Ketika Dolar Melibas Rupiah

Hot News

Hotline

Ketika Dolar Melibas Rupiah





Oleh: Rut Sri Wahyuningsih


Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat sore (31/8) menembus level tertingginya dalam tiga tahun terakhir di posisi Rp 14.844.( detikfinance/01/09/2018) . Dari data RTI, angka Rp 14.844 semakin mendekati level tertingi nilai tukar dolar AS selama era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Angka ini kalah tipis dari rekor Rp 14.855 yang terjadi pada 24 September 2015.

Seperti apa pemerintah merespons melambungnya dolar AS? menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, pemerintah akan terus memantau nilai tukar. Sedangkan menurut Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, kondisi tersebut lebih dipengaruhi krisis ekonomi di Argentina yang cukup memberi kejutan. Pasalnya, setelah negara tersebut mendapat suntikan pinjaman dari IMF sebesar US$ 50 miliar, kondisi perekonomiannya tetap tidak membaik.

Dan  berikutnya  Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menyiapkan langkah untuk BUMN. Selain itu, untuk perusahaan milik negara yang sudah berorientasi ekspor, Rini meminta agar hal itu terus didorong guna menghasilkan dolar AS lebih besar, dengan demikian devisa meningkat. Devisa ini diperlukan untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Dalam sistem ekonomi sebuah negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis,  hutang adalah komoditas, sementara inflasi adalah bagian dari pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Maka tidaklah mengherankan jika pendapat para pejabat terkaitnya lebih sering tidak masuk di akal. Melemahnya Rupiah terhadap dollar sejatinya adalah efek dari salah urus pemerintah. Sekalipun digadang-gadang masih aman karena angka masih di bawah ratio APBN negara. Tapi  diperparah dengan solusi hutang kepada IMF. Sementara kita tahu IMF bukanlah badan dunia yang independen. Ada banyak yang bersekutu dari kaum kapitalis kuffar di dalamnya yang siap menggelontorkan dana dan menggantinya dengan berbagai perjanjian zalim. 

Pemerintah mestinya lebih kritis dalam menghadapi persoalan ini. Deretan nama-nama negara yang akhirnya runtuh, bangkrut dan beralih dikuasai negara lain bukan semata-mata karena mereka terjebak dalam hutang yang takkan mampu mereka bayar. Tapi lebih jauh lagi negara-negara itu telah terjerat ke dalam perangkap. Karena mereka mengadopsi sistem ekonomi yang sama yaitu kapitalisme dan neoliberalisme.

Islam adalah agama yang memuat di dalamnya akidah dan peraturan. Maka Islam bisa dikatakan sebagai sebuah ideologi yang mampu dijadikan landasan mengatur seluruh urusan manusia. Termasuk ekonomi. Islam tidak akan membiarkan negara berhutang, karena jelas itu adalah pintu masuk penjajahan. Islam justru akan memandirikan sebuah negara hingga ia benar- benar berdaulat baik secara deyure maupun defakto. 

Bagaimana mungkin? Di dalam sejarah, selama 1300 tahun Islam telah terbukti menguasai peradaban. Mulia, perkasa, mempimpin bak mercusuar yang cahayanya mampu menyinari peradaban negeri-negeri. Dimana ketika itu negara hanya menerapkan hukum syara. Allah swt telah berfirman dalam Alquran  surat Al-Mā'idah 5 : 51 yang artinya :

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

Maka berdasarkan ayat inilah negara akan melakukan berbagai hal diantaranya, pertama akan mengambil alih pengelolaan SDA untuk dikelola oleh negara sendiri, bukan kepada asing. Tidak sembarangan dalam mengadakan kerjasama dengan pihak asing dan mengupayakan tenaga-tenaga terbaiknya untuk mengelola. Hingga hal itu meniscayakan keterkaitan dengan lembaga yang lain seperti pendidikan, keamanan dan lain-lain. Maka kemungkinan negara akan mudah didikte negara asing akan hilang. 

Kedua negara akan memberikan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya bagi masyarakatnya. Terutama kaum lelaki agar mampu menafkahi keluarganya. Tidak mudah membuka peluang bagi TKA. Mencarikan nasab bagi mereka yang lemah tapi masih memiliki keluarga. Dan jika memang sudah tidak ada lagi, negara yang akan mengurusi mereka. Ketiga, negara akan membuang sistem pembayaran menggunakan  flat money atau uang kertas yang tidak ada nilainya. Diganti dengan dinnar ( emas) dan dirham ( perak) agar uang ketika dijadikan sebagai alat tukar benar-benar memiliki nilai. 

Keempat adalah menyeleksi dengan negara mana kita akan mengadakan impor dan ekspor. Harus dipastikan mereka bukan negara yang memerangi kaum muslimin. Karena haram hukumnya bekerja sama dengan negara kriteria ini. Wallahu a' lam biashowab.


Penulis Pengasuh Grup Online Obrolan Wanita Islam( BROWNIS)
Editor: Lilu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.