Pemenuhan Hak Anak, Butuh Khilafah

Hot News

Hotline

Pemenuhan Hak Anak, Butuh Khilafah





Oleh : Bunda Ema Aji S, Spd

Lagi, untuk kesekian kalinya naluri para ibu harus menjerit. Bagaimana tidak, dua balita kakak adik Rahman (4) dan Akbar (3) ditemukan warga dan polisi dalam kondisi memprihatinkan di ruang kosong samping rumah milik pamannya yang bernama Suryanto di Perumahan Central Park, Tanjung Uncang, Batam, Jumat (24/8/2018). Saat ditemukan kedua bocah malang ini dalam kondisi kelaparan dan badan penuh lumpur. Selain itu di tubuh kedua korban juga ditemukan banyak bekas luka. Ironisnya kedua bocah malang ini diduga disekap di ruang kosong tanpa atap oleh paman kandungnya sejak dua tahun lalu.  Orangtua korban saat ini bekerja sebagai TKI di Timor Leste.

Memang benar, Rahman dan Akbar tidak sendirian. Ada banyak anak-anak senasib dengan mereka yang tak hanya haus kasih sayang, bahkan sangat membutuhkan perlindungan. Jumlah anak telantar masih sangat banyak. Kementerian Sosial (Kemsos) menyebut, jumlahnya mencapai 4,1 juta anak, dan jumlah itu bertambah. Bahkan, Kemsos juga menyebut sedikitnya 35.000 anak mengalami eksploitasi. (http://www.beritasatu.com/pendidikan/419548-41-juta-anak-di-indonesia-telantar.html)

Jangankan mendapatkan haknya, dalam sistem kehidupan kapitalis saat ini, anak justru terancam. Ancaman datang dari berbagai pihak, bahkan orang-orang terdekat. Berbagai program diluncurkan, seperti Kota Layak Anak, Education For All, bahkan sampai adanya regulasi Pasal 1 Nomor 6 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, belum mampu menyelesaikan kasus penelantaran anak. 

Sementara dalam pandangan Islam, anak sangatlah berharga. Sebagaimana Rasulullah SAW, telah menyatakan bahwa anak merupakan buah hati dan makhluk suci. “Anak adalah ‘buah hati’, karena itu termasuk dari wangi surga” (HR Tirmidzi). Beliau telah menetapkan dan memberi contoh langsung bahwa negaralah yang menjadi penanggung jawab utama bagi semua kebutuhan rakyatnya termasuk anak. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari-Muslim,​ Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Imam (khalifah/kepal​a negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawa​ban atas urusan rakyatnya” (HR.Bukhari dan Muslim).

Anak sebagai bagian dari masyarakat juga harus mendapatkan hak-haknya secara utuh dan benar sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Islam benar-benar memberikan hak hidup bagi setiap anak dengan jaminan yang pasti. Sejarah membuktikan, saat Islam datang maka kebiasaan orang Arab yang membunuh anak perempuan telah dihapus dengan turunnya firman Allah Swt:

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا (الإسراء: 31)
             Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. “(Q.S. Al-Israa: 31).

Terhadap anak hasil perzinahan, Islam telah menghukum ibunya bukan anaknya. Ini terdapat dalam kisah wanita Al-Ghamidiyah, yang datang pada Nabi bahwa dirinya hamil dari hasil zina. Nabi berkata “pulanglah sampai engkau melahirkan“. Ketika ia telah melahirkan, ia datang lagi kepada Nabi dengan membawa bayinya. Nabi berkata” Pergilah, kemudian susuilah anakmu itu sampai engkau menyapihnya“. Setelah selesai disapih, ia datang lagi kepada Nabi bersama bayi, maka Nabi menyerahkan bayi itu kepada laki-laki muslim. Setelah itu wanita tersebut dirajam (HR. Muslim).

Setelah anak lahirpun Islam mengatur tanggung jawab nafkah atasnya.  Bagi seorang ayah yang mampu bekerja, Islam mewajibkan untuk berusaha sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(يَقُوتُ مَنْ يُضَيِّعَ أَنْ إِثْمًا بِالْمَرْءِ كَفَى)
Artinya: “Seseorang dianggap berdosa jika dia tidak menafkahi orang-orang yang menjadi tanggungannya.”​[1]

Adapun saat ayah dalam kondisi tidak mampu baik karena cacat, sakit keras atau lemah, maka kewajiban memberi nafkah berpindah kepada ahli waris atau keluarga terdekat yang mampu sebagaimana firman Allah:
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ​ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ
... dan kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada pada ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupanya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya, dan seorang ayah karena anaknya. Dan warispun berkewajiban demikian… (TQS. al-Baqarah [2]: 233).

Saat ayah atau ahli waris atau kerabat dekat mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok anak, Islam telah menetapkan kewajiban atas Negara. Negara memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan harta yang ada di baitul mal baik dari pos zakat, atau jika pos zakat kosong diambil dari pos pemasukan lainnya. Dalam pandangan Islam, Negara bertindak sebagai pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya dan bertanggung jawab mewujudkan kemashlahatan bagi mereka melalui penerapan hukum Islam secara kaffah. Rasulullah SAW bersabda

الإمام راع و هو مسؤل عن رعيته
“Seorang imam seperti penggembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya” (al-hadits).

Jika baitul maal (kas negara) banar-benar kosong, maka negara akan mewajibkan pemenuhannya kepada seluruh kaum Muslim yang mampu. Firman Allah:
وفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُوم
              Di dalam harta mereka, terdapat hak bagi orang miskin yang meminta-minta yang tidak mendapatkan bahagian.(TQS. adz-Dzariyat [51]: 19).

Islam juga membentuk suasana saling tolong menolong di masyarakat untuk membantu orang yang kelaparan atau fakir miskin. Rasulullah saw bersabda:
              Siapa saja yang menjadi penduduk suatu daerah, dimana di antara mereka terdapat seseorang yang kelaparan, maka perlindungan Allah Tabaraka Wata’ala terlepas dari mereka. (HR. Imam Ahmad)
Tidaklah beriman kepada-Ku, siapa saja yang tidur kekenyangan, sedangkan tetangganya kelaparan, sementara dia mengetahuinya. (HR. al-Bazzar).

Perhatian Islam akan hak anak sudah terbukti di masa kejayaannya. Selama masa pemerintahan Khalifah Umar, ada kebijakan untuk memberikan upah setiap kali seorang anak selesai masa menyusui. Namun, suatu hari Umar (ra) mendengar seorang bayi menangis kemudian dia meminta kepada ibu anak itu untuk “Bertakwalah kepada Allah SWT atas bayi Anda dan rawatlah dia”. Kemudian ibu itu menjelaskan bahwa dia berhenti menyusui anaknya lebih awal agar dia bisa menerima upah dari Negara. Keesokan harinya, setelah fajar, Umar merevisi kebijakan itu dengan membayar upah pada saat kelahiran. Umar (ra) takut Allah SWT akan meminta pertanggung jawabannya dan dia berkata sambil menangis “bahkan atas bayi-bayi ya Umar!” yang berarti bahwa ia akan diminta pertanggungjawa​ban karena tindakannya merugikan anak-anak.

Khalifah Abdul Hamid II, sangat menginginkan pelayanan modern dan gratis bagi kesejahteraan anak-anak. Karena itu, pada tahun 1899 beliau membangun rumah sakit anak di daerah Sisli, Istambul. Di dalamnya menggunakan teknologi terbaik dan tenaga medis paling ahli. Rumah sakit ini dinamai "Hamidiyah" atau dalam bahasa turki "Hamidiye". Pelayanan di rumah sakit ini untuk seluruh anak dari agama manapun, suku bangsa manapun yang hidup di Negara Khilafah. Setelah pemeriksaan, pasien akan mendapatkan hadiah dan dibawa ke paviliun. Di sana mereka akan dihibur oleh badut-badut dengan pertunjukan yang lucu. 

Demikianlah, sedikit gambaran bagaimana perhatian syariat Islam yang akan mampu melindungi hak anak apabila benar-benar diterapkan dalam kehidupan bernegara. Maka merupakan pilihan logis untuk memperjuangkan kembalinya penerapan syariat Islam kaffah dalam institusi Khilafah Islamiyah, agar anak-anak kembali mendapatkan hak dan perlindungan.
Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, ketika dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan padamu.
(QS. Al anfal: 24).



Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.