Penjaga Bagi Muslim Rohingya Dan Seluruh Dunia

Hot News

Hotline

Penjaga Bagi Muslim Rohingya Dan Seluruh Dunia




Oleh :Fahmia Nuha Tsabita

Sejak Agustus 2017, lebih dari setengah juta etnis Rohingya melarikan diri dari Rakhine ke Bangladesh. Mereka kabur guna menghindari kebrutalan militer Myanmar yang menggelar operasi pemburuan terhadap gerilyawan Arakan Rohingya Salvation Army. Dalam operasinya, militer Myanmar turut menyerang dan menumpas warga sipil di daerah tersebut. (republika.co.id 31/08/18) 

Sejak setahun yang lalu atau bahkan mungkin beberapa tahun yang lalu etnis Rohingya harus bertahan menghadapi diskriminasi dari pemerintahnya sendiri. Hingga Sekretaris Jenderal Amnesty International Kumi Naidoo mengatakan apa yang terjadi di Rakhine bukan hanya sekadar konflik. Pembantaian terhadap Muslim Rohingya merupakan tindakan disengaja dan direncanakan. "Ini sama saja dengan genosida dan pembersihan etnis," ujarnya.

Berbagai upaya pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan, kelaparan, deportasi paksa, serta pelanggaran HAM serius lainnya terus dilancarkan oleh pemerintah Myanmar terhadap Rohingya. Namun kasus pembantaian muslim tetap tidak diusut oleh PBB yang konon menjadi polisi dunia. Bukti-bukti yang ada seakan tak menjadi prioritas Dewan Keamanan PBB untuk menyelesaikan genosida terhadap Muslim Rohingya. 

Tekanan dan intimidasi serupa juga dirasakan oleh kaum muslimin minoritas seperti di Uyghur, Pattani, Moro dan India. Selain itu di bagian bumi yang lain, kaum muslimin mayoritas dilarang melaksanakan syariat islam yang Allah perintahkan dengan dalih toleransi beragama. Hijab dan cadar dilarang, Al-Qur'an dihina, Khilafah dimosterisasi, pengajian dihadang, hingga azan pun harus diatur sesuai peraturan pemerintah. 

Semua ini menandakan adanya sebuah narasi global yang sengaja diaruskan ke seluruh penjuru dunia. Ya, barat telah terserang penyakit Islamophobia, dimana kekuasan superpower ini takut terhadap ajaran Islam dan penganutnya. Atau panik dengan kekuatan luar biasa yang ada dibalik jiwa kaum muslimin. Bahkan merasa posisinya sebagai adidaya terancam karena gesekan hebat yang terjadi antara Barat dan Islam. Sehingga ia berani untuk membantai umat islam minoritas. 

Padahal Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal  di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa’[4] : 39)

Dalam hadits dari Ibnu Mas’ud ra, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa saya (Rasulullah Saw) adalah utusan Allah kecuali dengan tiga sebab: Duda/janda (orang yang telah pernah menikah) yang berzina, membunuh orang lain (dengan sengaja), dan meninggalkan agamanya berpisah dari jamaahnya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dari Buraidah ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Dosa membunuh seorang mukmin lebih besar daripada hancurnya dunia.” (HR. An-Nasa’i [VII/83], dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Darah kaum muslimin itu haram dan mulia sehingga perlu ada penjaga yang mampu menjaganya. Seperti saat Rasulullah saw memobilisasi pasukan untuk membela seorang wanita muslimah yang tersingkap auratnya dan membela darah seorang muslim yang tertumpah oleh yahudi bani Qainuqa. Begitu besarnya arti kehormatan wanita muslimah dan harga darah seorang muslim di sisi Rasulullah Saw. Beliau siap menanggung resiko kehilangan nyawa para sahabatnya demi membela kehormatan muslimah.  

Namun saat ini, pembantaian etnis Rohingya di Myanmar cukup menjadi bukti nyata bahwa tidak ada lagi yang melindungi darah dan kehormatan kaum muslimin. Alih-alih membantu saudara semuslim dan melindunginya, para pemimpin negeri muslim hanya bisa mengutuk keberingasan rezim lalu diam. Mereka mendasarkan kebijakannya pada asas manfaat, apakah ini menguntungkan negaraku? Atau malah menambah beban anggaran negara? Selain itu, sekat nasionalisme yang membatasi wilayah kaum muslimin telah menutup hati nurani mereka. Padahal kaum muslimin adalah umat yang satu. Tidak bisa dipisahkan dengan jarak ataupun waktu.  

Tidak ada gerakan real untuk melindungi mereka seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah sebagai pemimpin negara Islam di Madinah saat itu. Jikapun ada, hanya sebatas bantuan dari individu-individu yang tak kuat menahan amarah di dalam dada. Namun, individu bukan lawan yang sebanding dengan negara. Dan pada akhirnya keberingasan rezim tetap tak dapat dihentikan. 

Karena itu, di sinilah letak urgensi sebuah negara yang mendasarkan sistem pemerintahannya bukan pada asas manfaat dan nasionalisme. Tetapi didasarkan pada sistem Islam karena Islam sangat menjaga kehormatan dan darah seluruh rakyatnya, baik muslim maupun kafir dzimmi. Tak ada lagi kesengsaraan dan penganiayaan yang dirasakan. Sebab negara akan membebaskan setiap muslim dari belenggu rezim tirani sekaligus menjadi penjaga kemuliaan agama yang Allah swt turunkan.

Negara ini mencontoh bagaimana sikap  Rasulullah saw selaku pemimpin negara dalam menjalankan amanahnya. Melaksanakan syariat Islam sebagai konsekuensi keimanan kepada Allah swt. Bila Islam diterapkan, maka janji Allah dalam surat Al A’raf ayat 96 pun akan terwujud. 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf [7] : 96)
Wallahu a'lam bis showab.


Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.