Standard Operating Procedure for Children

Hot News

Hotline

Standard Operating Procedure for Children



Oleh: Vinci Pamungkas, S.Pd

Standard operating procedure atau biasa disingkat SOP lazimnya digunakan di tempat-tempat kerja. Baik di instansi pemerintah ataupun swasta. SOP adalah sistem yang disusun untuk memudahkan, merapikan, dan menertibkan pekerjaan. Sistem ini berisi urutan proses melakukan pekerjaan dari awal sampai akhir. (kajianpustaka.com)

Apakah anak-anak juga butuh SOP ketika melakukan berbagai aktivitasnya( mungkin terdengar lebay, tapi jika aktivitas anak sudah berlebihan, maka pembuatan SOP bisa menjadi solusi. Jadi, SOP dibuat jika orangtua sudah merasa apa yang dilakukan anak berlebihan. Kata kuncinya adalah berlebihan. Misalnya: anak balita jajan 10.000-20.000/hari, anak-anak bermain hingga lupa sholat dan makan, anak-anak menonton televisi berjam-jam hingga lupa mengerjakan PR, anak-anak banyak menghabiskan waktu untuk main game online, dan lain-lain. Jika putra-putri ayah bunda masih dalam taraf wajar, aktivitas bermainnya tidak melalaikan kewajibannya, maka tidak perlu membuat SOP.

Mengapa harus membuat SOP( karena cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. Anak berpikir konkrit. Ketika ayah bunda mengatakan “jangan main jauh-jauh”, “jangan jajan banyak-banyak”, “jangan mandi lama-lama”, dan sebagainya mereka bingung. Mereka belum memahami konsep lama-sebentar, banyak-sedikit, dekat-jauh. Sehingga seolah mereka tidak patuh pada orangtua ketika masih melakukan hal yang sama. Maka, agar anak tidak berlebihan dan sesuai dengan keinginan, tugas ayah bunda adalah mengkonkritkan petunjuk aturan aktivitas anak dengan membuat SOP.

Membuat SOP untuk anak tentu berbeda dengan pembuatan SOP bagi karyawan. Berikut ini tips membuat SOP for our children agar menyenangkan dan mudah mengingatkan mereka:
Libatkan anak dalam membuat SOP. Misal: jika anak sudah bisa menulis,biarkan mereka yang menulis atau mengetik SOP. Jika belum bisa menulis, ajak mereka melihat ayah bunda menulis atau mengetiknya.
Lakukan proses permintaan dan penawaran atau tawar-menawar dengan anak. Agar pembuatan SOP ini didasari ridho sama ridho. Tidak ada yang merasa dizalimi atau didoktrin. 

SOP dibuat sekonkrit mungkin sesuai cara berpikir anak. Misal: uang jajan di sekolah 5.000, uang jajan di madrasah/sekolah agama 3.000, di rumah tidak boleh jajan. Waktu mandi tidak boleh lebih dari 15 menit, jika lebih dari 15 menit maka ayah atau bunda akan mengeluarkan anak dari kamar mandi. Ini dapat sekaligus membantu memahamkan anak tentang konsep matematika sederhana.

Makin besar dan banyak anak kita, maka SOP bisa semakin kompleks. Makin besar anak, makin banyak kegiatannya. Ketika bertambah jumlah anak, maka interaksi antar anak sangat memungkinkan terjadinya perselisihan. Rebutan mainan, dulu-duluan mandi, rebutan remote,dll. Perselisihan ini bisa dicegah dengan membuat SOP.

Buat SOP semenarik mungkin. Misal dibuat di karton berwarna, tulisannya warna warni, diberi gambar-gambar yang lucu, dll
Tempel SOP di tempat yang mudah dilihat oleh anak. Sehingga memudahkan ayah bunda untuk mengingatkan mereka saat mereka melanggar SOP.
Khusus untuk gadget, semua pakar parenting sepakat untuk menjauhkan gadget dari anak. Jadi, tidak ada SOP untuk izin penggunaan gadget. Beberapa pakar parenting baru membolehkannya pada usia 12 tahun. Ada pula yang baru mengizinkan di umur 14 tahun dan 17 tahun.

Dengan pembuatan SOP ini, ayah bunda tak perlu lagi perang urat dengan anak, mengancam apalagi memukul. Karena kita tinggal mengingatkan saja SOP yang telah dibuat bersama. Ayah bunda dapat menambahkan reward ketika anak mengerjakan SOP dengan baik dan memberikan punishment saat mereka melanggarnya. Reward dan punishment nya tentu tidak untuk menyakiti tapi untuk mendidik.

Wallahu’alam bish shawaab


Penulis adalah Ibu Peduli Generasi
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.