Ulama Di Pusaran Pemilu

Hot News

Hotline

Ulama Di Pusaran Pemilu


(foto.tempo.co/mencari-dukungan-prabowo-kunjungi-pesantren-di-banten)


Pemilu periode ini akan menjadi periode pemilu yang menegangkan, sekaligus pemilu harapan. Menegangkan karena masing-masing kubu sudah pernah bertemu di pemilu sebelumnya. Masing-masing kubu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kubu yang satu mengangkat ulama sedangkan kubu lain kalangan pengusaha muda.

Pemilu kali ini pun diharapkan bisa membawa perubahan dengan terpilihnya pemimpin baru. Karena pemimpin yang terpilih di pemilu sebelumnya dinilai belum bisa membawa pada perubahan kesejahteraan masyarakat. Hutang negara semakin tinggi. Bahkan sering terjadi konflik berlatang belakang agama dan sebagainya.

BACA JUGA : http://www.dapurpena.com/2018/08/pemuda-melek-politik.html

Untuk itu masing-masing mengerahkan segenap strateginya supaya bisa menarik hati masyarakat. Hadirnya cawapres dari kalangan ulama (walaupun akhirnya pihak oposisi tidak mengambilnya) menunjukkan dua hal:

Yang pertama masyarakat menggantungkan harapan bahwa negeri ini sudah saatnya dipimpin seorang ulama yang mewakili mayoritas umat Islam di Indonesia. Umat Islam menginginkan adanya perubahan untuk negeri ini. Adanya ijtima ulama yang mengusulkan ustaz Abdul Shomad dan Assegaf sebagai cawapres Prabowo menjadi bukti akan hal tersebut.

Yang kedua, tidak bisa dipungkiri bahwa ada pihak yang memandang bahwa suara umat Islam dalam perebutan kekuasaan ini sangat penting dan dibutuhkan. Maka kemudian diputuskanlah untuk mengangkat kembali ulama supaya tercapai hasrat mereka untuk menang. Padahal sebelumnya pihak ini sering mengeluarkan pernyataan bahwa agama tidak boleh masuk dalam dunia perpolitikan. Yang menjadi pertanyaan apakah cukup jika mengangkat ulama menjadi cawapres lantas permasalahan negeri ini selesai?

Indonesia bukan hanya kali ini menjadikan ulama sebagai cawapres. Ulama juga pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini, sebut saja KH. Abdurrahman Wahid. Kemudian Hamzah Haz yang menjadi wakil Presiden Megawati saat itu. Indonesia juga pernah dipimpin seorang cendekiawan seperti B. J Habibi. Lalu mengapa Indonesia tidak juga bangkit dari keterpurukannya?

Indonesia perlu lebih banyak menganalisa bahwa untuk menjadi sebuah negara yang besar maka tidak hanya dibutuhkan orang orang yang berahlak baik saja atau orang orang yang secara akademis pandai. Tapi lebih dari itu, sebuah negara harus memiliki Ideologi yang mampu membawa negara tersebut memimpin dunia.

Ideologi lahir dari pandangan hidup tertentu, sehingga akan lahir pemikiran-pemikiran dasar dalam menilai pandangan dan sikap tertentu. Ideologi memiliki pemikiran dasar yang lengkap dan metode dalam merealisasikannya.
Maka lihatlah Amerika, atau Uni Soviet dan tengoklah peradaban Khilafah yang dulu berpusat di Turki. Amerika mampu menjadi pemimpin bukan hanya memiliki orang orang yang pandai tapi sebuah sistem kehidupan yang saat ini kita kenal dengan ideologi kapitalismenya. Uni Soviet dengan ideologi komunismenya, dan Khilafah dengan ideologi Islamnya.

Indonesia mengklaim dirinya memiliki Ideologi Pancasila tapi bagaimana faktanya? Ekonomi memakai ekonomi kapitalis, politiknya liberal, nilai-nilai kehidupannya juga sekular yakni memisahkan agama dari kehidupan padahal mayoritas penduduknya muslim. Jika dikatakan ber-ideologi Pancasila tapi tidak ada satupun nilai Pancasila yang dimanivestasikan dalam kehidupan negeri ini. Bahkan dalam hal pengelolaan ekonomi saja nihil.

Maka menuntaskan persoalan di negeri ini memang tidak cukup hanya sekedar mengangkat ulama apalagi hanya menjadi wakil presiden. Mengangkat ulama dalam sistem demokrasi hanya akan menjadikan ulama sekular. Sisi lain mengharamkan zina tapi tidak bisa melarang pacaran, prostitusi. Di sisi lain mengharamkan riba tapi membiarkan negara hutang dengan bunga. Mengharamkan judi dan miras tapi faktanya negara membolehkan semua itu.

Maka umat Islam seharusnya bisa mengambil pelajaran. Bahwa untuk bisa mengantarkan negeri ini menjadi negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur haruslah menyempurnakan sistem kehidupan dengan Islam saja. Politik pemerintahan nya Islam. Begitu pun ekonomi, politik luar negeri, pendidikan, pergaulan semuanya haruslah memakai sistem Islam sebagaimana generasi Islam terdahulu mencontohkan. Wallahu 'alam.

Penulis     :  Maftucha Ismail (imaftucha9@gmail.com)

Editor        : Lulu Wulandar






This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.