan yang lain. Pokoknya ngobrol, apapun boleh dibicarakan. Ini demi terwujudnya kedekatan antara orang tua dan anak, suami dan istri, serta antar sesama anak. 

Simpan gadgetmu, luangkan waktu sejenak untuk anak. Investasi besar untuk kehidupan di akhirat. 
Wallahu'alam bishshawab 



Penulis adalah Ibu Peduli Generasi dan Anggota Revowriter
Editor : M. N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.