Ulama Berpolitik, Why Not?

Hot News

Hotline

Ulama Berpolitik, Why Not?



Oleh: Dwi Rahayunningsih

Pelarangan ulama untuk melakukan ceramah dan kegiatan keagamaan bukan hanya sekali dua kali saja. Banyak sekali kasus intimidasi dan persekusi terhadap para ulama. Pembatalan pengajian di hari H meski umat sudah memadati tempat acara, terjadi berulang kali. Bahkan ulama yang hendak mengisi acara, dipulangkan sebelum bertemu dengan umat. Yang lebih parah, beberapa ulama mengalami kekerasan fisik.

Seperti yang dialami oleh Ustaz Abdul Somad baru-baru ini, yang mengaku mengalami intimidasi dan penolakan. Bukan dari umat yang melakukannya. Akan tetapi aparat ikut terlibat dalam menghadang UAS. Direncanakan tanggal 29 september mendatang UAS akan mengisi pengajian di Tangerang Selatan. Namun belum juga terlaksana, UAS mengaku sudah diwanti-wanti oleh pihak kepolisian untuk tidak menyampaikan masalah politik.

UAS hanya diperbolehkan mengisi kajian keagamaan. Pihak kepolisian melarang keras jika UAS menyampaikan masalah politik praktis. Ini jelas bertentangan dengan pemerintah sendiri yang menggandeng ulama yaitu Ma'ruf Amin sebagai calon Wakil Presiden pada pemilu 2019 mendatang.

Hal ini jelas tidak konsisten. Di satu sisi ulama dilarang untuk berbicara soal politik. Namun di sisi lain ulama pula yang digandeng dalam aktivitas politik praktis untuk menjadi calon Wakil Presiden. Entah apa yang diinginkan oleh pemerintah. Jika memang ulama dilarang untuk berpolitik seharusnya pemerintah juga konsekuen untuk tidak menggandeng ulama sebagai cawapres pada Pemilu mendatang.

Ulama Wajib Berpolitik

Ulama sebagai panutan umat yang merupakan pewaris nabi adalah seseorang yang dipercaya umat untuk menyampaikan hal-hal terkait agama. Namun tidak cukup hanya berceramah mengenai soal agama, ulama juga wajib menyampaikan apa yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Karena Urusan Agama harusnya mengatur seluruh aspek kehidupan.

Tidaklah cukup Islam yang hanya mengatur urusan ibadah saja. Karena Islam adalah agama yang sempurna mengatur hubungan manusia dengan Tuhan yaitu aqidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri yaitu makanan minuman, pakaian, dan akhlak. Serta mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya berkaitan dengan muamalah dan uqubat.

Politik di dalam Islam bermakna riayatul as-suunil ummah atau pengaturan urusan umat. Politik tidak hanya berkaitan dengan Pilpres, dan Pilkada. Namun lebih dari itu politik adalah untuk mengatur seluruh urusan umat baik, yang berhubungan dengan ekonomi, kesehatan, hukum dan sanksi.

Begitu pula dengan urusan kepemimpinan. Wajib hukumnya untuk memilih pemimpin muslim yang jujur dan amanah. Tidak hanya sekedar muslim, namun harus memenuhi syarat-syarat seorang pemimpin. Dan pemimpin yang ditaati adalah pemimpin yang menjalankan amanah kepemimpinannya berdasarkan aturan Allah SWT.


Ulama sebagai sebagai pewaris nabi, wajib untuk menyampaikan dakwah sesuai dengan metode dakwah Rasulullah saw. Bersikap tegas dalam menyampaikan kebenaran. Tidak bermuka dua. Tidak basa-basi. Dan tidak pula takut untuk dimusuhi. Seorang ulama tidak boleh dekat dengan penguasa untuk mencari kedudukan. Apalagi menjual agama demi kursi kepemimpinan.

Sebagai contoh, para shahabat ketika diminta untuk menjadi Khalifah pengganti Khalifah sebelumnya, mereka tidak bersukur karena senang mendapatkan jabatan. Sebaliknya, mereka menganggap menjadi pemimpin adalah suatu bencana. Pemimpin yang dipilih adalah mereka yang tidak haus akan dunia. Bukan pula orang-orang yang sengaja meminta untuk diberi jabatan, yang dekat dengan pembenci Islam dan menjadikan Islam sebagai bahan ejekan mereka.


 "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permaianan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang kafir sebagai wali (pemimpinmu). Dan bertakwalah kepada Allah jiika kamu betul-betul orang-orang yang beriman." (QS. Al-Maidah [5]: 57). 


Dengan demikian, ulama harus paham tentang politik. Ulama wajib menyampaikan kebenaran Islam tanpa ada yang ditutup-tutupi. Meski orang-orang kafir dan munafik tidak menyukai. Ulama tidak hanya mengurusi masalah ibadah semata. Karena Islam adalah agama yang sempurna. Tidak hanya mengatur urusan ibadah dan akhlak semata, melainkan mengatur segalanya termasuk urusan pemerintahan. Dimana hal ini tidak akan terlepas dari aktivitas politik. Wallahu alam bish-shawab. 






This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.