Krisis Air Buah Dari Pengelolaan Yang Salah

Hot News

Hotline

Krisis Air Buah Dari Pengelolaan Yang Salah




Oleh: Iin Susiyanti

Beberapa wilayah di Indonesia mengalami krisis air bersih dan ini menjadi persoalan Negara. Karena hampir sepanjang tahun beberapa wilayah menjadi langganan krisis air bersih. Salah satu wilayah yang terkena dampak adalah Kabupaten Karawang khususnya Karawang Selatan, seperti dialami warga Desa Cigunungsari, Kecamatan Tegalwaru, Karawang setiap pagi dan petang puluhan warga mengambil air di sebuah kubangan yang airnya keruh bercampur lumpur.

Mereka tidak punya pilihan lain, setelah sumur mereka mengering sejak beberapa bulan terakhir karena kemarau. Air bersih hanya bisa mereka peroleh dengan membeli dari warga yang memiliki mobil pengangkut air dan bak penampungan. Air bersih yang mereka beli itu, hanya digunakan untuk minum. Untuk mendapatkan air, warga juga terpaksa harus berjalan kaki sejauh dua kilometer sambil menjinjing ember ( Merdeka.com/19/8/2018)

Air  merupakan kebutuhan paling mendasar bagi setiap orang dan merupakan hak atas air yang harus dijamin negara. Karena ketersediaan  air  bukan semata-mata  bertujuan untuk kemakmuran dalam pengertian ekonomi, tetapi berkenaan dengan kondisi mendasar yang menentukan martabat kemanusiaan, hak hidup, dan kualitas kesehatan. Maka sudah seharusnya penyediaan air minum harus menjadi tanggung jawab Negara. Dan Pemerintah Daerah sebagai bagian dari pemenuhan dan perlindungan hak asasi manusia untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Namun kenyataannya Pemerintah telah lalai dalam mencukupi ketersediaan air bersih ini. Padahal dalam pasal 40 ayat (2) dan (3) UU SDA yang menyebut pengembangan sistem penyediaan air minum menjadi tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah, yang penyelenggaraanya dilaksanakan oleh BUMN dan atau BUMD. Tujuannya jelas untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat dan menjamin penghidupan yang layak bagi kemanusiaan sesuai amanat Pasal 27 dan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

Krisis air bersih yang berjadi sekarang ini bukanlah karena berkurangnya jumlah debit air, karena Allah Swt telah menciptakan air dalam jumlah yang melebihi kebutuhan manusia meskipun jumlah air tawar hanya 1% dari total air. Sebagaimana firman Allah :   “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (TQS. Hud [11] : 6)
Dalam ayat di atas menjelaskan bahwasanya Allah telah menjamin rezeki semua makhluk tidak terkecuali. Air disini termasuk dalam rezeki yang setiap manusia seharusnya bisa untuk mendapatkannya. 

Akibat krisis air bersih secara langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh ulah manusia sendiri, diantaranya adalah pemanasan global menyebabkan melelehnya es, glasier dan salju yang seiring waktu akan menambah parah kelangkaan air di berbagai belahan dunia. Reservoir es menyimpan 75% cadangan air bersih dunia, sehingga dengan melelehnya es tersebut jumlah cadangan otomatis berkurang dan mengakibatkan air bersih semakin langka, mengakibatkan keringnya sumber air dan makin menipisnya cadangan air.

Dalam sektor industri banyak pabrik membuang limbah industri ke sungai sehingga terjadilah suatu polusi lingkungan, sehingga dapat menyebabkan air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi. Rusaknya kawasan konservasi pesisir sehingga menyebabkan minimnya penghalang/pembatas antara kawasan laut dengan daratan serta dapat juga terjadi jika permukaan muara air sungai lebih rendah dari permukaan air laut sehingga dapat menyebabkan air laut masuk ke badan sungai saat pasang.

Terjadi kerusakan pada danau karena terjadi pendangkalan dan eutrofikasi, karena adanya kegiatan pertanian maupun peternakan di sekitar danau. Eutrofikasi adalah penyuburan pada wilayah danau, penyebabnya adalah Phospat. Phospat biasanya berasal dari limbah domestik, pupuk pertanian, maupun dari limbah perikanan (sisa makanan ikan, dsb). Hal ini menyebabkan air menjadi terlalu subur, lalu tumbuhlah berbagai tanaman air dengan pesat. Tumbuhan tersebut dapat menutup permukaan danau dan terjadi penguapan sehingga terjadi pendangkalan dan berakibat berkurangnya volume air danau. 

Distribusi yang kurang merata pada wilayah-wilayah kekeringan/kurang air, disebabkan minimnya fasilitas yang ada dan daerah pelosok yang sulit dijangkau. Adanya sistem Kapitalisme-Sekuler yang diterapkan, sehingga peran dominan swasta atau partikulir dalam pengelolaan sumber daya alam, dan negara hanya menjadi alat pelindung modal swasta. Sehingga banyak terjadi privatisasi perusahaan air minum oleh asing,  Kondisi ini telah melahirkan mindset (pola pikir) pengelola air yang selalu profit oriented. Dengan keuntungan maksimum bagi pemegang saham. Sehingga air  hanya mampu dinikmati oleh segelintir orang yang berduit saja. Sementara yang tidak mampu membeli air maka jangan berharap bisa memperoleh air bersih.

Di dalam Islam, sumber daya alam termasuk air masuk dalam kepemilikan umum  yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat dan termasuk barang milik publik (al-milkiyyah al-‘ammah). Pengelolaannya harus diserahkan kepada negara  secara profesional dan bebas korupsi. Seluruh hasilnya dikembalikan kepada publik. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw : "Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api" (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Karena itu pengelolaannya tidak boleh diserahkan atau dikuasakan kepada swasta apalagi pihak asing. Karena itu sumberdaya air seperti sungai, danau dan sebagainya merupakan milik umum. Semuanya harus dikelola oleh Negara  dengan segenap kewenanganannya. Negara harus mampu mendistribusikan kekayaan ini dengan sebaik-baiknya kepada seluruh masyarakat baik untuk kepentingan air minum, industri ataupun pertanian.

Pengelolaan Air Minum dalam Perspektif Islam

Pengelolaan air minum dalam perspektif Islam harus  memenuhi beberapa ketentuan.

Air memiliki status sebagai kepemilikan umum, semua masyarakat berserikat terhadapnya dan memiliki hak untuk dapat memanfaatkanya. Namun, boleh adanya kepemilikan pribadi atas zat air yang berada dalam propertinya selama itu tidak berhubungan dengan sarana umum. Pada prinsipnya, setiap individu atau komunitas kecil masyarakat dibolehkan untuk memenuhi kebutuhan airnya secara mandiri. Selama perkara tersebut tidak mengganggu kepentingan umum dan tidak menimbulkan perpecahan atau persengketaan dengan masyarakat lainnya.

Dalam hal pemenuhan kebutuhan air secara mandiri yang dilakukan oleh individu atau komunitas kecil masyarakat itu diduga kuat berpotensi menimbulkan konflik atau persengketaan antar masyarakat, maka negara harus mengambil alih peran pengelolaannya.

Pada pemenuhan kebutuhan air dalam skala komunitas yang lebih besar, dimana untuk dapat memanfaatkan airnya diperlukan sentuhan teknologi dan biaya investasi yang tinggi, maka negara secara mutlak harus memfasilitasi pemenuhan kebutuhan tersebut dalam rangka pengaturan kemaslahatan rakyatnya.

Negara harus melakukan upaya semaksimal mungkin agar tidak ada satu pun wilayah dalam teritorialnya yang penduduknya mengalami kesulitan untuk memperoleh air.

Strategi dalam pengelolaan air minum untuk pemenuhan kebutuhan air masyarakat harus dilandasi dengan kesederhanaan aturan, kecepatan pelayanan dan profesionalitas orang yang mengurusinya.

Pengelolaan air minum harus memiliki sasaran utama sebagai berikut:

Memberikan kemudahan akses bagi masyarakat untuk memperoleh air minum, melakukan distribusi air kepada masyarakat secara merata. Menjamin terpenuhinya kebutuhan air minimal (besaran volumenya bisa dirumuskan lebih lanjut) untuk kelangsungan hidup dan kebutuhan bersuci/thaharah. Pengembangan pengelolaan harus difokuskan pada perluasan cakupan pelayanan, baru kemudian peningkatan kuantitas aliran.

Atas dasar semua ini, pengelolaan air minum harus diserahkan kepada negara untuk menjamin bahwa setiap rakyatnya mendapatkan haknya atas apa yang menjadi kepemilikannya, yakni air. Negara tidak boleh menyerahkan urusannya kepada swasta (privatisasi) karena akan menghilangkan penguasaan atas aset-aset milik umum, baik  sebagian maupun keseluruhan, baik sementara maupun selamanya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Diperlukan adanya keterlibatan swasta, baik itu perorangan maupun perusahaan dalam penyediaan jasa perencanaan, penyediaan barang yang dibutuhkan oleh pengelola air minum atas kesepakatan kedua belah pihak, kontraktor untuk jasa pekerjaan bangunan-bangunan air, pemasangan pipa, instalasi mekanikal dan elektrikal dan lain-lain.

Dengan menerapkan Syariat Islam  dalam naungan Khilafah maka akan menjadi solusi tuntas dalam mengatasi masalah krisis air. Karena hanya berhukum dengan hukum Allah SWT dan menerapkan aturan Allah secara menyeluruh umat bisa mendapatkan berkah dan ridho-Nya. Wallahu 'alam bishshowab.


Penulis Ibu Rumah Tangga
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.