Azan Bagi Umat

Hot News

Hotline

Azan Bagi Umat



Oleh: Lulu Nugroho

Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mendesak adanya revisi terhadap Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan dan/atau Penodaan Agama. Revisi dinilai sangat penting dilakukan agar UU tersebut tidak terus-menerus menjadi bola liar, republika.co.id (1/9).

"Komnas Perempuan memandang bahwa proses hukum pada Ibu Meiliana jangan sampai menjadi proses peradilan yang tidak adil, di mana proses hukum pada seseorang didasarkan bukan pada pelanggaran/kejahatan yang dilakukan, tetapi karena adanya tuntutan massa. Ini jelas bentuk kriminalisasi," ujar Khariroh kepada Republika, Sabtu (25/8).

Hal ini terjadi setelah pada Selasa, 21 Agustus 2018, Pengadilan Negeri Medan menjatuhkan vonis kepada Meiliana, warga Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara satu tahun enam bulan penjara atas kasus penistaan agama. Pada kasus yang berlarut selama 2 tahun ini hakim menilai ia terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 156 a KUHP atas perbuatannya melakukan protes volume suara azan yang berkumandang di lingkungannya, tempo.co (23/8).

Inilah yang diinginkan oleh pengusung ide-ide demokrasi sekularisme. Kejadian yang sama berulang. Menyudutkan umat Islam dengan label intoleransi. Kemudian mengkritisi hukum-hukum negara yang berpihak pada Islam agar diganti dengan hukum buatan mereka. Hukum Allah kalah dibanding hukum buatan manusia.

Kasus yang menimpa Meiliana dinilai sebagai sebuah dilema yang terjadi pada hubungan masyarakat antar agama di Indonesia. Di satu sisi kaum muslim merasa terluka dengan dengan sikap Meliana dan para pendahulunya yang mencela azan. Di sisi lain kaum muslim pun tidak berdaya. Karena memang Indonesia penganut paham sekularisme. Sehingga kasus seperti ini wajar saja terjadi.

Jika kemudian terjadi penistaan yang dilakukan oleh orang-orang yang menganggap bahwa suara azan mengganggu. Maka jelas akan menimbulkan reaksi dari kaum muslim. Sebab azan merupakan bagian dari syariat. Dalam Islam, azan dan aktivitas mu'azin memiliki banyak keutamaan. Sehingga mendorong kaum muslim beramal salih, untuk meraih keutamaan tadi. 

Terlebih lagi jika media sekular selalu memberi framing negatif untuk mempertajam isu intoleransi. Seolah mayoritas muslim tidak toleran terhadap masyarakat minoritas. Maka hal tersebut akan meresahkan umat.

Inilah yang terjadi ketika kita hidup di alam demokrasi. Karena sekalipun masyarakat muslim adalah mayoritas, dan penguasa negeri juga muslim. Namun jika diterapkan sekularisme di dalam negeri tersebut, tetap saja hukum Islam akan kalah dibanding hukum buatan manusia. Atas dasar toleransi atau hak asasi manusia.

Azan Di Dalam Islam

Azan, secara bahasa ditulis 'adzan' bermakna al i’lam yang berarti pengumuman atau pemberitahuan. Sedangkan menurut istilah adzan adalah pemberitahuan bahwa waktu salat telah tiba dengan menggunakan lafal-lafal tertentu dan cara tertentu. (Al-Mausû’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah: 2/489). 

Para ahli sejarah menyebutkan bahwa dulu Bilal mengumandangkan azan di atas tiang di rumah Abdullah bin Umar. Bilal naik ke tangga ketujuh tiang itu di samping Masjid Nabawi.  Ada pula yang mengatakan bahwa Bilal bin Rabah mengumandangkan azan Subuh dari atas rumah salah seorang wanita Bani Najjar. 

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair, dari seorang wanita Bani Najjar yang berkata, “Rumahku adalah bangunan paling tinggi di sekitar masjid. Setiap pagi, Bilal mengumandangkan azan Subuh dari atas rumahku. Azan diperlukan untuk mengingatkan kaum muslim bahwa telah masuk waktu salat.

Memang disyariatkan seperti itu. Dikumandangkan dari tempat tertinggi agar panggilan itu terdengar oleh banyak orang. Dan itu terjadi pada masa Rasulullah, di tahun pertama hijriyah hingga saat ini. 

Kasus penistaan terhadap azan pernah terjadi di masa Rasul. Yaitu ketika suatu hari Abu Mahdzurah yang berada dalam suatu rombongan, bertemu dengan Rasulullah Saw yang baru saja pulang dari Hunain. Saat itu tukang azan Rasulullah mengumandang azan di dekat beliau. Sayangnya, alih-alih mendekati suara azan tersebut, rombongan Abu Mahdzurah malah menjauhinya, bahkan mereka berteriak-teriak menirukan suara azan sambil mengejek-ngejek.

Akhirnya Rasul memanggil Abu Mahdzurah dan memintanya melafalkan azan dari awal hingga akhir. Setelah kumandang azan selesai, Rasul Kemudian memberinya sebuah kantong yang berisikan perak. Setelah itu Rasul meletakkan tangannya ke ubun-ubun Abu Mahdzurah dan menggerakannnya ke wajah hingga melewati dadanya.

Ketika tangan Rasul sampai di pusar Abu mahdzurah. Rasul kemudian berdoa, “Barakallah fiik, wa baaraka alaika” (Mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan keberkahan untukmu). Setelah mendengar doa Rasul tersebut, nampaknya Abu Mahdzurah mulai sadar akan kesalahannya. Ia berusaha melakukan sesuatu yang bisa menebus kesalahannya. Ia kemudian meminta sesuatu kepada Rasul, “Wahai Rasulullah, perintahkanlah aku untuk azan di Mekkah.”
“Aku perintahkan kamu adzan di Makkah,” jawab Rasul. 
Mendengar permintaannya dikabulkan oleh Rasul, hilanglah semua rasa benci Abu Mahdzurah. Yang tersisa hanyalah cinta kepada kekasih Allah itu.hadis riwayat al-Baihaqi dalam kitab as-Sunan al-Kubra.

Inilah Islam. Tidak kalah dan mengalah terhadap hukum buatan manusia. Selama lebih dari 13 abad, Islam terbukti sangat toleran ketika mengurusi umat dengan berbagai keragamannya. Tidak ada satu aturan kehidupanpun yang mampu menandingi kesempurnaan Islam. Oleh sebab itu kembalikan kemuliaan umat dengan penerapan syariah. Al islaamu ya'lu wa laa yu'la alaihi.



Penulis Pengurus Kajian Muslimah Sholihat Nurul Falah Cirebon
Editor: Dwi R

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.