Ulama, Dilarang Bicara Politik?

Hot News

Hotline

Ulama, Dilarang Bicara Politik?



Oleh : Iyatia Yulian

Masih hangat dalam ingatan pembatalan kajian-kajian para ustadz di beberapa daerah seperti ustadz sosmed Felix Siauw di Bangil, ustadz Adi Hidayat di Puri Cinere dan yang terbaru ustadz Abddul Somad di Jepara. Dalihnya beragam, mulai ustadz berfaham radikal atau karena panitia menggunakan atribut bertuliskan kalimat tauhid timbul isu ditunggangi suatu ormas hingga pelarangan berbicara politik.


Seperti yang dikutip dari CNN Indonesia, bahwa Kapolres Metro Tangerang Selatan AKBP Ferdy Irawan mengatakan pihaknya sejauh ini sudah menerima informasi yang disampaikan pihak panitia penyelenggara. Meski demikian belum ada surat pemberitahuan secara resmi yang disampaikan. "Yang jelas kami sudah ingatkan panitia agar dalam ceramah jangan ada membahas politik, murni masalah keagamaan. Kalau acara keagamaan pasti kita berkenan izin dengan catatan tidak ada politik praktis," tutur Ferdy.


#Ulama Dalam Islam

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ulama adalah orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama. Kata ulama berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak dari kata ‘aalim. ‘Aalim adalah isim fa'il dari kata dasar:’ilmu. Jadi ‘aalim adalah orang yang berilmu dan ‘ulama adalah orang-orang yang punya ilmu.


Ulama: al-`Ulamā`, atau bentuk tunggalnya ʿĀlim adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti, kemudian arti ulama tersebut berubah ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama, (Wikipedia).


Islam lahir bukan hanya sekedar agama melainkan juga peraturan yang menyangkut 3 aspek kehidupan, yaitu: 
Pertama, Hablum minnalloh, atau hubungan antara manusia dengan Rabbnya menyangkut hubungan ibadah
Kedua, Hablum minnas hubungan antara manusia dengan sesama manusia menyangkut sosial, sanksi atau uqubat termasuk politik
Dan yang ketiga hablum minnanafsy atau hubungan manusia dengan dirinya sendiri menyangkut cara berpakaian, jujur, dan amanah. 


Miris, jika ulama dilarang bicara politik sama halnya dengan menolak sebagian aturan Islam yang pada hakikatnya tak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. 
Politik dalam Islam ialah mengurusi urusan masyarakat, penguasa yang menerapkan sistem peraturan dan masyarakat termasuk ulama berperan sebagai pengontrol dan pengkoreksi penguasa. Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin mengatakan, “Tradisi ulama adalah mengoreksi penguasa untuk menerapkan hukum Allah. Kerusakan masyarakat adalah akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa itu akibat kerusakan ulama.”


Tak bisa dipungkiri, pelarangan ulama berbicara politik adalah efek dari sekulerisasi masif yang menyingkirkan peranan agama dari kehidupan. Sekulerisme menjadi candu yang melenakan penguasa juga masyarakat sehingga mereka semakin jauh dari agamanya. Sementara Islam sangat menghargai peran ulama, sebagaimana firman Allah. "Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberikan ilmu (ulama) beberapa derajat" (QS. Al-Mujadalah: 11)


Oleh sebab itu, kembali pada aturan Islam. Kembalikan peranan ulama sebagai pendidik masyarakat adalah suatu kewajiban untuk mencerdaskan masyarakat. Dan dengan tercerdaskannya masyarakat akan memimalisir kerusakan masyarakat. Penguasa harusnya tak alergi akan politik Islam karena Islam adalah satu-satunya agama serta ideologi dari sang Khaliq untuk keselamatan hidup manusia. Wallohu a'lam. 


Penulis  Aktivis Muslimah dan Anggota Komunitas Nulis Revowriter
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.