Susahnya Mendidik Anak Jaman Now

Hot News

Hotline

Susahnya Mendidik Anak Jaman Now




Oleh: Rochmah Ambarwati


Tak sedikit orangtua yang mengeluhkan bagaimana susahnya mendidik anak jaman sekarang. Mereka mengeluhkan anak mereka yang sulit diatur, tidak patuh terhadap orangtua, malas belajar, malas sekolah, sukanya hanya main hape dan hang out tidak jelas.  Permasalahan ini tidak hanya dihadapi oleh segelintir orang saja, kebanyakan orangtua mengeluhkan hal yang sama.

Sekolah yang diharapkan mampu dijadikan sebagai sarana untuk mendidik anak seakan kalah tajam dengan sifat anak yang tak dapat diatur. Bahkan, sekolah dan guru pun dibuat semakin kewalahan menangani segala bentuk persoalan yang membelit anak-anak. Mulai dari pergaulan bebas, rokok, miras dan narkoba, sampai ke free sex, bahkan ada pula anak-anak yang terlibat tindak kriminal.

Kita pun bertanya, kenapa semakin hari semakin sulit saja untuk mendidik anak. Siapa dan apa yang salah dalam pendidikan yang kita terapkan? Kenapa output generasi jaman now begitu buruk dan lebih rendah dibandingkan dengan jaman old? 

Terlebih, gambaran generasi saat ini sangat bertolak belakang dengan tampilan cemerlangnya generasi Islam di jaman terdahulu. Mereka tak hanya faqqih fi ddin alias menguasai ilmu agama seperti ulumul quran dan ulumul hadist. Mereka pun unggul di bidang sains dan teknologi. Lalu, apa yang salah?

Susahnya mendidik anak jaman now ini tentu saja tak dapat dilepaskan dari berbagai faktor yang terkait dengan dunia anak. Sebut saja orangtua, sekolah, masyarakat dan negara.
Orang tua. Inilah elemen pertama dan utama dalam membentuk kualitas anak. Ibulah yang dipercaya sebagai pendidik pertama bagi anak. Rumahlah sekolah pertama anak. Rumah diharapkan menjadi cerminan kualitas anak.

Hanya saja, tak semua orangtua memiliki ilmu yang memadai tentang bagaimana mendidik anak. Bahkan, zaman sekarang ini, orangtua terlebih ayah dan juga terkadang ibu dituntut untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mencekik leher.

Sehingga, masalah pendidikan dianggap sebagai hal yang remeh. Padahal inilah hal utama yang harus dilakukan orangtua. Tak hanya membesarkan anak saja, tugas berat mereka adalah mengarahkan anak menjadi sosok yang berakidah kuat, taat pada syariat dan memiliki azzam atau niat kuat untuk membela Islam.  

Sekolah. Sejatinya, institusi ini sangat diharapkan mampu untuk mendidik anak menjadi generasi yang diinginkan dalam sebuah perabadan. Namun, saat ini dapat dikatakan bahwa institusi ini pun tak banyak memainkan peran pentingnya. 

Sekolah saat ini hanya sebagai wadah untuk transfer ilmu. Banyaknya beban yang diberikan kepada siswa serta metode dan konten pengajaran yang sering tak sejalan dengan visi pembangunan peradaban. Membuat fungsi sekolah semakin melemah dalam mendidik generasi. 

Guru sebagai ujung tombak pun merasa kewalahan jika harus dihadapkan dengan tugas mengajar, masalah administrasi pengajaran dan sekolah, serta dedikasi untuk mencerdaskan bangsa. Sehingga, sebagian guru menjadi minimalis, hanya mengambil peran sebagai alat transfer ilmu saja.

Faktor yang selanjutnya juga tak kalah pentingnya dalam menentukan nasib sebuah generasi. Masyarakat adalah tempat kedua bagi seorang anak. Bahkan, sebagian anak menjadikan masyarakat sebagai rumah utama mereka, ketika orangtua dan sekolah tak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Masyarakatlah yang kemudian membentuk pribadi anak.

Kita lihat saat ini, masyarakat kita adalah masyarakat yang permisif. Tak banyak paham akan ilmu agama dengan benar, serta pragmatis. Anak pun menjadi cerminan dari masyarakat di mana mereka tinggal. Jika tinggal di lingkungan yang salih dan taat beragama, sangat terbuka kemungkinan bahwa anak pun akan tumbuh menjadi sosok yang salih pula. Namun sebaliknya, jika satu anak berada di lingkungan yang senang goyang dangdut dan berjudi, maka sangat memungkinkan anak pun gemar goyang dan judi. Di sinilah peran penting dari masyarakat dalam membentuk kepribadian anak.

Selain itu, negaralah yang menjadi gerbang terakhir pencetak generasi cemerlang. Negara diharapkan mampu memberikan sebuah sistem pendidikan yang mumpuni untuk setiap anak bangsa. Negara juga harus mampu menciptakan sebuah masyarakat yang mendukung peraihan tujuan mulia ini.

Namun sayang, dalam hal ini, negara tak banyak turut andil. Malah, pendidikan agama sebagai pilar penting pembentukan aqidah anak, porsinya semakin dikurangi. Agama hanya dianggap sebagai salah satu mata pelajaran layaknya mata pelajaran lain. Agama tak dianggap sebagai pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Inilah beberapa hal yang diharapkan mampu menghasilkan generasi mulia. Semua elemen yang sudah disebutkan di atas, haruslah saling bahu membahu dan berjalan beriringan untuk menggapai tujuan mulia menciptakan generasi yang cemerlang.     


Penulis adalah Freelance translator dan Ghoswriter
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.