Jalan Tengah: Konsep Yang Menyesatkan

Hot News

Hotline

Jalan Tengah: Konsep Yang Menyesatkan



 
                                                                        (Sumber ilustrasi: pixabay.com)




Oleh: Amallia Fitriani

Sebanyak 231 ulama, cendikiawan, aktivis dari berbagai negara dan organisasi internasional berkumpul untuk mengikuti The World Peace Forum (WPF) yang diadakan pada 14-16 Agustus 2018 dengan tema 'The Middle Path for The World Civilizations'. Pada sambutan pembukaan acara, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengungkapkan bahwa Indonesia secara konsisten mendukung perdamaian dunia dengan 'jalan tengah' (Kumparan.com).

Forum tersebut menghasilkan butir-butir ide yang disebut Pesan Jakarta (Jakarta Message) dan mengajak komitmen peserta perwakilan lebih dari 40 negara untuk merealisasikan jalan tengah dalam segala bidang kehidupan baik itu ekonomi, politik, sosial, budaya hingga beragama.
Pesan Jakarta menyoroti bahwa peradaban dunia terus menghadapi krisis, seperti masalah kekurangan energi pangan, bencana lingkungan, degenerasi moral yang mengarah kepada ketiadaan perdamaian; ketidakadilan meluas; kemiskinan ekstrem; buta huruf yang belum terpecahkan; teologi egosentris; dan diskriminasi sosio-ekonomi, rasial, dan agama; yang semuanya dengan serius mengancam peradaban.

Krisis-krisis tersebut juga mengarah pada egosentrisme, primordialisme, dan populisme politik berdasarkan agama atau suku dan etnis, yang mengakibatkan melemahnya demokrasi di banyak negara di mana berbagai bentuk intoleransi, ekstremisme, kekerasan, dan terorisme terbukti membawa pelanggaran dan penghancuran kekuasaan hukum dan hak asasi manusia, ketidakadilan politik dan ketimpangan ekonomi.

Jalan Tengah diyakini sebagai pendekatan atau konsep yang mengandung nilai-nilai positif seperti toleransi, inklusifitas, keseimbangan, dan keadilan yang menjadi solusi bagi krisis peradaban dunia. Dengan konsep Jalan Tengah, semua bangsa berusaha menciptakan peradaban dunia yang lebih adil, damai, dan harmonis (AntaraNEWS.com). 

Kritik atas Konsep Jalan Tengah

Konsep Jalan tengah yang dimaksud dalam The World Peace Forum (WPF) yang diyakini akan menjadi solusi bagi krisis peradaban dunia, dengan konsep toleransi, inklusifitas, keseimbangan, dan keadilan  ialah berdasarkan pandangan semua agama. Maka jelas konsep jalan tengah ini kental dengan ide pluralisme, bahkan sangat dipastikan konsep tersebut akan mengkompromikan halal-haram, iltibas haq wal bathil. Berdasarkan pada hal tersebut, ide jalan tengah ini jelas menyesatkan serta bertentangan dengan ajaran Islam. 

Istilah Jalan Tengah (kompromi/sikap moderat) tidak muncul di tengah-tegah kaum muslimin kecuali pada masa modern kini. Jalan tengah adalah istilah asing yang bersumber dari Barat dengan ideologi Kapitalismenya, dengan berbasis aqidah sekulerisme. Secara historis, kemunculan sekulerisme lahir dari kompromi antara kaum intelektual dan kaum agamawan dalam  menentukan kebenaran. Kebenaran yang bisa mengakomodir kedua belah pihak tersebut adalah kebenaran yang berdasarkan kompromi atau Jalan Tengah. 

Sikap kompromi atau Jalan Tengah adalah ide yang sangat asing dalam pandangan Islam, yang hendak disusupkan ke dalam ajaran Islam oleh orang-orang Barat dan agen-agennya dari kalangan kaum muslimin. Caranya ialah dengan mengkampanyekan ide tersebut kepada kaum muslimin atas nama keadilan dan toleransi, dengan maksud untuk menyimpangkan kaum muslimin dari ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum Islam yang telah jelas batas-batasnya.

Di sini umat harus sadar akan adanya upaya sistematis yang akan menghapus gambaran utuh tentang Islam yang menjauhkan dan membelokkan Islam dari pemahaman Islam yang sebenarnya  dengan memunculkan istilah Jalan Tengah.

Untuk itu jangan sampai umat terpengaruh dengan propaganda istilah Jalan Tengah. Kita harus kenali Islam secara utuh dan menanamkan sikap kritis terhadap istilah dan ide-ide yang baru. Kita harus konsisten menjalankan Islam dan menghiasi diri dengan identitas Islam.
Sesungguhnya Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta, sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT:
"Kami tidak mengutus kamu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam" (T.Q.S. Al-anbiya (21):107).

Dari ayat tersebut jelas bahwa Rasulullah Saw. diutus membawa Islam untuk mewujudkan kemaslahatan umatnya.
Dengan demikian marilah kita bersama-sama untuk mempelajari dan memahami Islam secara utuh dengan dikembalikan kepada sumbernya yaitu Al-Qur'an, As-sunnah,  ijma dan qiyas. Umat Islam bisa memahami Islam secara utuh dan benar berdasarkan sumber Islam itu sendiri. WalLahu a'lam bi ash-shawab.



Editor: Fadil

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.