Utang Luar Negeri Memberatkan Negara

Hot News

Hotline

Utang Luar Negeri Memberatkan Negara




Oleh : Siti Aisyah

           Di tengah euforia Asian Games yang diadakan dari pertengahan bulan Agustus kemarin, fokus masyarakat Indonesia seakan terhenti hanya pada satu titik dalam meraih prestasi anak bangsa . Berbeda halnya dengan kondisi perekonomian Indonesia yang berada pada keadaan sulit. Seperti disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani  dalam konferensi pers RAPBN 2019 yang diadakan di Media Center Asian Games 2018 Jakarta Convention Center (JCC), Kamis 16/8/18. Beliau menuturkan tahun depan Indonesia sudah memasuki waktu jatuh tempo utang  yang cukup tinggi yaitu sekitar Rp. 409 Triliun.

          Tingginya biaya utang tersebut menurut Sri Mulyani masih dalam kondisi aman karena rasio utang masih berada pada level di bawah 30%  terhadap domestic bruto (PDB)  dan pemerintah akan terus menjaga kestabilan rasio tersebut agar tetap tidak melampaui dr batas maksimal standarnya yaitu 60%. Serta dikatakan pula jika kondisi utang Indonesia masih lebih baik dari Negara Jepang dan AS. Sedangkan jika kita ketahui Jepang memiliki sistem pajak dan pertahanan ekonomi yang kuat dari domestic perusahaan dalam negeri. Begitu pula AS yang mempunyai mata uang dollar yang menjadi mata uang kendali internasional saat ini.
          Disusul kemudian anjloknya nilai rupiah pada akhir Agustus kemarin menjadi Rp. 14.700 akan memberikan pengaruh negatif tambahan bagi perekonomian Indonesia. Jika mengingat bahwa mayoritas utang pemerintah Indonesia dalam bentuk dollar maka jelas lemahnya nilai rupiah akan semakin menambah berat beban utang Indonesia. Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah berbahaya. Pemerintah seharusnya tidak menganggap enteng. Sebab depresisi rupiah yang terus melemah merupakan pemicu krisis moneter. 

Fakta terakhir bahwa sampai dengan akhir 2018 pemerintah akan melakukan tutup lubang gali lubang, alias akan membayar bunga utang dengan utang kembali. Dalam Islam bunga adalah haram. Perekonomian yang dibangun atas dasar pajak yang menjadi pemasukan terbesar bagi suatu negara tidak akan mampu untuk membangkitkan perekonomian secara riil dan berkelanjutan. Sampai kapan Indonesia mampu membayar pokok utang yang ada. Sedangkan persentase kondisi kemiskinan dalam negeri oleh data BPS sendiri mengalami penurunan terendah sejak tahun 1999. Berarti kondisi saat ini Indonesia berada pada kewaspadaan.

Melihat perekonomian Indonesia saat ini seharusnya pemerintah harus bisa mencari jalan keluar. Dan cara pertama untuk dapat melunasi utang negara selain dari hasil pemungutan pajak yaitu dengan memaksimalkan pengelolaan potensi SDA dengan kualitas SDM yang ada. Sejalan dengan pengelolaan ekonomi negara dalam syari’at Islam. Dimana negara tidak bertumpu pada pemungutan pajak kepada rakyat namun fokus pada pengelolaan umum SDA yaitu berupa padang rumput, api dan laut dikelola untuk kemaslahatan rakyat dan negara Islam seperti disebutkan dalam Pasal 33 UUD 1945  yang berarti kepemilikan swasta atau perorangan tidak diperbolehkan.

Jadi, dapat disimpulkan sebenarnya peraturan perundang-undangan Indonesia dalam pasal 33 tahun 1945 sejalan dengan syari’at islam dan inilah satu-satunya jalan bagi Indonesia untuk membangkitkan kesejahteraan negaranya. Melepaskan diri dari jerat utang yang semakin mencekik sehingga dapat berdiri dengan sistem ekonomi mandiri. Lepas dari pihak yang mengincar kekayaan Indonesia dan berujung tunduk dengan kepentingan mereka. Naudzubillah tsumma naudzubillah.


Penulis Mahasiswa dan Aktivis Lembaga Dakwah Forum Studi Al-Qur’an Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.