Bangga Mengusung Panji Rasul

Hot News

Hotline

Bangga Mengusung Panji Rasul




Oleh : E.M. Imami, S.si 
(Anggota Revowriter)

Sungguh, besok aku akan menyerahkan ar-raayah (panji) ini kepada seorang laki-laki yang ditangannyalah Allah memberikan kemenangan, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya”.
(HR. Bukhari).

Hadist tersebut merupakan sabda Rasul Saw. pada peristiwa Perang Khaibar. Para sahabat gembira mendengar kabar ini. Mereka penasaran dan menduga-duga, siapa gerangan di antara mereka yang mendapat kehormatan diserahi ar-raayah (panji) tersebut. Bagi para sahabat, mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya adalah perjuangan sepanjang hayat. Meraih kemenangan atau syahid dalam membela Islam adalah cita-cita tertinggi hidupnya. Maka tak heran semua berharap ar-raayah (panji) akan diberikan kepadanya. 

Siapakah sahabat yang mendapat kemuliaan membawa ar-raayah (panji) itu? dilanjutkan dalam riwayat tersebut, pada pagi hari itu para sahabat bergegas untuk berkumpul di hadapan Rasul Saw. Rasul Saw. bertanya, “Dimanakah Ali?” Meraka menjawab, “Dia sedang sakit mata, sekarang berada di perkemahannya.” Rasul Saw mengatakan, “Panggillah dia.” Maka mereka memanggilnya. Ali radhiallahu ‘anhu datang dalam keadaan sakit mata (trahom). Rasul Saw. meludahi matanya dan sembuh seketika, seakan-akan tidak pernah merasakan sakit. Beliau menyerahkan ar-raayah (panji) dan berwasiat kepadanya, “Ajaklah mereka kepada Islam sebelum engkau memerangi mereka. Sebab, demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah seorang di antara mereka lewat tanganmu maka sungguh itu lebih baik bagimu dari pada onta merah.

Sungguh menakjubkan, ar-raayah (panji) menjadi dambaan para sahabat untuk bisa mengusungnya. Karena membawa panji atau bendera Rasul Saw. merupakan keutamaan dan kemuliaan paling tinggi yang akan diabadikan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Seperti apakah panji atau bendera Rasul Saw itu?

Sebagaimana hadist penuturuan Ibnu Abbas ra.:
كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاءُهُ أَبْيَضَ مَكْتُوْبٌ فِيْهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
Rayah (panji) Rasulullah saw berwarna hitam dan Liwa’ (bendera) beliau berwarna putih; tertulis disitu lâ ilâha illa AlLâh Muhammad RasûlulLâh (HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlâq an-Nabiy saw).

Panji tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah saw. Kelak pada hari kiamat panji ini disebut sebagai Liwa` al-Hamdi. Rasulullah saw. bersabda:
«أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ وَبِيَدِى لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ وَمَا مِنْ نَبِىٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَائِى...»

Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan tidak ada kesombongan. Di tanganku ada Liwa` al-Hamdi dan tidak ada kesombongan. Tidak ada nabi pada hari itu Adam dan yang lainnya kecuali di bawah Liwa’-ku (HR at-Tirmidzi).

Lantas bagaimana dengan realitas saat ini? Selayaknya para sahabat, sebagai muslim seharusnya kita juga memiliki cita-cita yang sama. Meninggikan kalimatulloh dalam panji-panji Rasul Saw. Bukan sebaliknya, masih banyak umat yang asing dengan panji Rasul Saw. karena tak tahu. Mudah terhasut stigmatisasi negatif, seperti ujaran itu bendera teroris karena tak mengerti. Membenci karena terfitnah, hingga berani dengan sengaja merampas, bahkan membakar dengan alasan demi menjaga persatuan. Oleh karena itu, menjadi kepentingan bersama untuk mengenal dan mengenalkan panji Rasul Saw. ditengah-tengah umat. Karena panji Rasul Saw. adalah panji kita bersama umat Islam. Bukan panji sebuah golongan untuk ashobiyah. 

Para pembenci-pembenci Islam telah mencurahkan kekuatan untuk menjauhkan umat Islam dari Islam itu sendiri. Mereka menciptakan kegaduhan di tengah-tengah umat Islam, mencerai beraikan persaudaraan yang terikat aqidah Islam. Hingga berhasil mengadu domba umat Islam. Seperti menghalang-halangi aktivitas mengenalkan panji Rasul Saw. dengan tuduhan bahwa itu aktivitas membahayakan keutuhan negara dan mengancam persatuan umat. Salah besar, justru panji Rasul Saw adalah pemersatu kehidupan umat di dunia dan akhirat. 

Sebagaimana Imam Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan rahasia tertentu yang ada dibalik bendera, yaitu jika suatu kaum berhimpun di bawah bendera, artinya bendera itu menjadi tanda persamaan pedapat (ijtima’i kalimatihim) dan juga tanda persatuan hati mereka (ittihadi quluubihim). Dengan demikian, kaum itu akan menjadi bagaikan satu tubuh (ka al-jasad al wahid) dan akan terikat satu sama lain dalam ikatan yang bahkan jauh lebih kuat daripada ikatan antar saudara yang masih satu kerabat (Abdul Hayyi Al-Kattani, ibid., Juz 1, hlm. 266)

Sungguh miris, jika harus berhadapan dengan saudara sendiri. Saudara seiman, tidakkah mereka lihat dalam panji tersebut termaktub kalimat tauhid yang harus dimuliakan dan merupakan simbol keimanan. Maka bentuk penghadangan bagi berkibarnya panji-panji Rasul Saw. termasuk tindakan kemungkaran, bahkan dapat terkaterogi penghinaan. Apalagi dilakukan dengan cara-cara preman, melakukan intimidasi terhadap para pengusungnya, merampas panji-panji Rasul dengan tindakan arogan dan bringas hingga terjadi pemukulan. 

Wahai saudaraku, bukankah Rasul Saw. kita sama? maka apa yang dibawa oleh Rasul Saw. harusnya kita terima dan apa yang dilarang Rasul mari kita tinggalkan bersama. Sebagaimana firman Allah SWT.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

Dan apa yang diberikan Rasul (Shallallahu ‘alaihi wasallam) kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Q.S. Al-Hasyr : 7)
Mari kita duduk bersama, saling menasihati dalam kebaikan, mengeratkan ikatan persaudaraan dan berjuang bersama untuk kejayaan Islam. Mengibarkan tinggi-tinggi ar-rayaah Panji Rasul Saw. dan menjaganya. Sebagaimana keutamaan yang telah diraih oleh sahabat Rasul Saw. yang sungguh-sungguh telah menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya.

Wahai saudaraku, janganlah kita terhasut pembenci-pembenci Islam. Terperosok menjadi bagian penghalang-penghalang berkibarnya panji Rasul Saw. di muka bumi ini. Ingatlah perkataan Ibnul Qoyyim ra. ”Wakil-wakil iblis di muka bumi adalah mereka yang menghalang-halangi manusia menuntut ilmu dan berusaha memahami agama, maka mereka itu lebih berbahaya bagi manusia dari setan-setan jin, karena mereka memalingkan hati-hati manusia dari petunjuk Allah swt dan Jalan-Nya. (Miftah Daris Sa’adah,1/160).

Sungguh, hanya kepayahan dan kesia-siaan bagi para pembenci, karena telah nyata kehidupan para penentang dakwah berakhir sengsara. Di samping itu Allah SWT telah wanti-wanti agar kita tidak membela orang yang berkhianat .
وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا (١٠٥)
dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat (QS An-Nisaa’: 105)

Hadangan tak akan menyurutkan langkah. Memilih menepi bukan berarti berhenti atau malah berlari berbalik arah karena ketakutan. Berdiri tegap tanpa takut kepada celaan orang yang suka mencela. Sebagaimana telah Allah SWT tegaskan dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [المائدة : 54]

Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.(QS Al-Maaidah: 54).


Editor : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.