Jangan Berlebihan, Jaga Ukhuwah

Hot News

Hotline

Jangan Berlebihan, Jaga Ukhuwah

 
 

Oleh: Hamsina Halik A, Md. (Member Revowriter)

Pernahkah diri merasa tersakiti atas sikap dan perkataan orang lain? Atau mungkin tanpa sadar kita telah menyakiti teman sendiri? Hal seperti ini sering terjadi di sekitar kita. Niatnya bercanda, tapi kelewatan. Sekadar bertanya, tapi seolah menginterogasi hingga ke ranah yang sifatnya pribadi. Bukan hak untuk mencampuri. Mengorek informasi dari orang lain untuk mencari tahu tentang si Fulanah, dll. Kejadian seperti ini tak banyak orang yang menyukainya, terlebih jika sifatnya memaksa. Rasa tertekan pun muncul. Hingga merasa tidak nyaman. Yang pada akhirnya serasa dizalimi.

Ada batas yang perlu diperhatikan ketika berhubungan dengan orang lain. Jangan bersikap berlebihan, mencari tahu segala hal sebab tak semua perlu diketahui. Itu bukan urusan kita. Setiap orang beda karakter. Ada yang terbuka, lugas membicarakan segala tentangnya ke orang lain. Adapula yang tertutup. Tak sembarang orang dipercaya untuk berbagi masalah dan mencari solusi bersama. Untuk karakter yang kedua ini, tentu dia akan benar-benar mencari teman terpercaya yang bisa menjaga rahasianya.

Sikap berlebihan seperti ini bisa merenggangkan ukhuwah kepada sesama muslim. Padahal, Islam mengajarkan agar tetap menjaga ukhuwah. Sebab, sesama muslim itu bersaudara dan nikmatnya ukhuwah sangat indah bagi yang sudah merasakannya. Ada yang mengisi hari-hari penuh dengan kebahagiaan. Saling berbagi dan bertukar pikiran. Berkumpul, mendiskusikan dan memecahkan masalah. Ketika duka menghinggapi, ada yang menangkan hati. Bukan hanya disaat bahagia saja keberadaannya ada.

Agar ukhuwah semakin kuat, menjaganya sangat perlu. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar ukhuwah tetap terjaga dengan erat, diantaranya;
Pertama, katakan cinta jika engkau mencintainya. Jangan menundanya. Rasulullah SAW menganjurkan agar menyampaikan jika kita mencintai saudara kita. Sebagaimana dalam hadits:
Anas r.a. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw., lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.”
Lalu Nabi bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?”
Orang itu menjawab, “Belum.”
Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya.”
Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.”

Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”  (Abu Dawud, dengan sanad shahih)
Kedua, ketika berjumpa tunjukkan wajah bahagia dan senyum, kemudian berjabat tangan dengan erat penuh kehangatan. Sebuah senyum sangat berarti dalam kehidupan. Sehingga Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan  At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi:
“Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah.”
Terlebih jika senyuman bahagia itu disertai dengan jabatan tangan yang erat, tentu akan semakin mengikat diri dalam ukhuwah ini. Maka, berjabat tanganlah setiap kali bertemu. Sebab, disana ada dosa yang akan terampuni.

“Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (Abu Dawud)
Ketiga, saling mengunjungi.  Dalam menjalin persaudaraan, salah satu yang sangat dianjurkan adalah saling mengunjungi. Sebab, hal ini akan semakin menumbuhkan cinta dan ikatan ukhuwah yang kuat. Tapi, perlu diingat kunjungan yang dimaksud disini adalah kunjungan bukan karena adanya kelebihan duniawi. Melainkan, kunjungan yang didasari atas cinta karena Allah.

Ada sebuah kisah menarik, terkait dengan seseorang yang mengunjungi saudara tersebab cinta karena Allah. Kemudian dikabarkan bahwa Allah pun mencintainya sebagaimana dia mencintai saudaranya karena Allah.  Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau mau kemana?”. Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“. (H.R. Muslim)

Keempat, saling memberi hadiah. Melalui pemberian hadiah, ada rasa cinta dan kasih yang terjalin kuat. Memberi hadiah tanpa ada tujuan tertentu, seperti berharap imbalan, akan dapat menyatukan hati dan menambah keakraban. Demikian pula, hadiah yang diberikan dengan tulus dapat menimbulkan kecintaan yang dalam dan memberikan kebahagiaan dalam jiwa.
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Al-Bukhari, Baihaqi, Ibnu Thahir).

Kelima, doakan selalu ketika tak bersama. Tak selamanya akan berada disisi saudara kita. Ada kalanya jarak dan waktu akan memisahkan. Sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dengan saling mendoakan, keduanya akan terikat. Meskipun jauh, saling mengingatkan akan terjalin. Senantiasa mendoakan kebaikan dalam diam.

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak seorang hamba mukmin yang berdoa untuk saudaranya dari kejauhan malainkan malaikat berkata, ‘Dan bagimu seperti itu’.” (HR. Muslim)
Keenam, berikan bantuan jika butuh. Namanya manusia, tentu tak bisa hidup sendirian. Ada waktu dimana dia akan membutuhkan bantuan. Disaat tak mampu atau sedang mengalami kesulitan, maka dia akan membutuhkan bantuan dari orang lain. Sebagai sesama saudara seiman, memberikan bantuan akan semakin mengeratkan ukhuwah. Ada pahala kebaikan yang akan diperoleh. Meringankan kesulitan saudara kita, maka Allah akan meringankan juga urusan kita. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Ukhuwah tak akan terjalin tanpa adanya praktik. Sebab, ukhuwah bukan sekadar teori saja. Perlu aplikasi agar terwujud. Tak akan dirasakan manisnya ukhuwah kecuali dengan mempraktikkannya. Dengan menjalankan keenam poin diatas, maka ikatan ukhuwah dengan saudara kita akan semakin kokoh. Wallahu a'lam.


Penulis anggota revowriter
Editor: Fadil

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.