Gawai Di Tangan Remaja Lalai

Hot News

Hotline

Gawai Di Tangan Remaja Lalai



Oleh Lulu Nugroho


Beragam media sosial yang marak belakangan ini, benar-benar menjadi kebutuhan bagi umat. Tua muda aktif berselancar di dunia maya. Sebagai sarana komunikasi, memangkas jarak yang jauh. Terhubung dengan siapapun, kapanpun, dimanapun menjadi sangat mudah. Selain itu, sebagai wadah untuk menuntut ilmu. Sehingga tanpa perlu beranjak dari rumah bisa mempelajari banyak hal melalui kelas-kelas daring. Tidak hanya itu, mengakses informasi pun sangat mudah menggunakan media sosial. Maka tidak salah jika dikatakan bahwa dunia ada dalam genggaman.

Akan tetapi fenomena yang terjadi baru-baru ini sangat memprihatinkan. Facebook sebagai salah satu media sosial digunakan untuk interaksi maksiat. Melawan Allah dengan melakukan hubungan sesama jenis. Hal ini terjadi pada warga Kabupaten Garut ketika beberapa hari ini dibuat heboh dengan terungkapnya keberadaan grup Facebook gay siswa SMP/SMA di Garut. Screenshot laman grup FB tersebut menyebar di berbagai grup aplikasi pesan WhatsApp beberapa hari ini, Kompas.com (6/10). 

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna ketika dimintai tanggapan soal keberadaan grup Facebook tersebut mengaku sudah menerima informasi akan hal itu. Dia pun akan melakukan penyelidikan mencari orang-orang di balik grup tersebut. Soni MS, Ketua Garut Education Watch mengaku prihatin atas fenomena ini. Apalagi, jumlah anggota di grup tersebut sudah mencapai 2600 orang lebih.

Grup serupa muncul juga di Kabupaten Tasikmalaya. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Tasikmalaya, Edeng Zainal Abidin mengatakan pihaknya akan mendampingi KPAID melapor ke kepolisian. "Hari ini kami mendampingi KPAID, MUI, FKUB bersama-sama ke aparat penegak hukum, bagaimana langkah-langkah yang akan dilakukan ke depan. Untuk pencegahan supaya virus ini tidak menyebar lebih jauh lagi, tindakan-tindakan preventif," katanya, Tribunjawabarat.id (10/10).

Solusi Liberalisme

Gambaran kelabu pada generasi putih biru dan abu-abu. Institusi keluarga dan sekolah, adalah yang lebih dulu dituntut melakukan tindakan prefentif dan kuratif. Mendidik dan mengarahkan anak-anak menjadi pribadi salih salihah sejatinya terus dilakukan keluarga muslim. Akan tetapi upaya tersebut tidak akan membuahkan hasil yang maksimal jika kerusakan yang ada dalam masyarakat bersifat sistemik. Tanpa perlu keluar rumah, anak-anak salih dan salihah hasil bentukan orangtua, seketika mudah terpapar konten porno melalui media.

Begitu pun terjadi di dalam sekolah. Solusi mendesak yang dilakukan oleh pihak sekolah, belum menyentuh akar permasalahan. Sebab ketika sekolah diminta berkoordinasi dengan guru Bimbingan dan Pengawasan (BP) untuk melakukan tindakan pengawasan terhadap siswa yang berperilaku tidak wajar, jelas sulit dilakukan. Karena peluang untuk berperilaku tidak wajar tadi, ada dalam genggaman siswa.  Perilaku bebas yang dilegalkan akan mempengaruhi kepribadian generasi remaja muslim.

Petugas keamanan pun sama. Tanpa payung hukum yang jelas, sulit memberantas kelompok gay yang akan segera tumbuh subur bagai cendawan di musim hujan. Karena kini yang terjadi, bukannya mereka jera, tapi malah bermunculan grup serupa di berbagai kota. Oleh sebab itu perlu untuk merombak secara total hukum buatan liberal yang mengakomodir kebebasan. Kemudian menggantinya dengan hukum lain yang lebih tegas. Sehingga tak ada satu celah kecil pun peluang untuk pelanggaran.

Sejauh ini Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak menganggap perbuatan homoseksual sebagai suatu tindakan kriminal; selama tidak melanggar hukum-hukum lain yang lebih spesifik; antara lain hukum yang mengatur mengenai perlindungan anak, kesusilaan, pornografi, pelacuran, dan kejahatan pemerkosaan. Perbuatan homoseksual tidak dianggap sebagai tindakan kriminal, selama hanya dilakukan oleh orang dewasa (tidak melibatkan anak-anak atau remaja di bawah umur), secara pribadi (rahasia/tertutup, tidak dilakukan di tempat terbuka/umum, bukan pornografi yang direkam dan disebarluaskan), non-komersial (bukan pelacuran), dan atas dasar suka sama suka (bukan pemaksaan atau pemerkosaan), Wikipedia.

Pada saat yang sama, kelompok gay merasa perbedaan orientasi seksual yang mereka jalani perlu mendapat ruang di negeri ini. Ketidaktegasan sikap penguasa untuk melindungi atau melarang aktivitas mereka, membuat mereka seolah jengah. Dengan dalih kebebasan berekspresi, atas nama hak asasi manusia, mereka menuntut perlindungan. Maka saat ini mereka tampak lebih berani, mengekspresikan perbedaannya di khalayak ramai. Yang semula sembunyi-sembunyi, kini secara terbuka dan terang-terangan menuntut haknya. Maka perlu kekuatan yang lebih besar dibanding kekuatan keluarga dan sekolah untuk menghalangi remaja dari bermaksiat kepada Allah

Solusi Islam

Dalam Islam gawai atau telepon seluler atau telepon pintar adalah bersifat madaniyah. Kaum muslim boleh menggunakannya. Hanya saja, syara' akan melarang ketika benda madaniyah tersebut dipakai untuk aktivitas maksiat. Mengakses konten porno, jelas dimurkai Allah. Begitu juga ketika melalui gawai tersebut ada aktivitas lanjutan seperti membentuk klub gay atau yang semisal. Oleh sebab itu penguasa dalam sistem Islam akan melarang masuknya konten porno. Sehingga pornografi dan pornoaksi tidak mendapat ruang dalam area pribadi seorang muslim.

Media sosial pun boleh digunakan. Akan tetapi ketika dilakukan untuk kemaksiatan, seperti facebook gay jelas bertentangan dengan Islam. Berbeda halnya ketika kita gunakan facebook untuk silah ukhuwah, menyebarkan dakwah, memperkuat ikatan antara sesama muslim dan menyebarkan tsaqofah Islam. Era digital yang semakin maju dengan berbagai inovasi, memberi pengaruh positif bagi umat. Jika digunakan dengan cara yang tepat, maka media sosial tersebut akan bermanfaat bagi kebangkitan umat.

Sungguh perkara kebangkitan adalah merupakan pekerjaan rumah (PR) kita bersama. PR umat. Sebab membiarkan umat tenggelam dalam aktivitas sia-sia tanpa makna, bukan hanya menjadikan kita sebagai 'umat buih di lautan', akan tetapi juga mengundang murka Allah. Sebagaimana dinyatakan dalam hadits: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat yaitu diangkatnya ilmu dan kebodohan nampak jelas, dan banyak yang minum khamar dan banyak orang berzina secara terang-terangan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perilaku suka sesama jenis sangat dibenci dalam Islam. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, beliau sampaikan sampai tiga kali ” (Dihasankan Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth). Maka penerapan hukum yang tegas akan menumpas tuntas aktivitas maksiat yang akan menyebar di masyarakat.

Dalam hadits lain dengan tegas dikatakan “ Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya” (HR Tirmidzi dan yang lainnya dishahihkan Syaikh Al-Albani). Inilah Islam. Hukum buatan Ilahi tak pernah berubah, sekalipun masa dan tempat berganti. Terhadap pelaku kelompok gay hukumnya tetap yaitu hukuman mati. 

Solusi liberalisme sampai kapanpun tidak akan tepat bagi umat. Tidak mampu menyelesaikan permasalahan sampai ke akarnya. Justru akan membuat persoalan semakin buruk dan masalah-masalah baru bermunculan membelit kehidupan umat. Sinergi antara keluarga, sekolah, pihak keamanan dan negara akan membuahkan hasil jika kita tanggalkan seluruh aturan yang bersumber dari liberalisme. Maka sudah saatnya kembali pada aturan Islam, satu-satunya solusi sahih bagi seluruh persoalan umat. Al Islaamu ya'lu wa laa yu'la alihi.


Editor: Dwi R

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.