Azan dan Izzah Kaum Muslim

Hot News

Hotline

Azan dan Izzah Kaum Muslim




Oleh: Kanti Rahmillah



Kasus penodaan agama kembali terjadi. Setelah Sukmawati menghina azan lewat puisi. Kini, kasus Meiliana di Tanjung Balai menjadi sorotan. Perempuan berdarah tiongkok ini melakukan protes terhadap suara azan yang dinilainya terlalu keras.

“Lu, Lu yaa (sambil menunjuk ke arah jemaah masjid). Itu masjid bikin telinga awak pekak. Kalau ada pula jemaah minta berdoa, minta kakilah bujang, bukannya angkat tangan,” ucap Meiliana seperti diceritakan Harris Tua saat dijumpai Tempo di Masjid Al Maksun pada Kamis, 4 Agustus 2016.

Seperti diberitakan media massa. Meiliana dinyatakan bersalah melakukan penodaan agama di Tanjung Balai sekitar 2 tahun lalu. Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan menjatuhinya hukuman 1 tahun 6 bulan penjara pada tahun ini, 2018.

Sebenarnya sudah selesai. Meiliana dan suami sudah minta maaf kepada jemaah muslim di sana. Namun, media tak berhenti. Kasus ini terus digoreng, hingga bermuara pada penghapusan UU penistaan agama yang menjerat Ahok.

Sungguh disayangkan. Indonesia dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam, harus bergulat dengan hinaan. Suara azan yang seharusnya menjadi pemantik semangat melaksanakan sebuah kewajiban, harus dibawa kepengadilan. Toa dijadikan barang bukti, padahal semua itu adalah wasilah agar umat muslim bertakwa.

Komisi perempuan pun ambil bagian, membela sang penista. Kemana mereka saat bunda Neno Warisman dipersekusi?  Media mainstream seolah kompak memberitakan, bahwa kasus meiliana akan berdampak pada intoleransi dan penindasan kaum minoritas. Kemana media, saat pendangkalan aqidah dan pemurtadan, marak terjadi di Lombok?

Padahal, pemimpin negeri ini adalah muslim. Mayoritas penduduknya pun muslim. Tapi mengapa izzah, kemuliaan Islam tak menjadi barang berharga. Mengapa seolah-olah, manusia tak beradab selalu dialamatkan pada muslim. Isu terorisme yang selalu saja dikaitkan dengan agama ini.

Jangan diam wahai kaum muslim. Hari ini, agama kita sedang terzalimi. Rasulullah tak pernah ajarkan pada umatnya untuk diam, saat agama Allah dihinakan. Lawanlah, agar kelak penduduk bumi merunduk pada syariat-Nya.

Sesungguhnya, penistaan terhadap agama ini tak akan berhenti, selama paham sekulerisme masih bercokol dinegeri ini, diemban, dijadikan pakem untuk menjalani kehidupan. Karena paham sesat inilah yang memisahkan urusan agama dengan kehidupan. Agama tak boleh mengatur kehidupan. Jika agama terlanjur menjadi budaya, ada UU yang siap melenyapkannya.

Mari bermunajat pada pemilik alam raya. Tengadahkan tangan. Berdoalah sekencang suara azan menjelang shalat. Mintalah pada Allah, agar rahmat-Nya turun bersama diterapkannya Islam dalam setiap lini kehidupan. Lantanglah berucap kebenaran. Perjuangkan yang hak. Bongkar makar-makar penjilat, yang hanya ingin agama ini terhinakan. In syaa allaah tak lama lagi, Islam hadir mengajarkan umat akan makna toleransi yang hakiki. 



Editor: Lulu w

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.