Investasi Meluber, Berkah Bergeser

Hot News

Hotline

Investasi Meluber, Berkah Bergeser


Oleh: Rut Sri Wahyununingsih.


Investasi atau Merugi?

Pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018 yang diselenggarakan di Bali telah selesai, seluruh rangkaian kegiatan pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional, International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) berakhir pada Minggu (14/10). 

Pemerintah menyampaikan bahwa Indonesia sebagai tuan rumah memperoleh tujuh manfaat berupa bantuan bencana, kesepakatan investasi, dukungan untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), teknologi, kerja sama bilateral terkait devisa, pengenalan Green Sukuk, hingga kesempatan untuk menjelaskan ketahanan ekonomi domestik. (amp.katadata.co.id/14/10/2018).

Sri Mulyani menjelaskan bahwa infrastruktur merupakan salah satu topik utama yang dibahas dalam sidang tahunan ini. Indonesia masuk dalam daftar negara yang paling layak untuk berinvestasi. Di luar itu, Indonesia juga mengajukan diri sebagai pelopor (early adopter) dalam program Human Capital Index (HCI) yang diluncurkan oleh Bank Dunia. Dari kajian tersebut, Indonesia memperoleh skor 0,53 atau berada di urutan ke-87 dari 157 negara. 

Harapannya, peringkat Indonesia sebagai negara yang layak investasi bisa stabil atau bahkan meningkat. Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan Bank sentral Singapura, Monetary Authority of Singapore (MAS) terkait swap dan repo senilai USD 10 miliar guna mempertebal bantalan cadangan devisa. Mirza menjelaskan bahwa kesepakatan ini untuk mengantisipasi ketidakpastian ekonomi global. Kemudian pengenalan alternatif instrumen pembiayaan berbasis syariah berupa Green Sukuk. Langkah tersebut juga akan memperluas dan memperdalam inklusi keuangan di Indonesia.

"Kerja sama bilateral swap ini untuk menghadapi efek Game of Thrones yang tidak mudah ini," katanya. 

Utang Luar Negeri Terus Menumpuk.
Pada prinsipnya, investasi yang dijanjikan untuk Indonesia selama ajang IMF-Bank Dunia dapat dikategorikan sebagai utang, yaitu Utang Luar Negeri (ULN). Kondisi ULN Indonesia sendiri sebelumnya sudah sangat tinggi, jika dibandingkan dengan jumlah ULN pada akhir 2014 (awal pemerintahan Jokowi-JK) ULN Indonesia sebesar US$ 293.328. 

Statistik ULN Indonesia pada bulan Oktober 2018 yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa akhir bulan Agustus 2018 total ULN Indonesia sebesar USD 360,7 miliar atau Rp 5.410,86 triliun, artinya, dalam jangka waktu 3 tahun 8 bulan, ULN Indonesia naik menjadi USD 67,3 miliar. Hal tersebut merupakan karakter ekonomi neoliberal yang sangat tergantung pada utang dan menganggapnya sebagai sebuah kebaikan atau prestasi. Padahal, meski atas nama investasi, utang negara jelas sangat berbahaya bagi kedaulatan bangsa dan negara di masa depan. 

Bahaya Penumpukan Utang

Terus membengkaknya utang, baik UDN maupun ULN akan membebani pembayaran cicilan pokok dan bunganya. Utang pemerintah yang jatuh tempo pada tahun ini mencapai Rp 398 triliun. Tahun depan mencapai Rp 409 triliun. Totalnya mencapai Rp 807 triliun ( iNews.id/20/8/2018). 

Bisa dibayangkan berapa banyak kas negara (APBN) yang akan tersedot di setiap tahunnya untuk membayar utang yang semakin tahun semakin meningkat. Meskipun ada yang berpendapat selama rasio terhadap PDB masih kisaran 30%, tetap saja beresiko. Bisa-bisa kita akan bernasib sama dengan negara Zimbabwe yang gagal membayar utang kepada negara China sebesar USD 40 juta. Sejak 1 Januari 2016, mata uangnya harus diganti menjadi Yuan sebagai imbalan penghapusan utangnya. Sebut pula Srilanka, Nigeria, dan Pakistan yang telah menerima akibat dari pembiayaan infrastruktur dengan cara utang.

Islam Solusi Paripurna

Utang negara pastinya akan merugikan negara yang bersangkutan cepat atau lambat. Terlebih, ULN ini berbasis riba, yang artinya akan mengundang azab dari Allah swt.  Rasulullah saw telah mengingatkan dalam ( HR al- Hakim , al-Baihaqi dan ath- Thabrani), 

Jika zina dan riba telah tersebar luas di satu negeri, sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan azab Allah bagi diri mereka sendiri. 

Indonesia dan negara-negara yang beragama Islam memungkinkan untuk lepas dari ketergantungan utang jika mau menanggalkan sistem kapitalis dan beralih pada  sistem Islam. Karena perekonomian yang dibangun di atas pondasi riba tidak akan pernah stabil. Akan terus goyah, bahkan akan jatuh dalam krisis yang berulang-ulang. 

Akibatnya kesejahteraan dan kemakmuran yang merata untuk masyaratkat serta kehidupan yang tenteram akan jauh. Untuk itu, dibutuhkan kepemimpinan yang mengadopsi Islam ideologis dan rakyat yang berkesadaran Islam ideologis, yaitu kembali pada syariah Islam, agar bangsa ini dilimpahkan keberkahan. Sangat penting untuk menggencarkan dakwah kepada umat Islam sebagai sebuah ideologi sekaligus membongkar kebobrokan dan bahaya sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan. Tidak ada yang sempurna . Wallahu a'lam biashowwab.


Penulis adalah Pengasuh Grup Online BROWNIS
Editor: Rika 

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.