Islam Menjaga Martabat Perempuan

Hot News

Hotline

Islam Menjaga Martabat Perempuan



Oleh: Sarinah Aulia

Perempuan merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah. Hadirnya perempuan di dunia bukanlah tanpa alasan. Karena sesungguhnya dari perempuan-perempuan itulah lahir para generasi yang akan memajukan negeri ini. Sungguh status perempuan sangatlah istimewa, jadi beruntunglah anda yang terlahir sebagai perempuan. Akan tetapi, kaum perempuan selalu diidentikkan dengan kaum nomor dua setelah laki-laki. Banyak yang beranggapan bahwa laki-laki lebih baik dari perempuan. Namun sejatinya, dalam pandangan islam laki-laki dan perempuan itu sama saja di hadapan Allah, yang membedakannya adalah ketakwaan. Siapa yang paling bertakwa itulah yang mulia di hadapan Allah. Tapi hal ini tidak terjadi di zaman jahiliyah sebelum datangnya Islam. Pada masa itu wanita hanya dianggap sebagai alat pemuas nafsu laki-laki saja. Tetapi pada saat datangnya Islam, Islam begitu menjaga martabat seorang perempuan salah satunya dengan adanya aturan untuk menutup aurat.

Bagaimana dengan keadaan saat ini? Ternyata banyak dari masyarakat saat ini yang menganggap bahwa kaum perempuan masih dinomor duakan setelah laki-laki. Mereka mengatakan bahwa masih banyak kebijakan pemerintah yang begitu diskriminatif terhadap perempuan. Sebagaimana yang dikutip pada laman www.voaindonesia.com, pada tanggal 12 Juli 2017, selama tujuh tahun melakukan pemantauan, sejak tahun 2009 hingga 2016, Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menemukan ada 421 kebijakan diskriminatif yang dikeluarkan pemerintah daerah. Kebijakan diskriminatif tersebut telah membatasi ruang gerak perempuan dan kelompok-kelompok minoritas. Kebijakan diskriminatif itu, diantaranya mengharuskan perempuan mengenakan jilbab, larangan keluar malam dan juga pembatasan terhadap kelompok-kelompok minoritas agama seperti Syiah, Ahmadiyah dan kelompok-kelompok lainnya.

Dari fakta di atas yang sangat disayangkan adalah kesalahan dari pemahaman Komnas Perempuan, yang menyatakan bahwa aturan memakai jilbab bagi perempuan, serta perempuan tidak boleh keluar malam kecuali bersama mahramya adalah salah satu bentuk kebijakan diskriminatif terhadap perempuan. Padahal sejatinya, dulu aturan untuk menutup aurat adalah salah satu cara Allah menjaga kehormatan perempuan muslimah. Dan jelas pernyataan tersebut tidak dibenarkan dalam Islam karena telah menampikkan aturan Islam tentang wanita. Beginilah keadaan perempuan saat ini, mereka telah melupakan kehormatannya sebagai perempuan. Mereka saat ini berani untuk mengkritik aturan Islam yang mereka anggap hal tersebut mengekang kebebasan mereka.

Keadaan seperti ini tentu tak lepas dari sistem yang diterapkan saat ini, yakni sistem kapitalisme. Dalam sistem kapitalisme perempuan dijadikan salah satu komoditi yang bisa diperjualbelikan. Contohnya saja banyak sekali iklan-iklan di televisi yang menampilkan artis perempuan. Iklan sebuah handphone saja harus menampakkan perempuan. Padahal laki-laki pun juga bisa melakukannya. Selanjutnya kontes-kontes kecantikan begitu banyak saat ini bahkan menyebar ke kontes kecantikan perempuan muslimah. Padahal sejatinya, dalam Islam perempuan tidak boleh melakukan tabaruj. Sedangkan yang terjadi saat ini, perempuan seolah diharuskan untuk menjual dirinya untuk kebutuhan gaya hidup. Beginilah sistem saat ini mengeksploitasi kaum perempuan, mereka dipaksa untuk bekerja dan menyaingi laki-laki. Apalagi hal tersebut juga didukung dengan munculnya kaum feminisme yang selalu menyampaikan kesetaraan gender, mereka selalu menuntut akan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan. Apabila laki-laki boleh menjadi presiden, maka perempuan pun juga boleh melakukannya dan lain sebagainya.

Akibatnya perempuan banyak melalaikan kewajibanyan, salah satunya untuk mendidik anak-anaknya dan mengurus suaminya. Hal ini disebabkan karena mereka sibuk bekerja. Dan tak jarang kita banyak menemukan kasus perceraian sering terjadi saat ini, salah satunya disebabkan oleh hal ini. Apalagi jika gaji sang istri lebih besar daripada suami, mereka menganggap bahwa mereka mampu untuk mandiri, untuk apa harus menaati suami yang gajinya pas-pasan. Dari perceraian tersebut tentu juga akan berdampak pada anak. Sungguh ini merupakan masalah yang sistematis. Apabila kita ingin mengakhirinya maka harus dengan mencabut akar masalahnya, yaitu dengan menghilangkan sistem kapitalisme di negeri ini. Karena sumber masalah yang terjadi saat ini, tak lepas dari sistem yang salah saat ini.

Untuk itulah Islam hadir memberikan solusi terbaik bagi permasalahan yang ada. Salah satu masalah yang dipaparkan pada uraian sebelumnya. Sudah disampaikan bahwa dalam Islam laki-laki dan perempuan itu sama di hadapan Allah. Yang membedakannya adalah ketakwaan. Dan perlu ditekankan di sini bahwa sesungguhnya kita tidak perlu lagi ide kesetaraan gender. Karena dalam Islam, pembagian hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan sudah adil dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing. Jika laki-laki dibolehkan menjadi seorang pemimpin, sedangkan perempuan itu dilarang. Tetapi perempuan adalah seorang ibu yang akan melahirkan generasi para pemimpin. Sedangkan laki-laki tidak mendapatkan kemampuan itu. Beginilah Islam mengatur urusan laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang diskriminatif, karena aturan tersebut bersumber dari Allah yang menciptakan manusia. Dan tidak mungkin jika Allah menurunkan aturan yang membawa mudarat bagi manusia. Namun yang ada aturan yang bersumber dari-Nya adalah aturan yang memberikan kemaslahatan bagi semua makhluk ciptaan-Nya. Wallahu’alam bis showab.



Penulis Mahasiswi FISIP ULM Banjarmasin
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.