Ketika Adat Istiadat Berbenturan Dengan Syariat

Hot News

Hotline

Ketika Adat Istiadat Berbenturan Dengan Syariat



Oleh: Lilieh Solihah 


Sedih dan pilu hati ini ketika melihat dan mendengar berita akhir-akhir ini dengan musibah gempa dan tsunami yang menimpa kota Palu, Donggala dan Mamuju. Seakan bencana tiada berkesudahan. Belum juga usai penanganan gempa yang menimpa Lombok sebulan yang lalu. Kini datang bencana lagi menimpa kota Palu dengan memakan korban hingga ribuan, innalillahi wainnailaihi rojiun. 

Akses menuju kota Palu pun terbatas karena jalan yang sulit dicapai dan sebagian kota Palu yang sudah luluh lantak diterjang gempa tsunami sampai tanah yang bergeser. Belum lagi penjarahan yang dilakukan oleh beberapa orang, sungguh benar-benar mengganggu hati nurani kita.

Berkaca dari sering terjadinya bencana di negeri kita ternyata masih banyak adat istiadat nenek moyang yang masih kita jalankan meskipun tidak sesuai dengan syariat Islam. Tapi mereka menganggap bahwa warisan nenek moyang leluhur harus dilestarikan. Contoh seperti di Sulawesi Tengah dengan ritual penyembahan suku Kaili pada upacara adat Baliya Jinja mereka membuat sesajen yang isinya beras warna warni, telur ayam, gambir pinang, kapur sirih, tembakau dan setandan pisang. Kemudian sesajen ini dipersiapkan untuk dilarung ke laut bersama replika perahu dan sebagian lagi dibuang ke gunung. Ritual ini menjadi cara terampuh bagi masyarakat yang mengalami sakit parah dan mendambakan kesembuhan

Menurut Manopo tradisi ini memang sudah hampir punah. Karena itulah walikota Palu Hidayat bertekad menggalinya kembali dan menjadikan sebuah pergelaran rutin dalam festival budaya Nomoni setiap tahun sebagai salah satu objek wisata di kota Palu. Ini baru di Palu, Sulawesi, belum lagi di kota lain yang masih sama menjalankan ritual membuat sesajen yang hampir sama seperti di Palu. Demi menggaet pariwisata dan turis yang datang 

Memang pariwisata dimanfaatkan sebagai salah satu sumber perekonomian dengan memanfaatkan potensi keindahan alam baik yang alami maupun buatan. Dunia pariwisata dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan negara khususnya masyarakat setempat dan termasuk menggali kembali adat istiadat. Tapi dengan pariwisata yang menghidupkan kembali budaya lokal yang mengandung ajaran animisme dinamisme (kesyirikan) dengan alasan memiliki daya jual terbukti malah menuai bencana. Karena adanya bencana bisa sebagai bentuk ujian dan peringatan Allah SWT atas kerusakan dan kemungkaran yang merajalela oleh tangan-tangan manusia

Dalam Islam, objek wisata itu ketika melihat menikmati keindahan alam misalnya yang harus ditanamkan adalah kesadaran akan kemahabesaran Allah zat yang menciptakannya. Sedangkan ketika melihat benda bersejarah dari peradaban Islam yang harus ditanamkan ialah kehebatan Islam dan umat-Nya yang mampu menghasilkan produk madaniyah yang luar biasa. Obyek obyek ini bisa di gunakan untuk mempertebal keyakinan wisatawan yang melihat dan mengunjunginya akan keagungan Islam. 

Objek wisata ini juga bisa mengokohkan keyakinan mereka kepada Allah, Islam dan peradabannya. Sementara bagi yang non muslim obyek ini bisa digunakan sebagai sarana untuk menanamkan keyakinan mereka pada kemahabesaran Allah, di sisi lain juga untuk menunjukkan kepada mereka akan keagungan dan kemuliaan Islam. Jadi tidak perlu menampilkan lagi adat istiadat yang tidak sesuai dengan syariat dalam pariwisata 

Islam menerapkan seluruh hukumnya di dalam dan keluar negeri karena dengan begitu bisa mencegah kemungkaran di tengah-tengah masyarakat. Karena itu objek wisata ini juga bisa menjadi sarana dakwah. Karena manusia baik muslim maupun non muslim biasanya akan takjub dan tunduk ketika melihat keindahan alam. Tidak hanya dari pariwisata saja sumber perekonomian dalam Islam. Bisa dari pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Begitu sempurna dan paripurnanya aturan Islam, dirinci hingga ke aturan pariwisata. Jadi jauhkanlah adat istiadat yang tidak sesuai dengan syariat karena itu bisa menunaikan bencana. Wallahua'lam bish-shawab. 



Penulis Anggota komunitas revowriter Karawang
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.